-------------------
Minggu sore (14/3), penampilan Jaenal Ichwan masih menjadi magnet para penonton di Lapangan Petahunan, Gadingrejo. Kostum PSP Legend melekat di tubuhnya. Dia tampil dalam pertandingan segitiga (trofeo) antara tim dari Surabaya, guru-guru olahraga Pasuruan, serta PSP Legend. Trofeo itu adalah hiburan semata bagi Jaenal. Bukan saat mencari prestasi. Istilahnya, golek keringet.
Puncak karir Jaenal sudah tercapai saat menjadi pemain Timnas Garuda era 2002 hingga 2004. Begitu pula saat membela tim-tim teratas Liga Indonesia. Hingga akhirnya berlabuh ke Persekabpas pada 2015--2016.
Namun, skill bola Jaenal tidak lah luntur. Tendangan efeknya masih begitu dahsyat. Umpan-umpan silangnya pun tetap akurat. Di usia yang lebih dari 40 tahun, dia masih mahir dalam dribbling, passing, maupun shooting. Dan, tentu saja, cetak gol.
Insan bola Indonesia, lebih-lebih Jawa Timur, dan khususnya Pasuruan, akan selalu mengenang figur Jaenal sebagai pesepak bola profesional. Berbagai kejuaraan internasional pernah diikutinya bersama timnas Indonesia. Ia pernah mengantarkan salah satu klub yang dibelanya, Petrokimia Gresik, menjadi juara Divisi Utama pada 2002.
Kini, Jaenal memang telah pensiun sebagai pemain. Tapi, sepak terjang lelaki 44 tahun itu tidak pernah jauh dari sepak bola. Sekarang dia menjadi pelatih. Kepada Radar Bromo, dia bercerita seputar perjalanan karirnya.
Jainal lahir dari keluarga petani. Sejak kecil, dia hobi sekali main bola. Setiap pulang sekolah, Jaenal kecil langsung menuju sebuah lapangan dekat rumahnya. Berlama-lama di sana. Semua dilakukan dengan sukacita.
”Orang tua tidak pernah mengarahkan. Cuma karena hobi, saya rajin latihan. Mental saya terus berkembang karena diasah oleh para senior di kampung," ungkapnya.
Kelihaiannya mengolah bola diamati oleh tim Kecamatan Srono, Banyuwangi. Itu tempat tinggal asalnya. Jaenal muda lantas terpilih mewakili kecamatan untuk mengikuti pekan olahraga (porkab) Banyuwangi. Dia menjadi pencetak gol terbanyak dalam tiga kali kejuaraan. Selalu top score berturut-turut.
Lewat beberapa kali ikut seleksi, Jaenal berhasil masuk Persewangi pada 1997 di divisi satu. Sayang, dalam perjalanannya, dia mengalami cedera lutut parah. Terpaksa berhenti total selama enam bulan. Saat itu, seorang pelatih bernama coach Wiwit Teguh Santoso terus memompa semangatnya. "Setiap hari saya berlatih dan berhasil pulih,” ungkapnya.
Pada 1998, Jaenal dipanggil lagi oleh Persewangi sampai 1999. Pria kelahiran Mei 1977 ini lantas pindah ke klub Suryanaga Surabaya. Di sana, baru main pada pertandingan kelima, dia berhasil menjadi pencetak gol terbanyak liga amatir antarklub internal di Persebaya.
Pada 2000, Jaenal dipinjamkan ke Petrokimia Gresik yang tengah berkompetisi di divisi utama. Di Petrokimia dia bermain hingga 2002. Prestasi besar terukir karena tahun itu Petrokimia menjadi juara setelah mengalahkan Persita Tangerang di final.
Selama kompetisi tersebut, tercatat torehan 12 gol dari kakinya. Jaenal juga selalu menjadi pemain inti. Tanpa pernah diganti. Keberhasilan itu mengantarnya dipanggil pelatih Timnas Indonesia Ivan Kolev untuk memperkuat Indonesia di Piala Tiger (kini bernama AFF) pada 2002.
Timnas Indonesia berhasil melaju ke final. Namun, waktu itu gagal juara karena kalah adu penalti melawan Thailand. Selama piala Tiger, dia hanya bermain sekali sebagai pemain pengganti.
Jaenal juga sempat memperkuat timnas Pra Piala Dunia di Turkmenistan pada 2003. Lalu, timnas Piala Asia di Beijing pada 2004. Semuanya sangat berkesan. Mengapa? Karena memperkuat timnas adalah mimpi setiap pemain bola.
Selanjutnya, Jaenal Ichwan sempat memperkuat Deltras Sidoarjo pada 2004, Persija Jakarta (2005), Persita Tangerang (2006), Arema Malang (2007), dan PSS Sleman (2008). Kemudian main di Persema Malang (2009--2010), Persela Lamongan (2011), serta Persebaya Surabaya (2012). Pada 2014--2016, Jaenal kembali ke Persewangi selama dua tahun. Terakhir, pada 2016, dia bermain di Persekabpas dan pensiun.
Tetap Berkecimpung dengan si Kulit Bundar
Pensiun sebaga pemain, Jaenal Ichwan tidak benar-benar menghilang dari lapangan hijau. Dia berkarir sebagai asisten pelatih di sejumlah klub. Mimpinya kali ini adalah memunculkan bibit pemain berbakat asal Kota Pasuruan yang mampu menembus skuad Timnas Indonesia.
Saat pensiun pada 2016, Jaenal Ichwan langsung mengambil lisensi kepelatihan D nasional. Lalu, menjadi asisten pelatih tim liga tiga regional Jatim. Salah satunya, klub PSPK Pasuruan (2017—2018). Selanjutnya pada 2019 menjadi asisten di Persekap Kota Pasuruan. Kini sehari-hari sebagai asisten pelatih di Aris Budi Soccer Academy (ABSA).
”Saya dipercaya melatih anak usia 17 hingga 18 tahun,” sebut lelaki yang pernah mencalonkan diri menjadi legislator DPRD Kota Pasuruan pada Pileg 2019 itu. Sekarang Jaenal makin memantapkan diri terjun ke sepak bola lagi. Menjadi pelath. Dia berencana menaikkan lisensi kepelatihan menjadi C.
Namun, jujur saja, sebenarnya Jaenal mengaku lebih enjoy menjadi pemain. Mengapa? ”Kalau pemain hanya berpikir saat pertandingan. Tapi, kalau pelatih, baru mau latihan saja harus mikir,” pungkas Jaenal yang kini juga menjadi Exco di Askot PSSI Kota Pasuruan itu. (riz/far) Editor : Jawanto Arifin