---------------
TIDAK mudah bagi Niko sebelum memutuskan menjadi seorang seniman tato. Kondisi ini tidak terlepas dari pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh belahan dunia, termasuk Kota Pasuruan.
Karena pandemi yang terjadi, ia tidak bisa menggelar tour bersama bandnya, The Laksono. Padahal saat itu, ia sudah bersiap tour ke sejumlah kota di Jawa Timur untuk mempromosikan album keduanya.
Niko pun sempat banting sentir dengan menjual makanan siap saji bersama istrinya di areal Kota Pasuruan. Usaha itu sempat dilakoninya selama sebulan.
Namun usaha itu tidak berjalan mulus. Pemberlakuan physical distancing dan pembatasan jam malam di Kota Pasuruan membuat usahanya sepi.
Setelah melihat beragam referensi dari internet, Niko pun mencoba menjadi seniman tato. Cara yang dipilihnya yaitu handpoke atau teknik manual. Tanpa menggunakan mesin.
Niko menyebut, teknik tato dengan mesin berbeda dengan handpoke atau manual. Menggunakan mesin lebih sakit, karena alatnya masuk lebih dalam ke kulit. Sementara teknik handpoke sebaliknya. Tidak begitu sakit, karena jarum tidak perlu masuk terlalu dalam.
Kelebihan teknik mesin, hasilnya lebih bagus. Sebab, tinta gambarnya tidak putus-putus dan warnanya juga lebih pekat. Sementara teknik manual sebaliknya.
Di awal menekuni tato, Niko menjadikan dirinya sebagai ‘media’ promosi dengan membuat tato di pahanya. Karya pertamanya itu lantas dia unggah melalui story Instagram miliknya sekitar bulan Mei.
Ternyata, banyak yang berminat dengan seni rajah tubuh karyanya itu. Namun karena baru di tahap awal, Niko pun tidak menarik tarif.
Namun ternyata permintaan yang datang terus bertambah. Bahkan, sampai membuat Niko kewalahan.
Dan pada bulan kedua atau Juni, lelaki 25 tahun itu pun mulai menarik tarif. Namun hanya sukarela yang dimintanya. Ia meminta pada pelanggannya hanya mengganti biaya jarum dan tinta yang digunakan.
Sebab, alat ini harus selalu baru. Demi menjaga keamanan, satu jarum dan satu tinta hanya boleh digunakan untuk satu orang.
Dari sini, para pelanggannya memberikan tarif beragam. Antara Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu.
"Cukup lama tarif sukarela ini saya berlakukan. Karena ini juga masih awal. Hitung-hitung biar semakin lihai dengan teknik handpoke. Baru pada bulan kelima saat semakin banyak yang berminat, saya tarik tarif," jelasnya
Dia menarik biaya dengan hitungan per jam. Satu jamnya Rp 150 ribu. Meski ada kenaikan tarif, tapi permintaan untuk merajah tubuh dari pelanggannya tetap tinggi.
Sebab, harga itu dinilai sudah murah dibandingkan harga di kota besar. Seperti Kota Malang yang mematok tarif Rp 300 ribu per jam.
Dalam sehari, pelanggan yang datang tidak menentu. Saat sedang ramai, Niko bisa menerima lebih dari dua orang. Namun saat sepi tidak ada satu pun yang datang.
Saat ini Niko membuka studio seni tato itu di tempat tinggalnya. Yaitu di Perumahan Pesona Candi 7, Purworejo. Namun dia juga menerima permintaan di luar Kota Pasuruan, seperti Kota Malang.
Awalnya, permintaan dari Kota Malang memang terbatas. Karena itu, awalnya Niko tidak memiliki lokasi tetap. Lokasi pengerjaan tato dilakukan di tempat yang ditentukan olehnya.
Namun, makin lama permintaan yang datang semakin banyak dari Kota Malang. Karena itu, dia kini berkerja sama dengan kafe-kafe di Kota Malang, Lawang, dan Pandaan.
"Awalnya saya memanfaatkan lingkaran dari teman-teman sendiri. Lalu dari mulut ke mulut semakin banyak. Malah saya pernah membuat seni tato untuk enam orang di Lawang dengan biaya Rp 1,5 juta,” tuturnya.
Niko yang lulusan Akper tahun 1997 ini sering kali mengambil tato jenis American Old School. Bagi mereka yang meminta jenis tato lain, ia biasanya menyarankan pada orang yang lebih mampu.
Meski terbilang laris, hingga saat ini keluarga kurang mendukung aktivitasnya. Namun meski berat hati, mereka tidak sampai memarahi Niko. Sementara istrinya mendukung penuh pekerjaannya.
Pihak rukun tetangga (RT) di studio miliknya juga pernah datang dan bertanya. Sebab, studio miliknya sering ramai sampai malam. Setelah diberikan penjelasan, mereka bisa menerima asalkan tidak sampai membuat keributan atau mengganggu.
"Saya punya keinginan agar teknik handpoke buatan saya lebih dikenal masyarakat. Sebab, masih ada stigma seniman tato di Kota Pasuruan. Pemilik dan seniman tato biasanya disangka nakal," sebutnya. (riz/fun) Editor : Jawanto Arifin