-----------------
AKIBAT terkikis air sungai yang kait meluap, sebagian tepi rumah milik Ahmadi ambrol. Kondisi tersebut sampai harus membuat dia dan keluarganya, kini tak bisa tidur nyenyak. Dia khawatir debit air sungai Kedungasem meluap, dan banjir kembali terjadi. Apalagi, sungai Kedunggaleng yang alirannya menjadi satu dengan sungai Kedungasem.
Beberapa waktu lalu, sungai Kedungasem sempat meluap. Tingginya selutut orangd dewasa. Alhasil, sejumlah barang berharga miliknya sudah diungsikan dirumah keponakannya yang ada di Kelurahan Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.
Debit air sungai Kedungasem yang kain hari kerap naik hingga ke pemukiman warga membuat sejumlah pelengsengan ambrol. Akibatnya sejumlah ruas lahan warga yang rumahnya bersebelahan dengan sungai was-was. Termasuk rumah Ahmadi yang berada di RT 5/RW 6, Blok Mantong, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.
Usai diterjang banjir hingga selutut orang dewasa Senin (8/3) malam lalu, Ahmadi kerap lesu. Pasalnya sebagian lahan miliknya sudah terkikis air sungai Kedungasem. Bahkan jika ada banjir susulan, dimungkinkan bagian dapur rumahnya terbawa banjir.
Kondisi yang sedemikian rupa membuatnya berpikir. Pria tiga anak itu menerangkan bahwa tiap malam, dia resah jika rumahnya ambruk akibat terkikis air. “Ini jalan ke dapur sudah terkikis. Jika dibiarkan begini, khawatir air nak lagi dan membuat bagian rumah sebelah timur ambruk,” katanya.
Alhasil, kini tiap malam dia tak jarnag begadang dengan Waras, 45 istrinya. “Kalau kami takut, rumahnya ambruk menimpa kami dan anak-anak. Makanya tiap malam saya jarang tidur,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, di rumahnya, Rabu (10/3).
Saat sungai meluap dan merendam sejumlah barang di rumahnya, Waras dan suaminya harus bersih-bersih lumpur di rumah. Termasuk memindahkan sejumlah barang,” katanya.
Ia beruntung, ada keponakannya yang memiliki rumah di Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan. Rumah tersebut kosong karena belum ditempati. Sehingga barang barang milik Ahmadi dipindahkan ke rumah keponakannya itu. “Jadi, disini hanya sebagian barangnya saja, tambah Waras, istri Ahmadi.
Menurutnya kondisi demikian sudah dilaporkan kepada pihak pemerintah. Baik melalui RT/RW, Kelurahan-Kecamatan, termasuk BPBD dan dewan. Dia pun berharap ada solusi yang diberikan, selian harus pindah dari rumah miliknya.
“Kemarin (9/3) ada bantuan dari BPBD kantong sak saja. Kalau kantong saknya saja, kami juga punya, harapanya sih paling tidak sama pasirnya, untuk penanganan darurat. Sebab jika dilakukan perbaikan waktu seminggu, tidak akan selesai. Itupun jika ada uangnya. Jika tidak segera ditangani khawatir ambruk duluan rumah saya,” katanya.
Menurutnya rumah yang telah ditinggali lebih dari 45 tahun itu sudah bersertifikat hak milik. Ia juga tidak paham larangan adanya bangunan di sempadan sungai. Yang jelas, rumah berukuran 13x24 meter itu sudah bersertifikat. “Sudah lama dan rumah ini juga ada sertifikatnya,” tambahnya.
Ia berharap, ada bantuan dari pemerintah terkait dnegan kondisi itu. Sehingga rumahnya tidak jadi korban pada saat ada banjir sususlan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo Sugito Prasetyo menerangkan bahwa saat ini pemkot sedang melakukan koordinasi yang melibatkan sejumlah instansi. Koordinasi terkait untuk menangani masalah yang disebabkan banjir. (rpd/fun) Editor : Jawanto Arifin