------------------
SEMUA berawal dari “kebijakan” di rumah saja. Minimnya mobilitas di masa pandemi, membuat banyak pihak harus mencari sarana untuk menuangkan kreasi.
Karena kondisi terbatas itulah, Dewi Chikmatul Suciati menginisiasi pembentukan kelompok perajin batik. Warga Kelurahan Tembokrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, itu sendiri memiliki kemampuan membatik.
Suci -begitu panggilannya- selama ini bekerja sebagai pengajar batik di salah satu pesantren. Dia memiliki kemampuan membatik setelah mengikuti pelatihan yang digelar Disperindag Kota Pasuruan di Jogjakarta pada akhir 2019.
Keinginannya membentuk kelompok perajin batik juga bisa dikatakan kebetulan. “Kemarin-kemarin kan sering ada penyuluhan tentang Covid-19 dari kelurahan. Akhirnya kami di Karang Taruna jadi semakin sering ngumpul,” kata Suci.
Dari situlah, Suci dan pemuda lainnya bertukar pikiran. Terutama untuk melewati “kebijakan” di rumah saja dengan tetap produktif.
“Akhirnya saya tawarkan ke teman-teman. Bagaimana kalau membatik saja. Ternyata banyak yang berminat,” kata Ketua Batik Cantik Suropati (BCS) itu.
Bahkan, kata Suci, ada yang menawarkan untuk memberikan fasilitas membatik. Seperti kain, pewarna, dan bahan yang dibutuhkan untuk membatik.
Saat itulah, pelatihan membatik dimulai. Sedikitnya, ada 20 anggota yang tergabung dalam BCS. Latar belakangnya beragam. Selain Suci yang seorang pengajar, ada Nuril Sulayak yang kesehariannya membuka usaha katering.
“Saya dan anak saya ikut supaya ngerti gimana caranya membuat batik,” ungkap dia.
Mulanya, dia mengaku agak kesulitan belajar membatik. Terutama pada saat nyanting. Sebab, telapak tangan kirinya yang memegang kain seringkali terkena pewarna yang dipanaskan.
“Iya awalnya sering kepanasan, akhirnya nyanting-nya sering salah. Tapi lama-lama ya terbiasa,” katanya.
Proses latihan membatik bagi mereka tidak butuh waktu lama. Dalam dua kali pertemuan, sudah banyak yang bisa nyanting.
“Setelah paham dasarnya, akhirnya semakin sering latihan. Seminggu dua-tiga kali belajar bareng,” terang Suci.
Suci sendiri mengaku, proses membatik sebenarnya tidaklah sulit. Hanya saja, diperlukan ketelatenan agar karya yang dihasilkan bisa terlihat cantik.
Saat ini BCS sudah memproduksi tiga jenis batik. Selain batik tulis, juga ada batik shibori dan eco print.
Khusus batik eco print, permintaan pasar terbilang cukup tinggi. Motifnya yang unik karena memang dibuat dengan bahan alami seperti dedaunan. Mulai daun jarak dan jati. Kalaupun perlu tambahan warna, biasanya menggunakan kunyit dan teh.
“Kalau eco print, yang dipakai daun dengan cara ditempel di kain. Kemudian dikukus selama dua sampai dua setengah jam. Jadi warna yang keluar itu ya dari daun itu,” beber Suci.
Untuk mendapatkan daun-daun yang bisa digunakan untuk batik, di kawasan perkotaan memang sulit. Mereka biasanya membelinya secara online. Dikirim ekspedisi kilat dari Tulungangung atau Solo.
“Memang harus cepat dikirim, kalau terlalu lama daunnya bisa layu, ndak bisa dipakai,” jelas Suci.
Lain lagi dengan pembuatan batik shibori. Motif batik shibori terkesan lebih unik. Cara membuatnya juga berbeda dengan batik tulis atau batik eco print.
Kain yang akan dipakai lebih dulu dilipat menjadi bentuk kecil dan diikat. Beberapa bagian kain dilindungi agar tidak terkena pewarna. Namun, pada bagian tertentu diberi sentuhan warna. Sehingga hasil akhirnya memberikan pola selaras.
“Jadi dipastikan hasilnya akan berbeda antara satu batik dengan yang lain, meski sama-sama dengan teknik eco print,” ujar Mabruri, mahasiswa yang juga tergabung dalam BCS.
Dia yang sama sekali tak memiliki kemampuan membatik sebelumnya, ikut belajar karena kesehariannya lebih banyak di rumah. Sebab, perkuliahan dilakukan secara virtual daring.
“Makanya ingin nambah-nambah ilmu di sini. Sambil nyari kesibukan selain kuliah online,” kata Bruri.
Dia merupakan salah satu dari lima laki-laki yang tergabung di BCS. Meski begitu, Bruri juga tak merasakan kendala berarti saat belajar membatik.
Selama ini, dia lebih sering belajar membuat batik tulis. Namun Bruri juga tertarik mempelajari pembuatan batik eco print secara lebih mendalam.
“Karena bahan yang dipakai alami, jadi harus memperhatikan bahan secara teliti agar corak yang timbul bisa tegas,” ujarnya.
Meski terbilang usaha baru, BCS kini juga mulai melayani permintaan pasar. Suci menyadari, di era teknologi saat ini dirinya harus lihai memasarkan produk secara online. Harga yang dibandrol juga beragam, menyesuaikan biaya produksi yang dikeluarkan.
Misalnya saja, untuk batik tulis yang kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Atau batik shibori yang lebih terjangkau antara Rp 90 ribu hingga Rp125 ribu. Kemudian, batik eco print yang harganya lebih variatif. Mulai dari Rp 250 ribu sampai Rp 1 juta.
“Tergantung jenis kainnya juga. Tentu, kalau bahannya lebih bagus dan mahal juga harganya mengikuti,” jelas Bruri.
Kemampuan produksinya, untuk batik tulis bisa menghasilkan dua hingga tiga helai dalam sepekan. Namun untuk shibori dan eco print bisa lebih banyak. Antara 10 hingga 15 helai batik.
Meski begitu, hasil penjualan batik yang mereka produksi tidak langsung dibagi-bagi untuk honor. Hasil penjualannya lebih banyak digunakan untuk modal belanja bahan. Memang sebagian tetap disisihkan dalam penghasilan bersama.
“Tapi kita sepakat belum dirupakan dalam honor. Fokus kami membesarkan usaha ini dulu sekaligus membuat masyarakat lebih paham pembuatan batik. Makanya kalau ada yang ingin belajar, kami sangat terbuka,” terang Suci. (tom/fun) Editor : Jawanto Arifin