Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kerajinan Bantal Karakter Desa Mojoparon Pekerjakan Korban PHK

Jawanto Arifin • Sabtu, 20 Februari 2021 | 20:30 WIB
MEMBANTU WARGA: Dari kiri, Ketua TP PKK Mojoparon Nur Azizah mendampingi Kades Mojoparon, Kecamatan Rembang, M. Sholeh melihat industri rumahan pembuatan bantal karakter milik Nawari (tiga dari kiri). Kerajinan ini lahir saat pandemi. (Foto: Iwan Andrik/J
MEMBANTU WARGA: Dari kiri, Ketua TP PKK Mojoparon Nur Azizah mendampingi Kades Mojoparon, Kecamatan Rembang, M. Sholeh melihat industri rumahan pembuatan bantal karakter milik Nawari (tiga dari kiri). Kerajinan ini lahir saat pandemi. (Foto: Iwan Andrik/J
Kreativitas Nawari, 40, menjalankan bisnis kerajinan bantal minimalis dan karakter, membawa berkah tersendiri. Dari sana, ia bisa mempekerjakan puluhan orang. Rata-rata mereka merupakan korban PHK perusahaan yang terdampak pandemi Covid-19.

-----------------------

TUMPUKAN bantal dan guling menghiasi gudang produksi di Dusun Badong, Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang. Bentuknya unik. Tidak seperti bantal dan guling yang dipakai tidur pada umumnya.

Kesan lucu tampak ketika melihat karakter bantal yang beragam. Ada karakter kucing pemilik kantong ajaib, Doraemon; ada pula Mickey Mouse hingga Winnie The Pooh dan karakter kartun lainnya.

Bantal dan guling tersebut, merupakan kreasi dari Nawari, warga Dusun Badong, Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang. Di tengah pandemi Covid-19 yang memukul sektor ekonomi, Nawari justru membangun kerajinan bantal karakter dan minimalis. Bahkan, kini ada puluhan pekerja yang membantunya.

Saat ditemui di gudang produksinya kemarin (19/2), Nawari mengaku kerajinan bantal karakter tersebut dirintisnya tujuh bulan lalu. Cerita perjalanan bisnisnya itu dimulai ketika ia bermain ke rumah rekannya di wilayah Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.

Ketika itu, ia melihat rekannya tersebut memproduksi bantal dan guling yang biasanya digunakan untuk kasur tikar. Selain itu, juga sering ditemukan di kendaraan roda empat. “Saya melihatnya, kok bagus. Saya pun tertarik untuk membuatnya,” ujar Nawari.

Lelaki yang juga berprofesi sebagai perajin keset ini, tidak serta merta bisa membuat bantal karakter itu. Ia harus belajar beberapa minggu agar benar-benar bisa mahir. Selama proses belajar itu pula, hasil karyanya tak sebagus sekarang.

Photo
Photo
CIRI KHAS: Bantal-bantal karakter kreasi Nawari dan pekerjanya. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

“Agak menceng-menceng juga di awal. Tapi, teman saya itu masih mau menerima barang yang saya setorkan,” timpalnya.

Untuk membuat bantal karakter tersebut, ia harus menyiapkan terlebih dahulu bahan-bahannya. Selain kain nilek dan kain bulu, juga ada silikon yang digunakan untuk isi bantal. Kain nilek tersebut, diprin sesuai karakter yang diinginkan.

Selanjutnya, digunting dan dijahit. Baru kemudian isi bantal berupa silikon dimasukkan. Setelah itu, dijahit agar silikonnya tidak keluar atau dengan memberinya resleting.

Awal proses merintis usaha bantal tersebut, ia dibantu empat pekerja. Produksinya kala itu memang masih kecil. Hanya puluhan bantal per minggunya. Namun seiring dengan perkembangan waktu, pesanan yang berdatangan semakin banyak.

Mau tidak mau, ia pun membutuhkan tambahan tenaga untuk membantunya. Hingga saat ini, ada 30 orang yang menjadi pekerjanya. Mereka rata-rata warga sekitar yang menjadi korban PHK perusahaan tempat mereka bekerja sebelumnya.

“Selama pandemi korona ini, banyak perusahaan yang merumahkan karyawannya. Di sini pun demikian. Kami kemudian merekrut mereka untuk membantu produksi bantal saya,” imbuhnya.

Hingga saat ini, ia mampu memproduksi sekitar 7 ribu bantal per minggunya. Produksi bantal kreasinya itu tidak hanya merambah Kabupaten Pasuruan. Tetapi juga luar Pasuruan, bahkan luar pulau.

Seperti Jakarta, Kalimantan, Lombok, dan berbagai daerah lainnya. Nawari mengaku, bantal minimalis buatannya itu, dibandrol dengan harga murah. Mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per biji.

Saat ini permodalan memang menjadi kendalanya. “Terlebih ketika ada pesanan banyak. Kami terkadang kesulitan memenuhinya karena keterbatasan dana,” akunya.

Meski tampak sukses, Nawari sempat merasakan kendala di awal produksi. Ketika itu ia pernah menggunakan bahan campuran kapas untuk isi bantal. Hal ini dilakukannya untuk menekan harga produksinya.

Ternyata, oleh rekanannya yang mengambil barang ia nyaris di-blacklist. Lantaran mencampurkan bahan tersebut. “Kerja sama saya nyaris diputus gara-gara saya mencampur bahan isi bantal. Ini untuk menekan harga produksi. Tapi sejak itu saya tidak menggunakan bahan campuran lagi,” sambungnya.

Kepala Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang, M. Sholeh menuturkan, industri rumahan pembuatan bantal minimalis itu benar-benar membantu perekonomian warga sekitar. Maklum saja, banyak pabrik di wilayah Mojoparon yang merumahkan karyawannya imbas pandemi. Termasuk warganya sendiri.

“Tapi, Alhamdulillah dengan usaha ini, bisa membantu perekonomian warga,” paparnya. (one/fun) Editor : Jawanto Arifin
#bantal karakter #korban phk #kerajinan bantal #bantal unik