Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Pariyem dan Putrinya, PRT Kabur dari Majikan karena Kelaparan

Muhammad Fahmi • Jumat, 19 Februari 2021 | 18:30 WIB
Pariyem merenung di kediaman anak angkatnya. Inset, Eka Wahyu menantu dari Pariyem, bermain dengan anak Pariyem. Ia merasa senang mertuanya itu tinggal di rumahnya saat ini. Dia juga sedang berusaha agar PT, adik tiri dari suaminya itu bisa sekolah lagi.
Pariyem merenung di kediaman anak angkatnya. Inset, Eka Wahyu menantu dari Pariyem, bermain dengan anak Pariyem. Ia merasa senang mertuanya itu tinggal di rumahnya saat ini. Dia juga sedang berusaha agar PT, adik tiri dari suaminya itu bisa sekolah lagi.
Bingung berada di perantauan membuat Pariyem memilih bertahan sebagai pembantu rumah tangga (PRT) sejak tahun 2014 di rumah majikannya. Walaupun ia tidak digaji hingga 6 tahun lamanya. Bahkan kerap menerima perlakuan kasar dari istri majikanya.

RIZKY PUTRA DINASTI, Mayangan, Radar Bromo

SIANG itu, sesosok gadis 11 tahun sedang asyik bermain gadget. PT namanya, adalah putri dari Pariyem, 44. Seorang pembantu rumah tangga (PRT) yang melompat dari lantai dua rumah majikannya karena kelaparan.

Memakai kaus merah, PT tampak bahagia dengan gadget yang baru dibelikan Candra, 36, kakak tirinya (bukan kakak angkat). Setelah sekian lama mendambakan punya gadget, baru kemarin PT akhirnya memilik gadget.

PT pun mengaku sangat senang. Bahkan trauma akibat pemukulan yang dilakukan majikanya kepada dirinya dan ibunya kian luntur. Dia pun mengaku senang tinggal di rumah Candra di Gang Periksan, RT 3/RW 2, Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo,

“Senang bisa punya HP. Sebelumnya pingin, tapi tidak bisa beli. Tinggal di sini juga senang. Bisa bebas dan tidak takut lagi. Ibu saya juga tidak dipukul lagi,” beber PT dengan polosnya.

Beberapa saat kemudian, Eka Wahyu, 36, istri Candra mempersilakan Jawa Pos Radar Bromo masuk ke rumahnya. Menurutnya, ibu mertuanya itu kurang enak badan. Sehingga, tidak bisa menemui. “Badannya sedang panas. Jadi istirahat,” katanya.

Ditemani Eka, PT pun menceritakan apa yang ia alami saat tinggal di rumah majikannya. Yaitu di rumah pasutri Usman-Menuk di Jalan Ir Juanda, Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

https://radarbromo.jawapos.com/probolinggo/17/02/2021/tak-digaji-6-tahun-kelaparan-prt-lompat-dari-lantai-2/

 

Menurut PT, ia dan ibunya kerap menerima perlakukan kasar. Bahkan ada dua luka di kepala PT akibat perlakuan kasar majikan perempuannya. Luka di kepala yang membekas hingga saat ini, hanya diobati sendiri. “Waktu itu sama ibu diobati sendiri, tidak ke dokter,” tambahnya

Selain itu, selama tinggal di rumah majikannya, PT mengaku tidak dapat fasilitas apapun. “Kalau mandi, ya mandi saja. Tidak ada sabun, sikat, dan odol. Tidur di atas (lantai dua), tapi tidak pakai apa-apa. Soalnya tidak boleh pakai kasur,” ungkapnya.

Untuk makan, PT mengaku sehari mendapat jatah makan dua kali dari majikannya. Yakni, pukul 06.00 dan pukul 16.00. “Makan dapat dua kali sehari. Tapi yang makan saya. Ibu tidak,” bebernya.

Eka menuturkan, dirinya baru tahu bahwa mertuanya tidur tanpa kasur. “Waktu di sini ibu dan PT kan tidur di kasur. Nah, PT bilang di sana tidak boleh pakai kasur. Akhirnya saya tanya ke ibu dan ibu membenarkan. Jadi mereka setiap hari tidur di lantai. Mendengar itu teriris hari saya,” kata perempuan tiga anak itu.

Bahkan saat keduanya sakit, tidak pernah dibawa ke dokter atau puskesmas. ”Ya dibiarkan sembuh dengan sendirinya. Termasuk luka di kepala PT. Itu hanya dikasih obat merah saja sampai nyenyek. Walaupun pada akhirnya sembuh juga,” tambahnya.

Saat ini Eka merasa senang Pariyem dan PT tinggal di rumahnya. Mereka tidur di sebuah kamar yang memang kosong di rumahnya.

Eka pun menceritakan secuil perjalanan Pariyem dengan ayah Candra atau mertuanya. Pariyem dan ayah Candra bertemu saat sama-sama jadi TKW. Saat itu saat ayah Candra adalah duda ditinggal mati. Ayah Candra dan Pariyem lantas menikah dan pulang ke Probolinggo. Dari pernikahan itu lahirlah PT.

https://radarbromo.jawapos.com/probolinggo/19/02/2021/kasus-pembantu-kelaparan-diduga-dianiaya-polisi-akan-panggil-saksi/

 

“Setelah ayah Candra meninggal, ibu menikah dengan Slamet. Katanya warga Kedopok. Slamet ini memintan izin ke Mas Candra untuk menikah siri dengan ibu. Karena niatnya bagus, sama suami diizinkan,” tuturnya.

Setelah itu tidak ada kabar dari mereka. Sebab, Pariyem kemudian mengikuti Slamet. Rupanya setahun menikah, Slamet dan Pariyem bercerai. Saat itu oleh Slamet lantas Pariyem dititipkan ke Usman sebagai pembantu. “Jadi kami juga baru tahu kejadiannya,” katanya

PT sendiri sempat sekolah di SDN Kanigaran 2 saat tinggal di rumah majikannya yang ada di Jalan Cokroamintoro. “Dia berangkat diantar ibu Menuk dan pulangnya sendiri. Setelah kelas dua disuruh berhenti sekolah sampai sekarang. Harusnya PT sudah kelas 5 SD,” lanjutnya.

Saat ini Eka sedang berusaha agar PT bisa kembali sekolah. “Ini masih saya urus. Jadi biar bisa sekolah lagi,” tambahnya.

Terakhir, ia berharap agar kejadian serupa tidak terulang kepada siapapun. Termasuk pembantu rumah tangga yang lain. “Meski hanya pembantu, mereka juga manusia. Jadi sepantasnya diperlakukan seperti manusia,” katanya lirih.

Sebelumnya, sang majikan Usman, suami Menuk menerangkan bahwa memang pembantunya itu tidak kerasan. Namun tidak sepenuhnya benar bahwa Pariyem tidak diberi makan. Lebih lagi ia bekerja sudah 6 tahun lebih.

“Jadi memang yang bersangkutan ini tidak betah. Selain itu memang kadang pekerjaannya tidak beres. Bahkan, istri sempat terjatuh karena dia mengepel tidak beres atau tidak benar,” katanya.

Soal gaji Pariyem, menurutnya, dirinya sebetulnya membuatkan tabungan untuk Pariyem. Saat ini menurutnya, masalah dengan pembantunya itu sudah selesai secara kekeluargaan. Bahkan, disaksikan Forkopimka Kanigaran serta ada bukti hitam di atas putih.

“Kalau memang ada hal lain, kami dari pihak keluarga siap untuk membantu,” tandasnya. (hn)

  Editor : Muhammad Fahmi
#pembantu kabur dari lantai 2 #pembantu rumah tangga kelaparan #pembantu tak digaji #pembantu rumah tangga dianiaya