---------------------
Beberapa pigura terpampang di ruang tamu rumahnya. Sebagian menampakkan sketsa wajah manusia. Namun ada sebuah pigura dengan gambar bergaya surealisme. Mauludi Achmad yang membuatnya. Ia yang suka menggambar sejak kecil itu mulai mengekspresikan hobinya di atas hardboard atau papan serat sebagai media cukil.
“Waktu kecil dulu sukanya menggambar di buku-buku tulis,” katanya.
Dia lalu mencoba media lain untuk menuangkan imajinasi yang tersimpan di pikiran. Ia memilih hardboard . Selain mudah didapat, media itu dipilihnya lantaran teksturnya yang tak sekeras kayu. Sehingga, proses cukil bisa lebih mudah dikerjakan.
“Sebenarnya dulu ya buat ngisi waktu luang. Saya gambar di hardboard sembari belajar teknik cukil,” tuturnya.
Sebelum mencukil, ia lebih dulu menggambarkan sketsa di media hardboard dengan pensil. Supaya mudah dihapus ketika ada yang salah dalam gambarnya. Begitu sketsa selesai, ia langsung mengguratkan alat cukil ke media itu.
“Tapi ternyata ada saja kesalahan karena yang dicukil itu kadang meleset dari sketsa,” ungkap Ludi -sapaan Mauludi Achmad-.
Dia bahkan sempat kecewa lantaran ada orang yang memesan sketsa wajah berupa cukilan. Namun hasilnya jauh berbeda dari aslinya. Alhasil, Ludi sempat menolak beberapa pesanan yang diterima.
Hingga akhirnya, ia kembali berani mencukil sketsa wajah setelah mendapatkan saran seorang teman. Temannya menyarankan untuk menggunakan aplikasi.
“Saya memanfaatkan teknologi. Sekarang kan sudah banyak aplikasi yang mendukung gambar sketsa. Jadi sketsanya saya buat dulu dalam aplikasi,” katanya.
Setiap pemesan ia mintai file foto yang akan dibuat cukilan sketsa wajah. Lalu dibuatlah sketsa digital melalui aplikasi. Baru kemudian dicetak sesuai ukuran media yang akan dipakai.
“Hasil print itu yang dibuat untuk ngemal di hardboard,” katanya.
Kendati sudah ada sketsa yang dibuat mal, bukan serta-merta membuat proses cukil lancar tanpa kendala. Ludi mengaku sesekali masih ada kesalahan. “Tapi lebih mudah diperbaiki,” terang dia.
Sebagaimana yang ia kerjakan saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, kemarin. Ludi pun masih sibuk menyelesaikan cukilan sketsa wajah. Tangan kirinya seolah menari di atas media hardboard yang memperlihatkan wajah perempuan.
“Paling lama dua hari,” kata Ludi, soal waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan cukilan sketsa wajah.
Di antara semua proses, ia tak pernah merasa kesulitan mencukil. Meski baru tiga tahun menekuni teknik cukil. Proses yang lebih memakan waktu justru saat sudah tahap finishing. Yakni mewarnai hasil cukilan untuk menampakkan kontras dan bayangan sketsa.
“Karena harus dijemur dua harian. Kalau hujan-hujan seperti sekarang lebih sulit diprediksi keringnya,” paparnya.
Sampai saat ini, Ludi kerap menerima pesanan cukilan sketsa wajah. Namun, kebanyakan pesanan itu datang bukan karena gencarnya ia promosi. Melainkan dari teman-temannya.
Pesanan pun datang dari berbagai daerah seperti Malang, Surabaya, hingga Jakarta. Sebuah cukilan sketsa wajah ia bandrol seharga Rp 150 ribu. (tom/fun) Editor : Jawanto Arifin