ACHMAD ARIANTO, Pajarakan, Radar Bromo
PASAR sangat identik dengan keramaian. Namun, tiga hari belakangan aktivitas di Pasar Desa Ketompen, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, tidak seperti biasanya.
Pasar jauh lebih sepi. Pedagang yang berjualan tidak sampai 10 orang. Padahal, total ada sekitar 67 pedagang di sana. Yang terlihat kemarin, banyak kios tertutup rapat. Bahkan, banyak terlihat meja dan kursi lapak yang ditata rapi.
Kondisi ini bukan tanpa sebab. Pedagang dan pembeli rupanya takut pada pemeriksaan rapid test antigen yang gencar digelar di tujuh kecamatan zona merah oleh Pemkab Probolinggo. Dan salah satunya menyasar pasar tradisional.
Kamis (7/1), petugas menggelar rapid test antigen di Pasar Sukokerto, Pajarakan. Namun, pemeriksaan itu bocor. Banyak pedagang tidak berjualan. Dan hanya 31 orang yang dites.
Petugas lantas geser ke Pasar Ketompen. Namun, di sini kondisinya jauh lebih sepi. Hampir semua lapak dan kios tutup. Tidak sampai 10 yang buka.
Salah satunya Jumali, pemasok dan pedagang ikan di Pasar Desa Ketompen. Menurutnya, pemeriksaan rapid test antigen membuat banyak pedagang menutup kios. “Saya sudah lama jadi pedagang dan pemasok ikan. Baru kali ini merasakan pasar seperti kuburan di pagi hari,” katanya.
Sesekali tampak pedagang datang untuk mengecek kondisi kios miliknya di Pasar Ketompen. Namun, tidak berani mendekat dan pergi lagi. “Ada pedagang datang, namun hanya mengecek kios mereka. Jangankan berjualan, mendengar akan ada pemeriksaan pun sudah takut,” ujarnya.
Jumali sendiri kena imbas sepinya pasar. Ikan segar yang dijualnya pun tidak banyak yang laku. Dirinya harus memutar otak agar ikannya terjual semua hari itu.
“Sebelumnya sudah disimpan di boks berisi es. Ini bisa bertahan dua hari, asalkan kondisi tetap dingin. Lebih dari itu akan diasap atau diasinkan. Tapi harganya tidak semahal ikan segar,” ujar warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan ini.
Hal serupa dirasakan Saipah, pedagang peralatan rumah tangga di Pasar Desa Ketompen. Saipah kemarin tetap berjualan karena tidak takut rapid test antigen.
“Ada pemeriksaan ya biar saja. Kalau sehat kenapa takut. Itu kan untuk kebaikan bersama. Saya sudah ikut rapid test antigen dan hasilnya negatif. Ini kan untuk kebaikan bersama,” jawabnya enteng.
Kendati tetap membuka kiosnya, dagangannya sepi pembeli. Hanya sesekali pembeli datang untuk menawar. Saat tahu akan ada rapid test antigen, pembeli itu pun segera pulang. Akibatnya, omzetnya turun drastis. Bahkan, turun 80 persen dari biasanya.
“Meskipun kios buka, tapi sepi pembeli. Masa pandemi begini susah. Untung dagangan saya tidak ada kedaluwarsanya,” ungkapnya.
Saipah menceritakan, beberapa rekannya yang tidak tahu ada rapid test antigen sempat datang ke pasar. Namun, mereka langsung kabur saat tahu ada tes. Barang yang sedianya akan dijual pun sampai jatuh berceceran. Pedagang lain yang merasa kasihan pun berinisiatif merapikan dagangan mereka.
“Tadi pagi ada penjual sayur di dekat lokasi pemeriksaan. Pas melihat ambulans dan banyak petugas datang, dia kabur. Sayurnya ditinggal begitu saja. Ada lagi pedagang ikan yang meninggalkan dagangannya,” tuturnya.
Sementara itu, petugas akhirnya memeriksa warga yang melintas di sekitar pasar. Terutama warga yang tidak bermasker. Salah satunya Muhammad, warga Maron.
“Akhirnya ikut tes tadi. Bukan takut diperiksa, tetapi takut dikarantina. Keluarga di rumah mau dikasih makan apa. Sedangkan saya tiap hari harus bekerja,” jawabnya singkat.
Kepala Puskesmas Pajarakan dr. Maulida Rahmani mengatakan, rapid test antigen pada prinsipnya untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat. Sekaligus memberikan keamanan pada masyarakat. Dengan adanya pemeriksaan dan dinyatakan aman, maka kasus Covid-19 yang tengah melanda dapat ditekan seminim mungkin.
“Informasi yang didapat banyak yang tidak benar, bahkan terkesan menakut-nakuti. Pemeriksaan yang dilakukan juga untuk kebaikan bersama. Menyelesaikan pandemi harus dilakukan bersama, tidak hanya petugas. Jumlah petugas hanya sedikit dibandingkan dengan jumlah masyarakat,” ujar Maulida. (ar/hn) Editor : Jawanto Arifin