Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

23 Hari Hidup dengan Covid (2); Berdesir dengar Bunyi Tut Tut Tut 

Muhammad Fahmi • Selasa, 5 Januari 2021 | 13:45 WIB
Penulis di ruang Kaktus, ruang isolasi RSUD dr Moh Saleh. (Dok. Pribadi)
Penulis di ruang Kaktus, ruang isolasi RSUD dr Moh Saleh. (Dok. Pribadi)
Di rumah sakit, saya harus menjalani isolasi. Di ruang khusus, dengan dokter dan perawat khusus pula. Selama isolasi tidak boleh dikunjungi. Benar-benar tidak bisa berhubungan dengan dunia luar.  

 H.A Suyuti, Probolinggo

Hari masih pagi. Jalanan sepi. Saya duduk sendiri di dalam ambulans. Di depan, sopir dan perawat memakai hazmat lengkap warna putih. Tidak ada obrolan apapun. Sepi. Hanya terdengar raungan sirine ambulans di sepanjang jalan menuju rumah sakit.

Di luar, suasana mendung dan gerimis. Saya melihat kondisi jalanan dari jendela ambulans. Ada sedikit perasaan senang. Karena sudah 10 hari saya isolasi mandiri di rumah. Tidak ke mana-mana. Hanya di tempat tidur, kamar mandi, dan teras rumah.

Selama perjalanan menuju rumah sakit, saya manfaatkan untuk menenangkan diri dan banyak berdoa. Memohon kepada Allah SWT agar diberi kesembuhan. Karena sampai saat ini, virus korona ini belum ada obatnya. Saya juga meyakinkan diri, selama di rumah sakit akan dirawat dengan baik oleh para dokter dan perawat.

Sesampai di rumah sakit, suasana masih sepi. Beberapa petugas kebersihan menyapu dan membersihkan sisa air hujan semalam. Saya langsung dimasukkan ke ruang IGD khusus pasien Covid-19.

Di ruangan kaca yang sempit itu, perawat memeriksa saya. Mulai tekanan darah, suhu tubuh, darah, dan diinfus. Lengan dan jari saya juga dipasangi alat yang tersambung ke layar berisi angka-angka dan grafik naik turun. Tiap detik berbunyi, tut…tut…tut.

Tak berapa lama, saya dipindah ke ruang isolasi. Namanya: Ruang Kaktus. “Pakai kursi roda, Pak?” tanya perawat berhazmat itu. “Tidak usah, Pak. Saya jalan saja,” jawab saya.

Setelah mengambil tas dan sebagian ditaruh di atas kursi roda, saya berjalan mengikuti petugas tersebut.  “Nanti di lantai 2 dulu,” terangnya.

Sesampai di lantai 2, saya melewati ruangan-ruangan berisi pasien Covid-19. Saya sempat melirik. Ada banyak alat seperti di ruang IGD. Bunyinya terdengar jelas. Tut..tut…tut.

Selain itu, ada banyak selang bergelantungan. Hati langsung berdesir. Sepertinya gawat. Tapi saya tidak berani bertanya ke perawat. Daripada saya tahu dan membuat takut. Akhirnya diam saja.

Saya akhirnya sampai di ruangan paling ujung. Hanya ada satu tempat tidur. “Bapak di sini ya,” kata perawat sambil menyiapkan tempat tidur dan tempat infus.

Saya sedikit lega karena sekamar hanya sendirian. Dan tidak ada alat-alat seperti yang  saya lihat di ruang sebelah. Saya pun berbaring sambil memejamkan mata. Mulai lega dan tenang.

https://radarbromo.jawapos.com/features/04/01/2021/23-hari-hidup-bersama-virus-korona-panas-tinggi-berhalusinasi/

Saya terbangun saat ada dokter masuk. Tidak kelihatan wajahnya, karena berhazmat. Kemudian dada saya dicek pakai stetoskop. Tidak banyak yang disampaikan. “Baik, Pak…sudah ya,” katanya. Kemudian, saya diminta istirahat.

Keesokan harinya saya dipindah ke lantai 3. Saya kembali melewati ruangan yang dipenuhi alat-alat itu. Tidak berani melirik lagi. Sesampai di lantai 3, saya masuk ruangan bagian depan. Dekat dengan ruangan perawat.

Ternyata sudah ada pasien lain di ruangan. Jadi, saya sekamar berdua. “Pasien di lantai 3 ini sudah stabil,” kata perawat yang mengantar saya.

Selama di lantai 3, saya mendapat perawatan maksimal dari dokter dan perawat. Secara rutin dikontrol dan diobati. Tidak seperti informasi yang saya dengar, bahwa pelayanannya tidak baik. Termasuk ada istilah “di-Covid-kan”.

Untuk menentukan pasien itu positif Covid-19 atau tidak, berdasarkan hasil cek laboratorium. Bukan kata dokter atau perawat.  Jadi bagi yang dinyatakan positif Covid-19, tidak usah takut dirawat di rumah sakit. Daripada dirawat di rumah, tidak ada yang mengontrol secara medis.

Bahkan, jika sampai telat penanganannya, maka akan lebih sulit dan lama proses penyembuhannya. Bahkan, bisa menyebabkan kematian.

Terbukti yang saya alami. Setelah mendapat penanganan medis, dari hari ke hari kondisi saya terus membaik. Tidak panas lagi. Mual-mual juga mulai hilang. Termasuk diare mulai mampet. Hanya penciuman yang belum normal. Termasuk indra perasa.

Karena sudah merasa membaik, saya  menanyakan kepulangan saya. “Kapan saya pulang, Bu?” tanya saya kepada perawat saat menyerahkan obat. “Nanti saya konsultasikan kepada dokter dulu,” jawabnya.

Sabtu (12/12) siang saya didatangi perawat. “Sore ini sudah bisa pulang. Tapi tidak ke rumah. Masih diisolasi di Rusunawa Mayangan,” katanya.

Mendengar penjelasan itu, saya sempat kaget. Karena masih diisolasi ke rusunawa. Tapi saya kemudian paham,  pasien Covid-19 yang sudah stabil, harus diisolasi selama 14 hari dari swab PCR dilakukan.

Akhirnya, infus yang sudah tiga hari menempel di punggung tangan dilepas. Lega. Meski tangan bengkak bekas jarum infus. Saya segera membereskan tempat tidur. Termasuk memasukkan perlengkapan lain ke tas.

Saya baru berangkat ke rusunawa sekitar pukul 21.30 WIB. “Terima kasih, Bu,” kata saya berpamitan kepada perawat yang piket saat itu.

Saya kembali diantar ambulans ke rusunawa. Sama seperti waktu berangkat. Hanya ditemani dua petugas kesehatan berhazmat lengkap.

Kali ini saya lebih lega. Beberapa keluhan sebelumnya sudah tidak ada. Saya pun tidak berhenti bersyukur kepada Allah SWT atas semua pertolongan-Nya, sehingga bisa melewati masa-masa kritis selama di rumah sakit.

Ambulans  yang membawa saya berangkat. Sirine mulai meraung-raung. Diiringi gerimis, ambulans menembus kegelapan malam menuju rusunawa. Tempat isolasi saya yang baru bersama pasien Covid-19 lainnya. (bersambung)

 

  Editor : Muhammad Fahmi
#covid kota probolinggo #rsud dr moh saleh #gm jawa pos radar bromo #perjuangan sembuh dari corona #cerita penyintas corona