RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo, Radar Bromo
Bagi banyak orang, divonis menjadi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bukanlah perkara mudah. Karena stigma masyarakat pada ODHA, banyak mereka yang bersikap tertutup pada ODHA. Bahkan, tidak sedikit yang abai dengan kondisi kesehatan mereka.
Dalam situasi ini, perlu orang-orang yang peduli untuk terus mengawal ODHA. Salah satunya untuk memastikan kelanjutan dan kedisiplinan ODHA dalam konsumsi obat.
Dari sekian banyak relawan pendamping HIV/AIDS yang ada, di Kota Probolinggo ada Yuli Daryanti, 34. Sudah lima tahun dia mendampingi ODHA. Mereka ini biasa disebut Manager Kasus atau MK. Berawal dari diskusi dengan saudara iparnya yang juga seorang MK, membuatnya tertarik membantu mendampingi para ODHA.
“Dari diskusi dengan Mas Badrutamam, saya tertarik bergabung di MK. Sudah kurang lebih 5 tahun ini. Meskipun tugasnya di Kota Probolinggo, saya juga membantu pasien di Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.
Menuruntya, selama ini masih banyak ODHA yang menyembunyikan statusnya sebagai ODHA. Tidak hanya kepada masyarakat, tapi juga kepada keluarga.
“Itu mereka lakukan karena takut dijauhi, takut mendapat perlakuan yang berbeda. Bahkan saat saya mau mengantar obatpun, ODHA minta ketemuan di luar rumah. Mereka khawatir tetangganya bertanya-tanya kenapa didatangi MK terus,” ujarnya.
Namun, pengalaman yang sulit dihadapi MK adalah berhadapan dengan anak dengan status ODHA. Yuli mengaku pernah mendampingi bayi dengan status ODHA. Tiap hari, dia harus minum obat. Ibunya yang meminumkan pun sampai menangis, karena tidak tega anak sekecil itu harus minum obat setiap hari.
“Tapi ya tetap harus dijelaskan kepada si ibu, tega nggak tega harus melakukan itu demi kebaikan anaknya,” tambahnya.
Pengalaman yang sama pernah dialami Rosida, 28, MK yang lain. Warga Kelurahan Kareng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo ini sempat dilema saat harus menjelaskan kepada anak dengan status ODHA.
“Ada anak SD dengan status ODHA yang tinggal dengan neneknya. Dia bertanya kenapa setiap hari harus terus minum obat. Duh, saat itu saya bingung mau bilang apa. Akhirnya saya bilang bahwa itu vitamin,” ujar ibu dua anak ini.
Rosida dilema, berat untuk memberikan penjelasan tentang HIV/AIDS pada ODHA yang masih usia SD. ODHA tidak mudah dipahami anak-anak.
“Hal ini juga dia tanyakan kepada neneknya. Neneknya pun memberi penjelasan yang sama bahwa itu adalah vitamin,” terangnya.
Rosida menjelaskan bahwa ODHA wajib selalu minum obat. Tidak boleh terputus atau lupa mengkonsumsi dalam waktu lama.
“Jika lupa satu atau dua kali tidak masalah, tapi tidak boleh sering-sering. Harus patuh minum obat pagi dan malam hari,” terangnya.
Kendala lain yang dihadapi oleh MK adalah memastikan ODHA untuk tetap disiplin minum obat. Biasanya setiap 3 bulan ada home visit oleh MK pada ODHA.
“Saat itu akan diperiksa persediaan obatnya. Jika masih banyak obatnya, maka tidak kami lanjutkan. Eman-eman. Kalau obat itu masih banyak, artinya ODHA tidak mengonsumsi obat dengan teratur. Lebih baik obat itu untuk ODHA yang lebih membutuhkan,” tambahnya.
Tugas ODHA pun tidak terbatas soal mengawal ODHA disiplin konsumsi obat. Saat ada ODHA yang sakit atau sampai masuk rumah sakit, maka MK akan mengawal. MK ini yang akan menjelaskan kepada petugas medis mengenai status pasien.
“Karena kadang ada ODHA yang tidak terbuka soal itu. Maka, kami yang menjelaskan kepada petugas medis agar petugas medis juga siap dalam penanganan pasien ODHA,” terang Rosida.
Rosida menjelaskan, HIV itu bukan penyakit yang mudah menular. Namun, masih banyak masyarakat yang salah persepsi soal HIV/AIDS. Bahkan, enggan makan bersama ODHA, karena takut tertular.
“HIV/AIDS tidak menular seperti itu. Bahkan dari ibu ke bayi yang dikandung pun bisa dicegah penularannya. Tentu dengan intensif konsumsi obat dan melahirkan dilakukan secara caesar,” terangnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin