Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Inilah Kerajinan Bambu Kreasi Toyib yang Tembus hingga Turki

Jawanto Arifin • Sabtu, 5 Desember 2020 | 15:11 WIB
FOKUS LOKAL: Toyib mengerjakan anyaman bambu pesanan di rumahnya. Saat ini dia fokus memasarkan produknya di tingkat lokal. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
FOKUS LOKAL: Toyib mengerjakan anyaman bambu pesanan di rumahnya. Saat ini dia fokus memasarkan produknya di tingkat lokal. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
Kreativitas Toyib, 39, mengayam bambu membuat produknya tidak hanya diminati pasar lokal. Perabot dapur dan rumah tangga buatan tangannya merambah hingga internasional. Turki menjadi salah satu pasarnya.

-------------------

Beragam anyaman bambu terpajang di sebuah buffet yang ada di ruang tamu. Bukan hanya wakul tempat nasi. Tetapi juga ada tempat tisu, bolpoin, piring hingga miniatur rumah dan beragam benda lain. Semua terbuat dari anyaman bambu.

Bukan tanpa alasan benda-benda itu dipajang. Mereka menjadi salah satu bukti bahwa pemiliknya bisa membuat beragam kebutuhan dari anyaman bambu.

Itulah anyaman bambu hasil karya Toyib, 39. Toyib memang dikenal sebagai salah satu perajin anyaman bambu. Bahkan, hampir semua perabot dapur bisa dibuatnya dari anyaman bambu.

“Hampir semua pesanan perabot dapur dan rumah bisa saya buatkan. Tergantung pesanan,” ungkap Toyib saat ditemui di rumahnya di Dusun Krajan, Desa Siyar, Kecamatan Rembang, beberapa waktu lalu.

Photo
Photo
BERI PELATIHAN: Dia juga memberikan pelatihan pada pelajar agar kerajinan anyaman bambu tetap lestari. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Bapak tiga anak ini mengaku, menekuni kerajinan anyaman sejak masih kelas enam SD. Kebetulan, orang tuanya memang perajin anyaman bambu. Namun, kala itu masih terbatas membuat wakul atau tempat nasi.

Ia sering membantu orang tuanya, untuk menggarap wakul pesanan orang. “Sepulang sekolah saya langsung membantu ibu menyelesaikan pesanan wakul dari anyaman bambu. Saat itu produknya memang terbatas hanya tempat nasi,” kenang dia.

Kerajinan anyaman bambu ditekuninya hingga dewasa. Bahkan, setelah menikah ia mulai mengembangkan usaha anyaman bambu tersebut. Tidak lagi sekedar membuat wakul, tetapi aneka produk rumah tangga.

Lalu hasilnya dipasarkan di tingkat lokal. Sekitaran Pasuruan, Surabaya dan beberapa daerah lainnya.

“Sejak kisaran tahun 2000, saya mengembangkan usaha kerajinan yang menjadi warisan turun temurun ini. Tidak melulu hanya tempat nasi, tapi benda-benda lainnya. Seperti tempat tisu, jam dinding, kap lampu dan beragam kreasi lainnya,” beber Toyib.

Tak mudah memang mengembangkan kreasi dari anyaman bambu. Ia harus belajar otodidak untuk aneka benda dari bambu tersebut.

Bahkan, dia harus membuat satu benda dalam waktu berminggu-minggu hingga bulanan. Supaya, benda yang diinginkan benar-benar terbentuk sesuai harapan. Seperti saat membuat tempat tisu. Beberapa kali ia gagal membuatnya.

“Tempat tisu yang saya buat awalnya mudah rusak. Saya belajar terus, hingga benar-benar bisa sesuai harapan. Butuh waktu sekitar sebulan untuk belajar,” tambah dia.

Hingga akhirnya kerajinan membuat beragam jenis perabotan dari anyaman bamboo itu, tidak hanya dilirik pasar lokal. Selain memasarkan produknya hingga Bali maupun Kalimantan, produknya itu juga dilirik buyer Turki.

Ia bahkan pernah mengirim satu kontainer atau sekitar 2 ribu produk anyaman bambu ke Turki pada tahun 2006. Namun, karena kewalahan, ia tidak melanjutkan kerja sama itu. Ia akhirnya memilih pasar lokal.

“Permintaan dari Turki berat dan ribet. Tidak boleh ada benda lain selain bambu. Misalnya untuk pengikat, harus dari bambu. Tidak boleh dari benda lain, seperti paku. Pesanannya juga banyak. Karena kewalahan, saya tidak lagi menjalin kerja sama dan memilih fokus pasar lokal,” kisah dia.

Bukan hanya Turki yang melirik produknya. Buyer dari Korea Selatan juga sempat meminati produknya. Namun, kondisinya sama. Karena ribet dan harga jualnya rendah, Toyib memilih untuk tidak menyanggupinya.

Lelaki kelahiran 7 Agustus 1981 ini, akhirnya hanya fokus memasarkan produknya di dalam negeri. Setiap bulan, ia bisa memproduksi hingga lebih dari 2 ribu produk anyaman bambu.

Harga anyaman bambu buatannya bervariasi. Mulai dari Rp 3 ribu untuk wakul, hingga Rp 100 ribu untuk kap lampu.

Sebagai salah satu kerajinan warisan leluhur, Toyib mengaku memiliki tanggung jawab untuk melestarikannya. Karena itu, ia berusaha menularkan kreasinya itu ke pelajar. Biasanya, ia datang ke sekolah-sekolah.

Tapi, tak jarang pula siswa yang datang ke tempatnya untuk belajar. “Terutama, ketika pandemi seperti sekarang ini. Banyak anak-anak yang belajar ke sini,” sambung dia.

Menurutnya, kerajinan anyaman bambu tidak boleh punah. Harus ada penerus dari kerajinan tersebut.

“Para pemuda saat ini lebih senang kerja pabrik ketimbang anyaman. Karena hasilnya lebih cepat. Kalau tidak ada bibit-bibit yang meneruskan, kerajinan anyaman bambu ini jadi rentan punah,” tutup dia. (one/fun) Editor : Jawanto Arifin
#handycraft anyaman bambu #anyaman bambu tembus turki #kreasi anyaman bambu