----------------
Terik matahari tak begitu terasa menyentuh permukaan kulit. Banyaknya pepohonan membuat kawasan itu rindang. Aliran air yang berkejaran menyelinapi sela tebing dan bebatuan, menambah kesejukan. Panorama eksotis itu terlihat di kawasan Dam Licin. Terletak di Dusun Jetis, Desa Dhompo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.
Dulu, tak banyak orang yang mau melirik kawasan yang menjadi daerah aliran Sungai Welang itu. Tak heran, sebab kawasan itu begitu kumuh dengan tumpukan sampah.
Belum genap sebulan yang lalu, masyarakat sekitar mulai berinisiatif membersihkan kawasan sungai. Bukan tanpa sebab. Awalnya mereka menginginkan wahana wisata yang lebih terjangkau. Apalagi selama pandemi virus korona, masyarakat ingin memiliki tempat liburan sederhana namun tetap menyenangkan.
“Mulai saat itu kami lakukan kerja bakti. Semua masyarakat bahu-membahu membersihkan sampah,” terang Kepala Desa Dhompo Muhamad Salim.
Hampir setiap hari warga menyisihkan waktu menuju sungai. Mereka kemudian membersihkan sampah di sungai. Kebanyakan sampah plastik yang berserakan sudah melekat dengan tanah. Namun, warga enggan membiarkan secuil pun sampah tersisa. Alhasil, kegiatan bersih-bersih sungai itu juga membuahkan hasil memuaskan.
Kawasan sungai menjadi jauh lebih bersih. Air yang mengaliri sungai itu juga berubah menjadi jernih. Rindangnya pepohonan di dua sisi sungai membuat pemandangan jadi lebih menawan. Tepatnya sekitar dua pekan yang lalu, warga mulai sering menghabiskan waktu di sana. Air terjun mini yang berjajar menjadi salah satu spot berswafoto favorit.
“Foto teman-teman itu kan banyak yang di-upload ke media sosial. Setelah itu banyak orang yang penasaran dan datang ke sini,” tambah Salim.
Gayung bersambut. Keinginan warga menjadikan kawasan Dam Licin jadi wahana wisata akhirnya benar-benar terwujud. Saban hari, ada saja pengunjung yang penasaran datang ke lokasi itu. Dengan respons pengunjung yang cukup baik, masyarakat setempat juga lebih bersemangat.
Siapa sangka, kegiatan bersih-bersih sungai yang tujuan awalnya agar bisa dinikmati masyarakat sekitar, kini justru menarik pengunjung. Meski begitu, masyarakat juga menyambut baik para pengunjung yang kian membeludak di akhir pekan. Masyarakat kemudian mengimbangi animo pengunjung yang cukup tinggi itu dengan menyediakan berbagai fasilitas.
“Pada akhirnya juga bisa menghidupkan perekonomian masyarakat. Ada yang menyewakan ban sebagai pelampung hingga perahu,” ungkap Salim.
Ya, pengunjung yang sebagian besar merupakan anak-anak itu memang lebih suka mengapung di permukaan sungai dengan bantuan pelampung. Sementara pengunjung yang sudah dewasa lebih senang menyusuri sungai di atas perahu. Pengunjung bisa menikmati aliran sungai sepanjang 500 meter. “Sementara ini ada dua perahu yang bisa dipakai,” ujar Salim.
Sejumlah pengunjung yang datang ke kawasan itu mengaku tak kecewa. Mereka justru senang dengan adanya wahana wisata yang bernuansa alami. Salah satunya diutarakan Dita yang sengaja memanfaatkan hari libur bersama keluarga.
“Pemandangannya masih sangat asri dan bebas dari sampah. Jadi, tidak khawatir kotor meski anak-anak main di sungai,” pungkasnya.
Salim sendiri mengakui, Dam Licin itu memang lebih tepat dimanfaatkan sebagai wahana wisata saat musim kemarau. Sebab, arus sungai tak begitu deras. Berbeda ketika memasuki musim hujan, debit air sungai begitu deras dan seringkali meluap. “Jadi memang pas ketika kemarau seperti sekarang ini,” tandasnya. (tom/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin