Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Rudi Susanto, Pendekar Silat Peraih Emas Pon Kini Jadi Bakul Soto

Jawanto Arifin • Minggu, 23 Agustus 2020 | 17:00 WIB
Photo
Photo
Nama Rudi Susanto di belantika pencak silat tanah air cukup dikenal. Ia pemegang medali emas dua edisi Pekan Olahraga Nasional (PON) terakhir dan beberapa kali menyabet kejuaraan internasional. Bagaimana kabarnya kini usai memutuskan gantung sabuk silat?

---------

Penampilannya tak banyak berubah. Berat badannya masih cukup ideal. Jarum timbangan masih di kisaran 50 kilogram. Tak jauh beda saat ia terakhir menjuarai Belgium open pada 2017 lalu.

Ialah Rudi Susanto. Atlet silat andalan Kabupaten Pasuruan yang kenyang asam garam. Koleksi medalinya mulai level regional, nasional hingga internasional.

Tahun ini, usianya genap 34 tahun. Usia yang sejatinya masih produktif sebagai atlet silat. Kondisi fisiknya juga masih terjaga. Namun, Rudi sudah memutuskan gantung sabuk silat.

“Saat ini sudah tidak aktif lagi sebagai atlet atau sudah pensiun. Keputusan ini saya tempuh, pasca dapat info di PON Papua nomor pertandingan spesialis saya (putra A, berat 45-50 kilogram) tidak dipertandingkan. Tepatnya, sejak 2017 lalu atau setahun pasca PON Jabar,” tutur Rudi.

Meski sudah tak lagi jadi atlet, Rudi sendiri masih rajin berlatih. Seminggu, biasanya ia latihan tiga kali. Tak heran, kondisi fisiknya masih terjaga.

Di luar aktivitasnya yang masih berlatih silat, Rudi juga menggeluti dunia baru. Yakni jadi bakul Soto Ayam. Ia kini membuka Warung Soto Ayam Lamongan Resep Ambengan di kawasan Pasar Wisata Cheng Hoo, Pandaan.

Rudi sudah menggeluti bisnis kuliner soto ini sejak beberapa tahun terakhir. Sebelum membuka warung di deretan kios makanan dan minuman (mamin) Pasar Wisata Cheng Hoo Pandaan, ia berjualan di rumahnya, Lingkungan Plumbon, Kelurahan/Kecamatan Pandaan.

Photo
Photo
MANTAN ATLET: Rudi saat jadi bakul Soto Ayam Lamongan di Pasar Wisata Cheng Hoo Pandaan. (Jawa Pos Radar Bromo Photo-Rizal Syatori/Radar Bromo)

Suami Maitasari, 33 ini mendapat resep Soto Ayam dari Bapak mertuanya yang asli Lamongan. Kebetulan, sang mertua juga menggeluti bisnis kuliner jualan soto ayam.

“Awal berjualan, saya masak bareng dengan istri. Tapi sekarang, saya handle semua. Termasuk saat berjualan. Sebab, istri fokus menjadi ibu rumah tangga di rumah,” terang ayah dari Safri Kasastra, 7 dan Sastra Azzahra, 5 ini.

Rudi Susanto mulai serius menggeluti dunia silat sejak ia duduk di bangku SMP. “Pencak silat sudah mendarah daging pada diri saya. Menekuninya dari kecil, dengan tekun berlatih. Alhamdulillah mampu berprestasi di tingkat nasional dan internasional,” ungkap Rudi, sapaan akrabnya.

Awalnya, ia hanya ingin belajar beladiri lantaran ia merupakan lelaki yang harus menjaga keluarganya. Namun, usai berlatih, ia merasakan kesenangan, sehingga mendalaminya. Dari situ, sejumlah prestasi mulai banyak menghampirinya. Mulai tingkat regional, nasional hingga internasional.

Bahkan, di dua edisi PON terakhir (PON Riau dan Jabar), Rudi berhasil membawa pulang medali emas untuk Jawa Timur. Jawa Pos Radar Bromo ikut menyaksikan perjuangan Rudi mempertahankan emas di PON Jabar.

Keunggulan Rudi terletak pada teknik, kesabaran serta pantang menyerah. Begitu melihat lawan lengah, ia pun langsung menyerang. Cedera di pelipis yang didapat saat di babak perempat final pun tak menghalanginya untuk terus melaju kala itu.

Selama menjadi atlet, Rudi mengaku, kebutuhan ekonominya tercukupi. Bahkan, ia masih bisa menyisihkan buah dari keringatnya itu untuk tabungannya.

Tabungan yang akhirnya sangat berguna saat ia memutuskan pensiun. Dengan sebagian tabungannya itulah, Rudi mulai merintis usaha soto.

“Selama saya menjadi atlet, istri dan anak di rumah, serta orang tua dan juga mertua semuanya mendukung penuh. Itulah yang memotivasi saya untuk berprestasi di dunia silat. Selain itu, kesuksesan itu juga tak terlepas dari bimbingan pelatih dan teman-teman,” terang alumni SMPN 1 Pandaan dan SMANOR Sidoarjo itu.

 

Incar Kesempatan Jadi Pelatih

Menjadi bakul Soto Ayam Lamongan, sejatinya bukanlah rencana utama Rudi Susanto selepas pensiun dari dunia pencak silat. “Maunya, selepas pensiun dari atlet, jadi karyawan di perusahaan atau jadi abdi negara di Pemkab atau BUMD,” terang Rudi saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di warung miliknya.

Ia pun bukannya tanpa usaha. Sejumlah lamaran kerja, ia kirim ke sejumlah perusahaan swasta hingga pelat merah. “Namun apa boleh buat, rezekinya belum dapat,” beber sarjana Strata Satu IKIP Budi Utomo Malang.

Dari situ, ia pun memutuskan untuk berwirausaha. Bisnis kuliner pun jadi pilihannya. Dengan modal resep dari sang mertua, ia pun merintis usaha sendiri.

Usahanya kini pun terus berkembang. Dari membuka warung soto di rumah, kini ia menyewa stan di kawasan Pasar Wisata Cheng Hoo Pandaan. Usahanya pun sempat terimbas Pandemi Covid-19. Namun perlahan, usahanya kembali menggeliat lagi.

Saat ini, selepas pensiun, Rudi sejatinya belum benar-benar lepas dari silat. Ia masih rajin berlatih. Seminggu, minimal tiga kali. Ia pun berangan-angan, kelak bisa menyalurkan segudang pengalamannya di dunia silat dengan menjadi seorang pelatih. “Sambil jalan, saya juga menekuni usaha soto ayam ini,” terangnya. (zal/mie) Editor : Jawanto Arifin
#atlet silat usai pensiun #atlet silat prestasi #pendekar jualan soto