Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ini Suasana di P30 Sumber, Bagai Negeri di Atas Awan

Fandi Armanto • Minggu, 26 Juli 2020 | 14:53 WIB
Photo
Photo
Bagaikan negeri di atas awan. Itulah suasana di Puncak 30 (P30) atau Pundak Lembu di Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo. Tidak heran. P30 berada di ketinggian 2.635 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lebih tinggi dari Gunung Bromo yang tingginya 2.329 mdpl .

 

HENING dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Itulah suasana Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber. Pagi itu jam masih menunjukkan pukul 07.30. Warga desa setempat mulai melakukan aktivitas rutin mereka, bertani dan berternak.

Tak lama berselang, rombongan pemuda bersepeda motor melaju. Dengan membawa tas carier ukuran besar. Motor-motor itu menaiki jalan menuju sebuah punggung gunung yang oleh penduduk sekitar dinamai Pundak Lembu atau P30.

Pundak Lembu atau P30 dapat diakses melalui ruas jalan Dusun Ledoksari. sekitar 5 kilometer dari kantor Desa Wonokerso. Kondisi ruas jalan sepanjang 2 kilometer berupa jalan makadam. Menguji ketangkasan pengunjung mengendalikan motor yang dikendarainya.

Sepanjang jalan terhampar pemandangan pertanian kubis, bawang pre, wortel, dan lainnya. Penanaman yang dilakukan dengan rapi, membuat hamparan pertanian seperti sebuah permadani.

“Ruas jalan pertama berupa makadam, di sini pengunjung harus berhati-hati sebab jalan berbatu. Sehingga harus pelan saat melintasi jalan menuju arah barat,” ujar warga Desa Wonokerso, Dandy sulistyo.

Setelah melewati jalan macadam, terdapat sebuah shelter yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat atau sekedar berhenti sejenak. Di shelter tersedia sebuah toilet dan ruangan yang dapat digunakan untuk merebahkan badan saat letih.

“Total ada tiga shelter yang bisa dimanfaatkan pengunjung. Shelter 1 ada diujung jalan macadam. Kemudian shelter 2 dan 3 masing-masing berjarak 1 kilometer hingga puncak,”  ujarnya.

Setelah melewati jalan makadam, pengunjung akan melewati jalan paving sepanjang 3 kilometer melintasi sisi pegunungan. Jalan ini memiliki lebar sekitar 1 meter, hanya kendaraan roda dua yang bisa melewati ruas jalan.

Sepanjang perjalanan pun pengunjung dapat menikmati udara segar pegunungan. Ditambah indahnya gugusan pegunungan yang nampak dari kejauhan.

“Paling cepat pengunjung dapat melintasi ruas jalan dari bawah hingga puncak selama 20 menit. Meskipun lumayan lama, pengunjung tidak akan boisan. Sebab suasananya begitu nyaman dan indaj,” teranganya.

Menjelang puncak, terdapat sebuah shelter yang cukup ramai dimanfaatkan pengunjung. Sebab shelter ini menjadi yang terakhir dan menjadi pusat berkumpulnya para wisatawan yang hendak menikmati pemandangan indah Pundak Lembu.

Satu lokasi dengan shelter, ada delapan ruangan yang diberi pembatas sebuah kayu. Nantinya ruangan ini akan dimanfaatkan sebagai kios makanan, minuman dan suvenir. Namun, saat ini belum difungsikan.

Ketua Pokdarwis Desa Wonokerso Sudir Supriyadi mengatakan, di shelter terakhir pengunjung dapat menyiapkan segala sesuatu sebelum ke puncak. Baik logistic, maupun perlengkapan yang lain. Sehingga, kebutuhan pengunjung saat berada di puncak terpenuhi.

Photo
Photo
TEMPAT BERISTIRAHAT: Shelter 1 yang berada di ujung jalan makadam dapat dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat. (Foto: Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)

“Di pos ini, pengunjung istirahat dan bersiap-siap sebelum melakukan perjalanan berikutnya. Yang terpenting adalah makanan dan minuman harus tercukupi,” tandasnya.

Untuk mencapai puncak, pengunjung harus mendaki 50 anak tangga. Kemiringan tangga pun cukup menguras tenaga. Perlu pengaturan nafas yang baik agar dapat menapaki seluruh anak tangga yang ada.

Dan klimaksnya, yaitu sampai di Pundak Lembu atau P30. Di sini, pengunjung seolah menikmati lukisan alam berupa gugusan gunung. Mulai Gunung Semeru yang nampak dari jauh. Lalu Gunung Bromo, Gunung Batok, serta Gunung Kursi yang menjadi background favorit para pengunjung saat berswafoto.

Inipula yang dilakukan Iin Dwi Septiani saat sampai puncak. Warga Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura itu baru pertama kali mengunjungi Pundak Lembu. Dia pun begitu terkesan dengan pemandangan di puncak yang laksana lukisan alam.Sejauh mata memandang, terlihat pegunungan berjajar rapi. Memberikan ketentraman hati.

Photo
Photo
SHELTER TERAKHIR: Shelter ketiga atau shelter terakhir, merupakan tempat pengunjung berkumpul sebelum naik ke Pundak Lembu. Lokasinya di bawah tangga sebelum menuju puncak. (Foto: Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)

“Walaupun jaraknya lumayan dekat dari Sukapura, tapi ini baru pertama kali saya mendaki Pundak Lembu. Pemadangannya sangat indah di puncak,” terangnya.

Menurutnya tidak ada persiapan khusus sebelum mendaki. Sebab ruas jalan dan medan menuju Pundak Lembu sudah begitu baik. Cukup mudah dilalui. Sehingga pengunjung yang belum pernah datangpun dapat mendaki dengan mudah.

“Asalkan bisa mengatur nafas dengan baik, bisa sampai dengan aman dan selamat,” tuturnya.

Ketua Pokdarwis Desa Wonokerso Sudir Supriyadi menyebut, pihaknya masih terus mengembangkan pengelolaan Pundak Lembu. Koordinasi dengan berbagai pihak terkait, juga terus dilakukan. Tujuannya tidak lain mengelola sebaik mungkin potensi alam Pundak Lembu. Sehingga, mampu mengerek ekonomi masyarakat sekitar.

“Banyak pengunjung yang datang, tentunya perlu ada koordinasi yang baik agar pengembangan wisata bisa terealisasi sesuai rencana yang telah disusun,” tandasnya. (ari/fun) Editor : Fandi Armanto
#pundak lembu #kecamatan sumber #gunung kursi #wisata kabupaten probolinggo #p30