Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengunjungi Wisata Bukit Betitang di Tiris yang Sedang Digandrungi

Jawanto Arifin • Minggu, 19 Juli 2020 | 22:00 WIB
Photo
Photo
Medan yang cukup menantang dan menguji nyali, membuat Bukit Betitang atau Bukit Blitang di Kecamatan Tiris, kini menjadi primadona baru wisata di Kabupaten Probolinggo. Panorama indah dari awal perjalanan hingga puncak, membuat pengunjung makin banyak datang.

ACHMAD ARIANTO, Tiris, Radar Bromo

Deru mesin motor terdengar di sebuah jalan rabat beton di perbatasan Desa Pesawahan dengan Desa Ranugedang, Kecamatan Tiris. Jam menunjukkan pukul 09.00. Tak lama berselang, beberapa rombongan motor bergantian melaju, hendak menuju sebuah bukit yang saat ini sedang digandrungi.

Ya, Bukit Betitang atau warga setempat menyebutnya Bukit Blitang. Bukit ini terletak di perbatasan Kabupaten Probolinggo di Desa Ranugedang, Kecamatan Tiris dan Kabupaten Lumajang.

Bukit Betitang berjarak 6 kilometer ke arah barat perbatasan dua desa ini. Melewati jalan sepanjang 2,5 kilometer Dusun Nungkinik. Jalan sudah nyaman, sebab konstruksi berupa rabat beton. Jalan pun tidak licin dan cukup aman dilalui oleh pengendara motor pemula.

Menyusuri jalan ini, berderet rumah penduduk berjajar rapi serta kebun yang digarap warga sekitar. Sesekali, tampak warga melambaikan tangan seolah menyapa kedatangan pengunjung.

Suasana hening mendominasi sepanjang ruas jalan. Hingga sampai pada sebuah pos pertama yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat.

Di pos ini diterdapat 6 warung semipermanen yang dikelola warga sekitar. Beberapa minuman hangat, makanan ringan, dan gorengan ditawarkan kepada pengunjung sebelum melanjutkan perjalanan.

"Mari mampir dulu, ngopi sebentar hangatkan badan sebelum naik," ujar Paini, salah satu warga yang membuka warung.

Dengan ramah dan cekatan, Paini melayani pesanan pengunjung yang hendak muncak. Dirinya mengatakan bahwa sudah tiga bulan belakangan berjualan di pos satu yang masih masuk wilayah administratif Desa Ranugedang.

"Awalnya sepi, namun sebulan belakangan tambah ramai. Alhamdulillah pendapatan juga sedikit meningkat," katanya semringah.

Di pos 1 ini, juga terdapat sebuah parkir motor yang dikelola oleh warga setempat. Jalan yang akan dilalui tidak semulus jalur sebelumnya. Sehingga, pemakaian motor matik dilarang. Motor yang diperbolehkan naik adalah motor bergigi. Untuk memfasilitasi itu, penduduk lokal menyediakan jasa ojek untuk pengunjung yang datang tanpa persiapan.

"Banyak pengunjung yang tidak mengerti medan, jadi membawa motor matik. Kami tidak perbolehkan karena ruas jalan berupa tanah dan menanjak sehingga sangat berisiko," ujar Dedi, pengelola parkir sekaligus penyedia jasa ojek.

Kemudian dari pos 1 menuju pos 2 memiliki jarak 4 kilometer. Ruas jalan memiliki medan yang cukup membuat jantung berdebar. Jalan tanah serta sedikit berpasir mendominasi sepanjang jalan. Ada beberapa tanjakan dan tikungan yang membutuhkan kecekatan pengendara agar tidak jatuh atau tergelincir keluar dari jalur.

Namun demikian, sepanjang jalan pengunjung dapat menikmati pemandangan kaki bukit yang menyejukkan mata. Sisi bukit yang masih berupa kebun dan tanaman liar, begitu alami belum tersentuh tangan jahil manusia. Udara sejuk pun semakin memberikan kenyamanan pengunjung.

Lama perjalanan dapat dilalui paling cepat 15 menit, hingga sampai di pos 2. Di pos ini juga terdapat beberapa warung semipermanen. Namun, tidak sebanyak di pos sebelumnya. Juga ada sebuah areal parkir. Sebab, ke puncak Bukit Betitang hanya dibolehkan berjalan kaki.

Ketua Pokdarwis Ranugedang Rike Nur Malita mengatakan, sebelumnya puncak Bukit Betitang dapat dilalui dengan menggunakan motor trail atau motor bebek bermodif trail. Sejak ramainya pengunjung, penggunaan motor tidak disarankan. Sebab, akan merusak jalur yang sudah dibuat.

"Saat ini pengunjung yang akan ke puncak, harus menitipkan motornya di tempat parkir yang telah disediakan," pungkasnya.

Jarak tempat parkir menuju puncak pun tidak terlalu jauh hanya sekitar 500 meter dengan medan yang menanjak. Sangat cocok untuk hiking.

Ruas jalan setapak telah diperbaiki oleh warga sekitar secara swadaya dan gotong-royong. Awalnya, jalan-jalan setapak berupa tanah yang cukup licin, saat ini telah dilengkapi bambu sebagai pijakan serta berfungsi sebagai penahan tanah agar tidak ambrol.

Sampai di puncak, terdapat panorama alam yang memesona. Padang sabana membentang. Berjejer Gunung Lemongan dan Gunung Tarub di sisi selatan bukit. Pemandangan ini biasa dijadikan background foto saat berada di puncak bukit.

Di puncak juga terdapat dua ojek kuda yang bisa disewa oleh pengunjung. Biasanya, ojek kuda dipakai berkeliling puncak serta untuk kebutuhan foto.

Sukirno pemilik kuda mengatakan, dirinya banyak melayani pengunjung untuk berkuda pada akhir pekan. "Ramainya pengunjung biasanya hari Sabtu-Minggu, sekitar 50 orang yang sewa kuda. Sekali sewa per orang cuma Rp 5 ribu. Hasilnya lumayan buat beli sembako," katanya.

Saiful Rahman, warga Maron, Kabupaten Probolinggo, yang saat itu datang mengatakan, dirinya baru pertama kali datang ke Bukit Betitang. Dia mendapat informasi ada wisata baru yang cukup menantang. Sebab, bisa dilalui dengan mengendarai motor sampai di puncak.

"Penasaran ke Bukit Betitang setelah ada teman cerita. Akses jalan cukup baik kalau lewat Desa Ranugedang. Walau sedikit menantang, tapi sesampainya di puncak rasa lelah akan terbayar dengan pemandangan yang indah," tuturnya.

Rike melanjutkan, sebenarnya menuju Bukit Betitang yang memiliki ketinggian sekitar 1.200 mdpl ini ada dua jalur. Yakni, jalur Dusun Nungkinik, Desa Ranugedang yang direkomendasikan untuk pengunjung asal Probolinggo. Sebab, jalur sudah nyaman dan aman. Sedangkan jalur lain berada di Kabupaten Lumajang.

"Tergantung pengunjung mau lewat jalur mana, wong tujuannya sama. Mungkin yang membedakan akses jalan dan fasilitas yang disediakan. Itu saja," ujar wanita yang juga pegiat lingkungan ini. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#gunung lemongan #bukit betitang #wisata kabupaten probolinggo #gunung tarub