Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Saat Bersepeda Makin Booming di Kota Probolinggo

Jawanto Arifin • Rabu, 24 Juni 2020 | 17:40 WIB
Photo
Photo
Belakangan, kegiatan bersepeda kian digemari. Tidak hanya di kota-kota besar, namun juga di Kota Probolinggo. Tidak peduli pagi, siang, atau malam, selalu pada pengguna jalan yang bersepeda di sejumlah ruas jalan di kota.

RIZKY PUTRA DINASTI, Probolinggo, Radar Bromo

Bersepeda awalnya banyak dilakukan di akhir pekan saja. Biasanya, kelompok-kelompok masyarakat tertentu melewati akhir pekan dengan bersepeda. Karena itu, bersepeda umumnya hanya dilakukan pagi hari, layaknya jenis olahraga yang lain. Seperti, lari pagi atau jalan kaki.

Namun, belakangan makin banyak warga yang bersepeda. Tidak hanya dilakukan berkelompok, namun juga sendirian. Bukan hanya dilakukan di akhir pekan, namun tiap hari terlihat seliweran pesepeda di jalan-jalan di kota.

Bahkan, bersepeda akhirnya tidak hanya dilakukan saat pagi. Namun, juga siang, sore, atau malam.

Bersepeda pun mulai diartikan sebagai cara berolahraga yang tepat di saat pandemi korona masih terjadi. Dan phyisical distancing masih diterapkan.

Jenis sepeda yang dipakai pun beragam. Ada yang menggunakan sepeda lipat, road bike, pixy, BMX, dan sepeda gunung.

Seperti yang ditemui harian Jawa Pos Radar Bromo, Senin (22/6) sore di Taman Manula, Jl Soekarno Hatta Kota Probolinggo. Safari Junaidi, 22, sengaja datang ke Taman Manula sore itu bersama tujuh rekannya.

Mereka datang dengan bersepeda. Begitu sampai di Taman Manula, mereka pun istirahat. Menurut warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, itu saat ini bersepeda sedang marak. Bersepeda kapanpun dan di mana pun, selalu bertemu dengan pesepeda lainnya.

“Jadi ramai. Kalau dulu bersepeda itu kan hanya Sabtu dan Minggu. Sekarang, tiap hari ada. Bahkan, mulai digemari seluruh kalangan,” tuturnya.

Jun –panggilannya- menilai, booming bersepeda kian terasa selama pandemi Covid-19. Aktivitas di rumah saja yang membosankan, membuat warga kemudian mencari cara untuk keluar rumah dengan cara aman.

Di sisi lain, tempat wisata belum ada yang buka. Karena itu, bersepeda kemudian dinilai bisa menjadi ajang rekreasi yang murah dan menyenangkan. Bisa keluar rumah, namun tetap menjaga jarak.

Jun sendiri baru suka bersepeda sejak awal tahun 2020. Mulanya ia hanya ikut-ikutan temannya. “Jadi, awalnya saya hanya ikut-ikutan. Kebetulan di rumah ada sepeda gunung. Akhirnya saya pakai,” tuturnya.

Lambat laun, Jun mulai menyukai bersepeda. Dia pun lantas ganti menggunakan road bike. Sebab, banyak teman-temannya yang menggunakan road bike.

Hal senada diungkapkan Putri Adelia, 18, yang ditemui harian ini Selasa (23/6) pagi di Museum Probolinggo. Pagi itu, Putri bersepeda dengan sekitar sembilan teman sekolahnya.

Warga Mayangan itu mengaku baru saja suka bersepeda. “Akhir-akhir ini kan banyak yang bersepeda. Akhirnya jadi ingin bersepeda juga. Jadi saya minta beli sepeda lipat ke orang tua,” tuturnya.

Secara umum, menurutnya, bersepeda memberikan banyak manfaat. Terutama, tubuh jadi lebih bugar saat rutin bersepeda.

Namun, di luar itu, bersepeda baginya bisa menghilangkan bosan selama ini.

Selama pandemi korona, menurutnya, dirinya lebih banyak di rumah. Rasa bosan pun sering dirasakannya. Karena itu, bersepeda sangat membantunya menghilangkan bosan. Apalagi, Putri bersepeda bersama teman-teman sekolahnya.

“Saya sengaja minta ayah belikan sepeda lipat. Saya dan teman-teman setiap pagi bersepeda mengitari kota. Kadang juga ke pelabuhan dan alun-alun,” katanya.

Di tengah kondisi pandemi, menurutnya, bersepeda jadi pilihan olahraga yang tepat. Saat tubuh bugar dan asupan makanan terjaga, maka daya tahan tubuh akan lebih kuat.

“Hal ini yang membuat saya dan teman-teman sering olahraga pagi dengan bersepeda. Olahraga dengan bersepeda itu lebih asyik daripada lari serta olahraga lainnya,” katanya.

Hedo Junet, 31, pun memiliki pandangan serupa tentang bersepeda. Bedanya, warga Jl Panjaitan, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, ini sudah lama hobi bersepeda.

Saking sukanya bersepeda, dia memiliki lima sepeda dengan total harga Rp 58 juta. Ada sepeda sport/balap seharga Rp 14 juta, sepeda lipat Rp 5 juta, sepeda onta Rp 2 juta.

Lalu, sepeda MTB/gunung dengan dua variasi. Yang satu suspensi seharga Rp 7 juta. Dan yang lain, full suspensi depan dan belakang seharga Rp 30 juta.

“Itu untuk sepeda yang fulsus (full suspensi) saya merakit sendiri. Kalau di toko sekitar Rp 35 juta. Soalnya sudah hobi. Jadi bukan lagi berbicara duit. Tapi masalah kepuasan,” katanya.

Heso mengaku suka bersepeda sejak SMP. Bahkan, ia memiliki klub kecil yang siap berpetulang saban Sabtu dan Minggu. “Sepeda saya dulu federal. Ya, sama sepeda gunung juga,” bebernya.

Dari hobinya bersepeda, sejumlah komunitas pecinta sepeda ia ikuti. Bahkan, beberapa minggu lalu dia ikut lomba MTB tingat nasional di Kenduro, Jogjakarta.

“Tanggal 7-8 kemarin saya ikut lomba. Namun, meski tidak naik podium, ada pengalaman berharga yang bisa dipetik,” beber putra pasangan Edi Susanto - Amaryina ini. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#gowes probolinggo #komunitas sepeda kota probolinggo #pemkot probolinggo