SEJUMLAH pria dan seorang wanita berkumpul di dekat dermaga pelabuhan Kota Pasuruan di Kelurahan Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo. Mimik wajah mereka begitu serius membaca skrip di tangan masing-masing. Usai aba-aba, mereka pun mulai beradu peran dan dialog sesuai arahan dari videografer.
Berulang kali mereka mengulang setiap dialog dan peran yang dibawakan. Maklum, masyarakat sekitar yang menyaksikan peran mereka terbawa suasana dengan tertawa lepas melihat lakon jenaka yang dibawakan.
Begitulah pemandangan yang terlihat di Pelabuhan Kota Pasuruan, pada Sabtu (14/6) malam. Mereka adalah tim Begidakan Official, salah satu influencer di Kota Pasuruan.
Malam itu mereka sedang membuat film pendek tentang Kota Pasuruan. Tidak dengan cara serius memang. Isinya diberikan dengan cara menghibur. Kemudian, diunggah melalui kanal YouTube.
"Kami sengaja memilih pelabuhan Kota Pasuruan sebagai lokasi pengambilan video kali ini. Sebab, kami ingin mengangkat budaya pesisir setempat. Kami ingin mengenalkan budaya lokal daerah agar dikenal hingga luar Kota Pasuruan," ungkap Zijoel, salah satu kru dari tim Begidakan Official.
Zijoel menjelaskan, tim Begidakan ini terbentuk pada akhir Maret. Bermula saat dirinya dengan temannya, Marco bertemu di sebuah warung kopi.
Ia lantas mengutarakan keinginannya untuk membuat serial komedi di YouTube. Ternyata keinginannya ini disambut oleh temannya tersebut. Dan awal April, tim Begidakan ini resmi terbentuk.
Ada delapan orang yang terlibat sebagai kru resmi dan tetap. Mereka adalah Zijoel, Billy, Hanum, dan Qidos sebagai aktor. Lalu ada Marco Naser sebagai videografer dan editing, Awan Pamungkas sebagai soundman dan desainer. Serta Wahyu Kurniawan sebagai music director.
Kedelapan anggota ini selalu kumpul setiap pekannya untuk membuat video pendek yang lucu. Durasinya delapan sampai 15 menit. Selain itu, tim Begidakan rutin mengundang satu bintang tamu berbeda di setiap video.
"Saya sendiri dalam video pendek lucu ini berperan sebagai Somad, lalu Billy sebagai Cak Munir, Hanum sebagai emak, dan Qidos sebagai pak RT. Peran kami tetap dalam video yang disajikan. Cuma ceritanya saja yang berbeda-beda. Yang jelas kami membawakan drama komedi," jelasnya.
Saat ini ada lima video yang sudah tayang sejak 15 April lalu. Tema yang dibawakan seputar Kota Pasuruan sebagai wisata bahari. Setiap videonya rata-rata memiliki empat hingga lima adegan.
Pengambilan gambarnya sendiri bergantung pada kondisi alam sekitar. Jika cuaca mendung, waktu untuk membuat satu film pendek ini bisa sampai tiga hari. Namun, jika sebaliknya hanya butuh waktu satu hari saja.
Zijoel mengaku pengambilan video paling sulit adalah episode keempat yang berjudul digoda patrol. Sebab, mereka harus melibatkan warga.
Sulitnya, terkadang warga terbawa suasana sehingga ikut tertawa saat menyaksikan. Kondisi ini membuat mereka harus berulang kali mengambil video untuk satu adegan saja.
Selain itu, beradu peran dengan menghafal skrip untuk setiap adegan tidak mudah. Sebab, mereka rata-rata adalah musisi.
"Namun, agar lebih mudah, kami libatkan seluruh kru dalam pembuatan adegan. Jadi, saat beradu peran bisa lebih mudah. Jadwal upload video di YouTube sendiri setiap dua pekan. Meski sulit, namun kami puas," sebutnya.
Kini, channel mereka ada 953 subscriber dengan jam tayang 1.500. Mereka pun berharap tetap bisa berkarya dengan cara mengenalkan Kota Pasuruan.
"Kami ingin channel kami terus berkembang. Sehingga, Kota Pasuruan bisa lebih dikebal ke dunia luar. Minimal daerah tetangga,” harap Billy. (riz/fun) Editor : Fandi Armanto