--------------
Desa Carat, Kecamatan Gempol, memiliki sejumlah objek wisata bersejarah. Salah satunya arca Raos Pecinan, benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit.
Namun, selain arca Raos Pecinan, desa ini memiliki objek wisata lain yang cukup unik dan langka. Yakni, Sumur Lantung. Disebut Sumur Lantung karena sumur ini tidak berisi air. Melainkan berisi semacam aspal. Lokasinya di Dusun/Desa Carat.
Tentu saja, isinya bukan aspal murni seperti di pulau Buton. Melainkan, aspal yang bercampur dengan air. Dengan warna hitam pekat seperti aspal.
Sementara itu, baunya juga seperti aspal. Namun, tidak terlalu menyengat. Biasanya, bau aspal itu tercium saat berada di dekat bibir sumur.
“Masyarakat di desa kami menyebutnya Sumur Lantung. Karena di dalamnya berisi aspal dan bercampur air,” jelas Gatot Edi Wibowo, ketua Pokdarwis Catur Manunggal Desa Carat.
Gatot menuturkan, sumur tersebut adalah peninggalan penjajahan Belanda. Tepatnya dibangun sekitar 1918.
Sumur ini tidak terlalu dalam. Hanya sekitar enam meter dan diameternya 1,5 meter di bagian bawah. Sementara di bagian atas, diameter sumur sekitar 2,5 meter.
“Menurut cerita turun temurun, dulunya oleh Belanda tempat ini mau dijadikan lokasi pertambangan. Karena itu, dibangun sumur itu. Namun, ditentang dan ditolak oleh Kades Carat pada saat itu. Sehingga, dibiarkan begitu saja, seperti sekarang ini,” bebernya.
Selama 102 tahun terbengkalai, sumur itu dibiarkan ada. Tidak diuruk. Walaupun memang kondisinya tak terawat.
Karena dinilai memiliki jejak sejarah, sumur itu pun dijadikan sebagai tempat wisata. Dan kini dikelola oleh Pokdarwis Catur Manunggal Desa Carat.
Pada 2019, sumur itu dibangun dengan biaya dari Dana Desa (DD) Carat. Saat itu, desa membangun joglo di atas sumur itu. Kemudian, di sekeliling pendapa dipasang pagar tembok, dan sekeliling sumur dipasang pagar. Lalu, permukaan joglo dipasang keramik.
Ke depan, wisata sejarah yang berada di atas tanah kas desa (TKD) itu akan terus dikembangkan. Akan dibangun kolam renang anak, serta tempat outbound.
“Selama ini kondisinya kan wingit. Karena itu, dibangun joglo dan sekelilingnya dipagar. Ke depannya wisata sejarah ini akan terus dikembangkan,” tuturnya.
Untuk menuju ke lokasi, jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari jalan nasional jurusan Pasuruan – Mojokerto. Dapat ditempuh dengan jalan kaki, mengendarai motor, atau mobil.
Di sekeliling lokasi Sumur Lantung terdapat persawahan tebu. Namun, jauh dari permukiman.
Saat ini pengunjung lokasi ini masih jarang. Sebab, belum banyak orang yang tahu tentang sumur ini. Juga belum banyak yang tahu tentang lokasinya.
Pengunjung terbanyak baru warga desa setempat. Memang ada beberapa warga luar daerah, tapi mashi sedikit. Seperti dari wilayah Mojokerto, Sidoarjo, dan Surabaya.
“Tempat ini selain unik juga langka. Sebab, Sumur Lantung tidak di semua tempat ada. Cocok dikembangkan sebagai wisata sejarah dan edukasi,” ujar Linawati, salah satu pengunjung sumur lantung asal Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol. (zal/fun) Editor : Jawanto Arifin