Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Curhat Pedagang Pasar Sapi Wonoasih yang Tetap Beraktivitas saat Pandemi

Jawanto Arifin • Rabu, 29 April 2020 | 17:19 WIB
Photo
Photo
Di tengah maraknya imbauan physical distancing, pasar ternak Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, selalu dijubeli ratusan pedagang. Tiap Selasa, mereka bertransaksi seperti biasa. Bagi mereka, stay at home atau di rumah saja berarti keluarga akan kelaparan.

RIDHOWATI SAPUTRI, Wonoasih, Radar Bromo

Selasa (28/4) pagi itu, pasar ternak Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, kembali dipenuhi pedagang. Ratusan orang bertransaksi di sana, seolah tidak peduli pandemi korona terjadi. Tanpa physical distancing, juga tanpa masker, mereka beraktivitas seperti biasa.

Pasar pun penuh sesak dengan puluhan kendaraan, mulai kendaraan roda tiga, pikap, sampai truk memadati ruas Jalan Kyai Syafii. Bahkan, kendaraan ini sampai masuk ke Jalan Mastrip. Membuat kendaraan yang melintas di Mastrip harus bersabar antre atau memutar balik.

Di dalam pasar sendiri, jangan tanya situasinya seperti apa. Ratusan orang bercampur dengan ratusan ternak sapi dari berbagai jenis serta ukuran.

Memang ada banner imbauan penerapan protokol kesehatan di depan pasar. Namun, banner itu seolah tidak berfungsi.

Bahkan, hampir semua tidak memakai masker. Jikalau ada, hanya beberapa orang saja. Ada yang menggunakan masker, tapi hanya ditempatkan di dagu. Ada juga yang menggunakan masker dari kain yang berfungsi untuk menutup leher.

Saat situasi normal, ketika hari pasaran, jumlah ternak yang masuk bisa mencapai 450-900 ekor per hari. Namun kini, situasi pasar ini jauh lebih ramai.

Sebab, hari pasaran dikurangi. Biasanya dua hari dalam seminggu, Selasa dan Sabtu. Kini, pasar ternak ini hanya boleh buka di hari Selasa.

Di tambah lagi, pasar ternak di berbagai daerah tetangga sudah ditutup. Seperti Lumajang, Jember, dan Kabupaten Probolinggo. Karena itu, pasar ternak Jrebeng Kidul jadi jujukan para pedagang ternak saat ini. Jadi, satu-satunya harapan tempat untuk mendapat rezeki dari berdagang ternak.

Harian ini menemui beberapa pedagang yang sibuk menurunkan beberapa ekor sapi, kemarin. Ada Agus Setyawan, 45, warga asal Lumajang. Menurutnya, hanya pasar ternak di Kota Probolinggo yang masih buka. Karena itu, dia pun pindah berjualan ke Kota Probolinggo.

“Lumajang, Jember, dan Kabupaten Probolinggo sudah tutup. Makanya, semua pedagang sapi akhirnya berkumpul di sini,” ujarnya.

Agus pun berharap pasar ternak Jrebeng Kidul tidak tutup seperti yang lain. Karena kalau pasar ini tutup, pedagang menurutnya tidak punya lahan untuk berjualan.

“Saya berharap di sini ndak ditutup juga. Kalau di sini ditutup, kami mau jualan di mana,” keluhnya.

Memang, saat ini pandemi korona terjadi. Bahkan, di Lumajang menurutnya, puluhan orang telah dinyatakan positif korona. Namun, jika berjualan menunggu wabah ini selesai, maka pedagang seperti dirinya tidak akan bisa menghidupi keluarga.

“Kena korona bisa mati, diam di rumah tak ada penghasilan, jadi kelaparan akhirnya juga mati. Sama-sama mati, ya lebih baik kerja saja bisa menghidupi anak-istri,” ujarnya.

Agus pun memakai masker. Namun, memang menjaga jarak tidak bisa dilakukan di pasar ternak.

“Saya bawa masker kain seperti anjuran pemerintah. Tapi, bagaimana mau jaga jarak. Namanya pasar ya ramai seperti ini,” tambahnya.

Diakuinya, dirinya sebenarnya ingin berdiam di rumah. Berjualan dari rumah. Namun, jualan sapi bukan jualan yang bisa dilakukan di rumah saja.

“Mau dijual lewat HP, pasti pembeli ingin tahu kondisi aslinya. Beda kalo beli baju, bisa dikirim online. Kalau sapi kan tidak bisa dikirim online,” ujarnya.

Apalagi dengan banyaknya pasar ternak yang tutup, maka satu-satunya lokasi berjualan adalah pasar ternak Jrebeng Kidul. “Kena korona mati. Nggak kerja keluarga saya mati kelaparan,” ungkapnya.

Agus sendiri, kemarin berhasil menjual dua anakan sapi miliknya. Itu, menurutnya cukup untuk biaya hidup.

“Hari ini laku dua anakan sapi seharga Rp 10 juta. Lumayan hasilnya buat hidup. Sekarang sulit jualan. Kalau pasar ini ditutup malah tambah sulit,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Ahmad, 40, warga Leces, Kabupaten Probolinggo. Dirinya mengerti, saat ini ada wabah korona. Tapi, dia tetap berdagang karena ini adalah pekerjaan satu-satunya yang bisa dia lakukan.

“Belantik sapi ini pekerjaan saya satu-satunya. Kalau pasar ditutup saya mau kerja apa? iya kalo ada bantuan, saya belum dapat bantuan dari pemerintah,” ujarnya.

Kalau tidak bekerja, ujung-ujungnya menurutnya, anak-istrinya bisa kelaparan. “Pegawai negeri enak, gaji dari pemerintah. Kalau saya, ndak punya sawah. Cuma bisa kerja jadi belantik, malah disuruh tidak kerja. Lha anak-istri saya mau makan apa,” tambahnya ketus.

Sudiman, kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dipertahankan) Kota Probolinggo mengungkapkan, cukup sulit menutup pasar ternak Jrebeng Kidul. Sebab, pasar ini menjadi pusat ekonomi masyarakat.

“Sejak pasar-pasar ternak lain ditutup, otomatis di sini menjadi sasaran pedagang dari luar kota. Makanya membeludak pengunjungnya,” ujarnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#covid 19 probolinggo #pedagang sapi #pasar sapi wonoasih #virus corona probolinggo #pandemi corona #pasar sapi