ERRI KARTIKA, Bangil, Radar Bromo
Mata perempuan muda itu tampak awas melihat jarum jahit. Lalu, dia membentuk pola di kain putih di depannya. Saat sudah berada di ujung, dia tampak berhati-hati memindahkan kain agar tak sampai terkena jarum di atasnya.
“Kalau sampai terkena jarum, risiko kain bisa sobek. Dan jika sobek, jelas baju hazmat ini pasti tidak bisa dipakai,” jelas Fais Yunianti, 53, pemilik Faiza Bordir di Kalirejo, Bangil.
Jenis kain yang digunakan hazmat yaitu bahan spunbond. Bahan ini antiair dan diperuntukkan untuk hazmat yang merupakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tim medis di lapangan.
Faiza mengatakan, ide membuat hazmat memang tidak sengaja. Hal ini dipicu dari keprihatinnya karena mengetahui tim medis dari dokter dan perawat yang meninggal dunia karena kesulitan APD.
“Jadi, perasaan saya ini terketuk dan prihatin kok banyak dokter yang jadi korban. Apalagi, banyak teman-teman dokter yang meminta bantuan juga ke saya agar dibuatkan APD,” terangnya.
Sebagai pembuat busana yang fokus di bordir, Faiza awalnya tidak tahu menahu tentang model dan cara pembuatan APD. Namun, temannya yang dokter lantas memberitahu desain dan cara pembuatan APD. Selain itu, dirinya juga mencari tahu standar dari WHO.
Hasilnya, Faiza pun mulai memproduksi hazmat. Awalnya memang cukup sulit. Pertama ada 12 penjahit yang diajari membuat hazmat.
“Karena pertama, memang harus sangat hati-hati. Untuk jahitan sama seperti kain biasa. Hanya saja harus hati-hati tidak sampai terkena jarum. Karena kalau sampai kena, bisa sobek dan jelas tidak bisa dipakai,” terangnya.
Dari 12 penjahit, saat ini sudah berkembang menjadi 50 penjahit yang ikut serta. Tak hanya menjahit di butik. Tapi juga dibawa pulang ke rumah-rumah untuk pembuatan hazmat.
Untuk bahan kain, awalnya cukup sulit juga. Namun, saat ini sudah ada distributor yang mengirim bahan spunbond.
Dari 50 penjahit, saat ini sehari bisa memproduksi hingga 500 hazmat. Jumlah ini dikatakan masih kurang karena permintaan bisa sampai seribu per hari.
Faiza sendiri sudah mencoba merangkul penjahit-penjahit lain di sekitar. “Namun, kendalanya ada yang nggak pede menjahit hazmat. Jadi, memang dari tenaga penjahit masih terbatas,” terangnya.
Itu pun jam kerja pembuatan dimulai sejak pagi pukul 07.00 sampai 16.00. Bahkan, penjahit juga sampai lembur dan ada yang dibawa sampai ke rumah.
Penjahit pun tidak bisa sembarang menjahit. Ada SOP yang harus dipenuhi. Seperti, harus higienis, memakai masker, dan setiap selesai harus meletakkan di tempat yang bersih.
Dari segi harga, hazmat buatan Faiza cukup terjangkau. Satu Hazmat seharga Rp 65 ribu. Untuk warna putih yang bahannya lebih sulit, harganya lebih mahal yaitu Rp 75 ribu.
Saat ini hazmat buatannya justru banyak dipesan ke luar daerah. Mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Jakarta, Kalimantan, Riau, Bali, dan Aceh. “Seperti hari ini, pesanan 300 ke Surabaya dan 200 ke Bangka Belitung. Jadi, yang diproduksi hari ini langsung habis,” terangnya.
Sebenarnya menurutnya, permintaan sangat tinggi. Bahkan, bisa sampai seribu. Namun, kendalanya saat ini tenaga yang terbatas.
Faiza pun mengaku sangat bersyukur bisa membantu garda terdepan pemberantasan korona dengan pembuatan hazmat. Harapannya, hazmat buatannya bisa membantu tim medis untuk menjaga diri dan bisa melawan korona saat bertugas. (hn) Editor : Jawanto Arifin