---------------
Satu dari perajin jamu tradisional itu adalah Dodik Endriansyah, 36. Lelaki yang berprofesi sebagai guru honorer K2 tersebut, sudah menjalani bisnis jamu sejak 2003.
Kisahnya berawal saat kakak perempuannya tengah hamil tujuh bulan. Kebetulan, kakaknya punya usaha jamu.
"Karena kakak saya hamil, jadinya beliau tidak bisa mengirim ke pabrik. Makanya, saya yang diminta untuk gantikan," kisah Dodik.
Saat itu pesanan datang dari pabrik lampu di wilayah PIER. Puluhan botol jamu tradisional harus dikirim setiap harinya. Jamu tradisional yang dimaksud adalah sinom dan beras kencur.
Untuk bisa memenuhi pesanan, ia dituntut bisa membuat jamu sendiri. Ketika itu, ia memang sempat gagal membuatnya. Khususnya membuat jamu beras kencur.
"Gagalnya karena urut-urutan pembuatan jamu salah," kata lelaki yang menjadi honorer K2 di SDN Kiduldalem 1 Bangil sejak 2004.
Ia harus belajar berhari-hari. Ia juga harus melihat kakaknya mempraktikkan cara pembuatan beras kencur. Tidak boleh ada yang salah. Karena bila salah, jamu pun gagal menjadi seperti yang diharapkan.
"Pembuatannya harus berurutan. Misalnya perendaman berasnya harus semalaman. Bila kurang lama atau kelamaan, bisa enggak jadi," sambungnya.
Hingga beberapa kali percobaan. Jamu beras kencur yang dibuatnya, hasilnya memuaskan. Lantas, jamu itu dikemas dalam botol untuk dipasarkan.
Menurut Dodik, jamu yang dijual harganya bervariasi. Antara Rp 10 ribu hingga Rp 13 ribu untuk jamu yang dikemas dalam botol berukuran 1,5 liter.
Seperti jamu beras kencur. Harganya Rp 13 ribu per botol. Dalam sehari, ia bisa memasarkan 30 botol jamu tersebut.
"Sekarang saya jual di tepi jalan. Karena pabrik yang biasa saya kirimi, sudah tutup," ulasnya.
Dodik bukanlah satu-satunya pelaku usaha jamu tradisional di Kolursari. Karena ada warga lain yang bertahan hingga sekarang.
Lurah Kolursari, Kecamatan Bangil, Mulyono menuturkan, ada sejumlah pelaku usaha jamu tradisional di Kolursari, Kecamatan Bangil. Bahkan, ada sebuah gang, yakni Gang Satria yang memiliki perajin jamu tradisional lebih dari lima orang.
Banyaknya pelaku usaha jamu itu, membuat kampung setempat kerap disebut kampung jamu. "Wilayah kami memang dikenal sebagai pelaku usaha jamu. Karena usaha jamu tradisional banyak dibuat warga," tuturnya.
Dulu, kata Mulyono, pedagang menjualnya keliling dengan cara digendong. Namun seiring waktu, cara tradisional itu ditinggalkan. Pedagang lebih memilih menggunakan kendaraan, seperti roda dua untuk memasarkan produknya. Selain lebih jauh jangkauannya, juga lebih menghemat tenaga.
"Sekarang tidak ada jamu gendong. Sebab, pedagang berjualan mengendarai motor. Terlebih lagi, pedagang-pedagang jamu gendong sudah banyak yang meninggal dunia," urainya.
Produk jamu warga Kolursari, Kecamatan Bangil, beragam. Tidak hanya beras kencur atau sinom. Tetapi, juga jenis lain. Termasuk temulawak, kunci suruh, dan lainnya.
Pembuatan jamu-jamu tradisional tersebut sudah lama dilakoni warga Kolursari, Kecamatan Bangil. Bahkan, seolah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun temurun.
Meski sudah ada sejak lama, produk jamu buatan warga Kolursari tak lekang oleh zaman. Buktinya, hingga sekarang pasarnya tetap terjaga. Banyak orang yang meminatinya. Bahkan, nyaris tak kalah dengan pasar jamu pabrikan.
"Ada pasar-pasarnya sendiri. Masyarakat menyukai produk jamu tradisional karena mungkin dibuat dari produk rempah-rempah murni," pungkasnya. (one/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin