Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Saat Dewi Rengganis Mandi di Air Terjun Jaran Goyang, Sakitnya pun Sembuh

Jawanto Arifin • Sabtu, 24 Desember 2022 | 22:15 WIB
JUJUGAN WISATA: Air terjun Dewi Rengganis di Desa Guyangan, Kecamatan Krucil kini menjadi salah satu jujugan wisata di Kabupaten Probolinggo. Air terjun itu ditemukan warga sejak tahun 1760-an. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
JUJUGAN WISATA: Air terjun Dewi Rengganis di Desa Guyangan, Kecamatan Krucil kini menjadi salah satu jujugan wisata di Kabupaten Probolinggo. Air terjun itu ditemukan warga sejak tahun 1760-an. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
AIR terjun Dewi Rengganis yang saat ini lebih populer disebut dengan air terjun Jaran Goyang memiliki legenda yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat setempat. Air terjun ini dipercaya menjadi tempat mandi salah satu keturunan Raja Brawijaya.

Air terjun Dewi Rengganis berada di Dusun Jaran Goyang, Desa Guyangan, Kecamatan Krucil. Untuk sampai ke sini, pengunjung harus menempuh jalan sepanjang 3 Kilometer ke arah barat Kantor Desa Guyangan. Ruas jalan ini sudah dapat dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat.

Setelah melintasi jalan sepanjang 2 kilometer, pengunjung akan tiba di tempat parkir khusus. Namun perjalanan belum selesai. Pengunjung harus menempuh jalan setapak sepanjang 350 meter dengan waktu tempuh 15 menit untuk sampai di lokasi air terjun.

Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 70 meter ini dikelilingi terbing berbatu. Udara sejuk dan cipratan air yang terbawa angin membuat kulit terasa dingin. Pada hari-hari tertentu atau saat sepi pengunjung, aura di sekitar air terjun menjadi lebih mistis.

Wajar. Secara turun temurun, air terjun ini dipercaya sebagai tempat keramat. Bahkan, saat ini warga setempat masih mengeramatkan tempat ini.

Photo
Photo
JUJUGAN WISATA: Air terjun Dewi Rengganis di Desa Guyangan, Kecamatan Krucil kini menjadi salah satu jujugan wisata di Kabupaten Probolinggo. Air terjun itu ditemukan warga sejak tahun 1760-an. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)



Kepala Desa Guyangan, Hasyim mengatakan, air terjun Dewi Rengganis sudah ada sejak tahun 1760-an. Konon tempat tersebut merupakan hutan belantara.

Kemudian Dewi Rengganis puteri Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit melarikan diri sampai ke wilayah yang saat ini bernama Desa Guyangan. Dalam pelariannya itu, Dewi Rengganis yang memiliki paras rupawan menderita sakit.

Untuk menyembuhkan sakitnya, dia pun melakukan semedi. Lantas mandi di pancuran air terjun tersebut.

“Ceritanya sudah turun temurun. Dewi Rengganis saat melakukan pelarian dan jatuh sakit. Kemudian mandi di pancuran air terjun itu dan sembuh. Setelah itulah, air terjun lantas diberinama Dewi Rengganis,” katanya.

Jika ditelisik, legenda Dewi Rengganis melekat kuat di kalangan masyarat sekitar Gunung Argopuro. Tidak hanya Dewi Rengganis yang dikenal di kalangan para pendaki. Beberapa Dayang-dayangnya pun sangat dikenal. Di antaranya dayang Dewi Selendang Biru yang sering dimintai pertolongan.

Ada juga beberapa dayang yang suka menggoda para pendaki pria dengan mengajak berkencan. Sehingga pendaki tersebut akan senang dan tidak mau meninggalkan Gunung Argopuro.

“Masyarakat juga percaya bahwa Dewi Rengganis pernah singgah di beberapa tempat di sekitar Pegunungan Argopuro,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, saat ini popularitas air terjun Dewi Rengganis mulai tergeser. Air terjun ini sekarang lebih populer dengan sebutan air terjun Jaran Goyang.



Padahal sebenarnya, air terjun Jaran Goyang dan air terjun Dewi Rengganis adalah dua air terjun yang berbeda. Air terjun Jaran Goyang berada sekitar 100 meter sebelum masuk ke areal air terjun Dewi Rengganis.

Air terjun ini juga memiliki cerita menarik. Konon air terjun yang memiliki tinggi sekitar 15 meter itu pernah didatang Ratu Wilhelmina dari Kerajaan Belanda. Saat itu Sang Ratu memandikan kuda yang ditungganginya di air terjun itu. Namun saat dimandikan, kuda justru tidak tenang, memberontak, dan susah dikendalikan.

“Warga setempat yang saat itu turut mengawal ratu lantas menyebutnya air terjun jeren gujeng (kuda yang memberontak). Nama itu melekat sampai sekarang. Saat ini banyak pengunjung yang datang menyebut air terjun Dewi Rengganis dengan nama air terjun Jaran Goyang,” tuturnya.

 

Jadi Wisata Unggulan Desa

Saat ini air terjun Dewi Rengganis, maupun air terjun Jaran Goyang menjadi wisata unggulan Desa Guyangan. Tak heran, pemerintah desa setempat begitu getol mengembangkan wisata desanya. Baik wisata yang sudah ada, maupun wisata yang memang sengaja dikembangkan.

Pada 500 meter pertama menuju lokasi air terjun misalnya, tersedia sebuah rest area yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk melepas penat sebelum melanjutkan perjalanan. “Di rest area pengunjung bisa bersantai sejenak. Kami juga sediakan kendaraan yang nantinya bisa disewa untuk mengantar ke air terjun," kata Kepala Desa Guyangan Hasyim.

Lalu di Dusun Jaran Goyang ada sebuah kafe dan taman. Dekat dengan tempat parkir. Uniknya taman ini ditanami sebanyak 99 jenis bunga dan pohon. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Sementara di lokasi air terjun juga disediakan dua gazebo yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung untuk beristirahat melepas penat.

Pemerintah Desa Guyangan juga menggelontorkan anggaran untuk membangun infrastruktur pendukung wisata. Sebab ada beberapa titik yang perlu dibangun untuk keselamatan dan keamanan pengunjung.



Pihak desa juga masih melakukan pemetaan infrastruktur apa lagi yang dibutuhkan oleh kawasan wisata. Tentunya realisasi nanti menyesuaikan ketersediaan anggaran desa.

“Fasilitas kami lengkapi secara bertahap, saat ini sudah layak untuk dikunjungi. Bukan hanya untuk hiking tetapi juga bisa dikunjungi rekreasi bersama keluarga,” bebernya. (achmad arianto/hn) Editor : Jawanto Arifin
#dewi rengganis #air terjun jaran goyang #air terjun guyangan