Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Riwayat Mbah Sayyid Arif Segoropuro

Ronald Fernando • 2022-12-04 00:34:47
NGALAP BERKAH: Salah satu pengunjung membacakan tahlil di Makam Mbah Sayyid Arif.
NGALAP BERKAH: Salah satu pengunjung membacakan tahlil di Makam Mbah Sayyid Arif.
Nama Desa Segoropuro di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, tidak bisa dipisahkan dari cerita tentang Mbah Sayyid Arif. Seorang alim asal Kota Makkah, Arab, sekitar tahun 1520-an yang tinggal di desa itu.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebelum menjadi desa seperti sekarang, dahulu Segoropuro merupakan hutan belantara. Batas laut bersebelahan dengan padepokan Mbah Sayyid Arif.

Jauh sebelum Mbah Sayyid Arif menginjak tanah Desa Segoropuro, dia merupakan santri dari Mbah Soleh di Winongan, Kabupaten Pasuruan. Kala itu, dia bersama kakaknya Mbah Sayyid Sulaiman menimba ilmu ke Mbah Soleh.

Keduanya, Mbah Sayyid Arif dan Mbah Sayyid Sulaiman merupakan sosok alim. Ketika menyantri, Mbah Soleh Winongan memprioritaskan keduanya.

Sebab, saat keduanya istirahat kala itu, dia melihat cahaya di antara keduanya. Kemudian Mbah Soleh memberi tanda dengan membundel pakaiannya.

Saat perkumpulan para santri, Mbah Soleh bertanya pada para santrinya. Siapakah di antara mereka yang pakaiannya dibundel?.

Mbah Sayyid Arif dan Mbah Sayyid Sulaiman pun mengakuinya. Sejak saat itu, Mbah Soleh tahu bahwa keduanya bukan orang sembarangan.

Tak hanya menyantri. Mbah Sayyid Arif dan Mbah Sayyid Sulaiman juga ikut serta memerangi penjajahan Portugis. Mereka ikut membantu Nusantara atau Indonesia keluar dari belenggu jajahan Portugis.

Lantaran kealimannya, Mbah Soleh menikahkan putrinya dengan Mbah Sayyid Arif. Zaman itu, barang siapa yang sudah menikah, maka wajib menyiarkan Islam ke wilayah yang belum tersentuh syariat Islam.

Maka, Mbah Sayyid Arif pergi ke Desa Segoropuro. Sedangkan kakaknya, Mbah Sayyid Sulaiman pergi ke Kraton yang kemudian mendirikan Pondok Sidogiri.

Datanglah Mbah Sayyid Arif ke wilayah pesisir tersebut, kala itu banyak tumbuh pohon tua di sekitarnya. Dia lantas mendirikan sebuah padepokan di sana untuk mendidik warga sekitar.

Dengan mudahnya, Mbah Sayyid Arif mencabuti sejumlah pohon tua di sana. Lalu, membangun padepokan.

Begitu padepokan berdiri, satu per satu warga datang ke padepokannya untuk menimba ilmu. Ada puluhan santri yang setiap hari menimba ilmu padanya.

Namun, karena berdiri di pesisir, para santrinya sering terganggu dengan suara ombak di laut. Apalagi saat aktivitas belajar mengajar di padepokan itu. Menurut mereka, suara ombak itu lebih keras daripada suara Mbah Sayyid Arif.

Demi kenyamanan santrinya menimba ilmu, Mbah Sayyid Arif pun berniat memindahkan tepi laut atau pesisir ke utara. Agar suara ombak laut tidak lagi mengganggu santrinya.

Maka, beliau pun berdoa dengan mengenakan surban dan tasbihnya. Dan ajaib. Pesisir laut pun lantas pindah sejauh dua kilometer dari padepokannya. Seketika wilayah padepokan itu menjadi daratan yang hanya dipenuhi pohon-pohon besar.

“Yang namanya orang alim atau waliyullah, logika kita tidak sampai ke sana,” ujar Ketua Yayasan Sayyid Arif Segoropuro Fathullah, 50.

Namun, ternyata Mbah Sayyid Arif merasa sangat bersalah pada Allah. Sebab, baginya dia sudah mengingkari nikmat Allah. Dia pun menangis sembari memohon ampunan dengan membaca Astaghfirullah berulang-ulang. Mbah Sayyid Arif terus memohon ampunan pada Allah dengan sangat tulus.

Tindakannya yang segera jaluk pangapuro itu kemudian dijadikan nama desa itu oleh santrinya. Menjadi desa Segoropuro atau segera jaluk pangapuro.

Supali, 90, salah satu warga setempat mengatakan, padepokan itu kini menjadi tempat ibadah warga sekitar. Warga menjadikan pedepokan itu masjid yang tak jauh dari makam Mbah Sayyid Arif.

Dan hingga kini, pesarean Mbah Sayyid Arif sangat ramai dikunjungi warga dari berbagai wilayah. Seperti Surabaya, Jember, Probolinggo, dan daerah lain. Lalu setiap Jumat Legi suasana pesarean penuh.

Karena itu, pengelola tempat itu pun menyediakan sejumlah fasilitas untuk warga yang datang. Seperti parkir kendaraan besar. Bus dan travel.

“Sehari-harinya selalu ada orang berkunjung. Sekitar puluhan orang dari luar kota,” katanya.

Penjaga parkir Yusuf mengatakan, warga yang datang itu tujuannya ngalap berkah. Ada yang rombongan, bersama keluarganya, dan lainnya.

“Selain itu, orang yang tirakat juga banyak. Di antara mereka ada yang tabib, kiai, tokoh politik, dan lainnya. Namun batasannya hanya selama 41 hari,” tuturnya. (fuad alyzen/hn)

Photo
Photo
Supali mengirim Al-Fatihah ke Mbah Sayyid Abdurrahman. Ayah Mbah Sayyid Arif.

Tempat Warga Mencari Rezeki

Keberadaan pesarean Mbah Sayyid Arif memberikan keberuntungan bagi warga sekitar di Desa Segoropuro. Dari sana, mereka bisa mengais rezeki. Banyak warga berdagang makanan dan minuman di sekitar makam Mbah Sayyid Arif. Selain area parkir yang selalu ramai.

Setiap malam Jumat Legi, makam itu selalu ramai didatangi warga untuk mengalap berkah. Biasanya yang datang bisa 2 sampai 3 bus.

“Banyak yang datang ke sini. Selama ke sini mereka selalu membeli dagangan warga sini,” ujar seorang pedagang yang tak mau disebut namanya.

Tak hanya Jumat Legi, di hari biasa pun banyak orang yang ziarah ke makam Mbah Sayyid Arif. Kadang rombongan adalah peziarah Wali Lima yang baru berangkat dan mampir di sana. Ada juga yang mampir dalam perjalanan pulang setelah ziara Wali Lima.

Selain pedagang, ada juga warga yang bertugas menjaga kebersihan serta merawat area pesarean. Sehingga, wilayah pesarean tetap bersih, aman, dan nyaman ketika didatangi warga.

“Jadi, ada warga yang dibayar untuk merawat pesarean ini agar tetap bersih dan nyaman,” kata Supali, orang yang sudah dua minggu tidur di pesarean.

Ada pula penjaga parkir yang juga mengais rezeki di sana. Para penjaga parkir ini mendapat sekian persen dari biaya parkir yang didapat. (Fuad Alyzen/hn)



Juga Ada Makam Sejumlah Tokoh

Tak hanya makam Mbah Sayyid Arif. Di area pesarean di Segoropuro juga terdapat sejumlah tokoh penting lainnya. Antara lain, makam Mbah Sayyid Abdurrohman yang terletak sekitar 10 meter sebelah utara masjid. Lalu, makam Mbah Kendil yang ada di sebelah baratnya makam Mbah Sayyid Abdurrohman.

Supali, 90, warga setempat mengatakan, Mbah Sayyid Abdurrohman merupakan ayah kandung dari Mbah Sayyid Arif dan Mbah Sayyid Sulaiman.

Selain menimba ilmu di pesantren, Mbah Sayyid Arif juga berguru pada ayahnya itu. Setelah mendirikan padepokan di Desa Segoropuro, dia juga yang mengarahkan Mbah Sayyid Arif mendidik warga. Namun, derajat kewaliannya lebih mansyur Mbah Sayyid Arif.

“Iya ini berdasarkan cerita dari tokoh dan sesepun di sini (Desa Segoropuro),” ujarnya.

Selain itu, mereka juga mempunyai seorang pembantu. Dia adalah Mbah Kendil. Dia merupakan juru masak dan tukang bersih-bersih di padepokan Mbah Sayyid Arif dan Sayyid Abdurrohman.

Namun, Mbah Kendil sendiri sejatihnya juga merupakan seorang waliyullah. Dia berasal dari warga sekitar, yakni warga Desa Wates, Kabupaten Pasuruan.

Selain itu, di sekitar pesarean itu juga ada makam Mbah Embo. Dia merupakan warga sekitar yang dimakamkan di sana. Selama hidup, Mbah Embo konon mengerti bahasa hewan.

Seperti yang diungkapkan Ketua Yayasan Mbah Sayyid Arif Segoropuro Fathullah, 50. Mbah Embo menurutnya, mempunyai banyak santri dari berbagai wilayah. Dia juga seorang tabib di Desa Segoropuro.

Semasa hidup Mbah Embo memelihara banyak hewan. Di antaranya anjing, burung, dan hewan lainnya. Menurut cerita turun temurun, Mbah Embo hampir tidak pernah mandi dan memiliki rambut panjang. “Setahun sekali dia mandinya,” katanya.

Namun, menurut Fathullah, tidak ada yang mengetahui agamanya apa. Sebab, dia hafal Alquran. Namun dia juga tidak pernah salat setiap  harinya. “Belum sampai seribu harinya dia meninggal dunia,” lanjutnya.

Di wilayah pesarean itu, terdapat gua yang konon ada tiga cabang. Jika ke area barat tembusnya ke Baitullah, ke arah utara tembusnya ke makam Mbah Batu Ampar. Sedangkan ke selatan tembusnya ke pantai selatan.

Namun, pengelola memilih menutupnya lantaran tempat itu banyak hewan berbahaya. Ada ular berbisa dan hewan berbahaya lainnya. Sebelum Pandemi Covid-19, gua itu merupakan tempat tirakat pengunjung, maupun warga sekitar.

“Itu masih belum diketahui hingga sekarang. Apa gua itu ada hubungannya dengan Mbah Sayyid Arif atau bagaimana. Masih simpangsiur. Sejak dulu gua itu sudah ada,” katanya. (Fuad alyzen/hn) Editor : Ronald Fernando
#hikayat #ulama Pasuruan