Ada cerita khusus yang dipercaya warga di sekitar wisata alam Banyubiru tentang asal usul ikan Sengkaring. Seperti yang disampaikan Subandi, juru kunci wisata alam Banyubiru di Desa Sumberrejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan.
Menurutnya, ikan tersebut adalah peninggalan pasukan Majapahit yang menemukan tempat tersebut. Dia adalah Tombro. Tombro merupakan satu dari dua orang pasukan dari Majapahit.
Mereka kemudian menetap di sekitar Banyubiru. Selama menetapa di sana, sehari-hari Tombro bertani. Dia juga memelihara dua ekor kerbau.
Pada suatu hari, kerbau peliharaan Tombro dilepas dari kandangnya. Kedua ekor kerbau itu lantas mencari makan sendiri tanpa ditemani tuannya maupun penggembalanya.
Keanehan kemudian terjadi. Saat tiba waktunya pulang, dua ekor kerbau itu tidak pulang. Padahal, biasanya kerbau-kerbau itu pulang sendiri. Tombro sendiri baru mengetahui hal itu saat hendak menutup kandang kerbaunya. Ternyata, dua kerbaunya tidak ada di kandang.
Bergegaslah dia mencari kerbaunya ke hutan yang berada di sekitar desanya. Tidak begitu sulit mencarinya, sebab dia melacak bekas kaki-kaki kerbaunya.
Ternyata kedua ekor kerbaunya sedang asyik berkubang di sebuah kolam kecil yang tidak pernah dipelihara. Tombro berteriak-teriak agar hewan peliharaannya itu pulang ke kandang.
Namun, kedua kerbaunya tak bisa meninggalkan kolam itu. Mereka terperangkap dalam lumpur. Mengetahui hal itu, Tombro segera memetik empat daun keladi yang banyak tumbuh di sekitar kolam.
Langsung saja, empat buat daun itu dia hamparkan di depan kedua ekor kerbaunya. Lalu sekali lagi Tombro membentak kerbaunya agar pulang ke kandang..
Lalu, kedua ekor kerbau itu mulai bergerak. Kaki-kaki mereka menggapai daun keladi, lalu tiba-tiba berdiri dan keluar dari kubangan. Hewan-hewan itu lantas lari pulang ke kandangnya.
"Ternyata kerbau itu menunjukan sesuatu. Setelah kerbau tadi pergi, kolamnya menjadi jernih sekali. Bahkan, di sela-sela ranting yang berada di dasar kolam tampak dua ekor ikan Sengkaring sedang asyik berenang," tuturnya.
Ia menjelaskan, ikan tersebut kini beranak pinak. Bahkan jumlahnya mencapai ribuan. Dan karena yang menemukan pertama kali adalah Mbah Tombro, maka ikan itu dikenal dengan nama ikan tombro.
"Ini peninggalan Mbah Tombro. Kalau Mbah Kebut itu paron peninggalannya," jelasnya.
Tak Boleh Makan Ikan dari Kolam Utama
Ikan Sengkaring yang mulanya berjumlah dua ekor itu, kini menjadi ribuan ekor. Dan meskipun sudah beranak pinak, ikan Tombro yang ada di kolam utama tak boleh dimakan dan dibawa pulang.
Subandi, juru kunci Pemandian Alam Banyubiru menjelaskan, para pengunjung dilarang mengambil ikan Sengkaring yang ada di kolam utama. Sebab, dulunya ada pesan dari Mbah Tombro yang melarang memindahkan ikan tersebut dari asalnya.
"Jadi saat ditemukan itu dilarang dipindahkan. Karena itu, sejak dulu sampai sekarang ikannya banyak," katanya.
Bila larangan itu dilangar, maka pelakunya akan terkena sial. Bandi -sapaan akrabnya - mengaku sudah banyak kejadian tak enak pada orang yang melanggar larangan itu.
Bahkan, ada yang tak percaya dan ingin mengambil ikan itu. Tapi, sebelum mengambil yang bersangkutan langsung pingsan tanpa sebab.
Ada pula pengunjung yang membawa ikan tersebut pulang. Mereka mendapatkan firasat tak enak. Dan beberapa hari kemudian mengembalikan ikan tersebut. "Banyak sudah buktinya. Jadi memang tidak main-main," tuturnya.
Namun, berbeda jika ikan itu secara alami keluar dari kolam utama. Mengikuti arus air hingga keluar ke aliran sungai. Maka, itu tak dipermasalahkan. Sebab, hal itu keinginan dari ikan sendiri yang secara alami keluar dari pemandian tersebut.
"Kalau sudah ada di sungai nggak apa-apa diambil. Kalau masih di kolam utama tidak boleh," jelasnya.
Menjadi Daya Tarik wisatawan
Keberadaan ikan Tombro di wisata Pemandian Alam Banyubiru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Mereka biasanya berenang sambil mengabadikan momen bersama ikan tersebut. Banyak juga wisatawan yang mengambil foto dan menyelam guna melihat langsung ikan tersebut.
"Sekarang jumlahnya kan ribuan. Dan ikan ini asal usulnya aneh. Jadi banyak yang ingin tahu," tuturnya.
Ia mengaku, wisatawan yang datang bisa berenang bersama ikan-ikan itu. Meskipun ukurannya ada yang mencapai 20 sentimeter, bahkan lebih, ikan Sengkaring tak menggigit. Mereka jinak.
"Besar-besar ikannya. Kalau gini sedikit kelihatannya. Banyak yang bersembunyi di bebatuan," ungkapnya.
Ikan-ikan itu baru muncul bila diberikan makanan. Mereka akan berlomba untuk memakan makanan yang dilemparkan pengunjung ke dalam kolam. Tampak satu kolam luas itu berisi ikan semua. (mukhamad rosyidi/hn) Editor : Jawanto Arifin