Nun Hassan Ahsan Malik, terlahir dari keluarga pesantren. Ia merupakan putra pertama Almarhum K.H. Moh. Hasan Saiful Islam. Lahir di pesantren pada 1983, kehidupannya tak pernah jauh dari dunia pesanten.
Sejumlah pesantren pernah disinggahi untuk menuntut ilmu. Terakhir, di Pondok Rusaifah Makkah, di bawah asuhan Abuya Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi al-Maliki.
Sepulang dari Makkah pada 2012, Nun Alex mulai mengemban sejumlah amanat di Pesantren Zainul Hasan Genggong. Salah satunya diamanahi menjadi kepala Biro Kominfo Pesantren Zainul Hasan Genggong. Beragam inovasi demi menjawab perkembangan zaman terus dilakukan.
Pada 2013, membentuk tim untuk memperluas jaringan dakwah dan mensyiarkan agama maupun pesantren. Menurutnya, tambah lama, zaman tidak baik-baik saja. Karena itu, mau tidak mau harus menyelam ke dalam zaman untuk dapat memberikan yang terbaik kepada umat.
“Kehidupan ini ibarat kendaraan. Misalnya kapal. Jadi, tergantung nakhodanya. Kita, nakhoda itu sendiri. Saat ada ombak besar maupun badai, bagaimana kita menyelamatkan diri. Kita berposisi sebagai nakhoda, kita mengatur kendaraan (hidup kita),” jelasnya.
Seiring dengan perkembangan zaman, Nun Alex, juga berusaha mendekati umat dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Tujuan awalnya, tetap mensyiarkan agama dan pesantren.
“Seperti saat Ramadan ini. Kami memiliki jadwal lima pengajian kitab kuning. Semuanya live di media sosial. Termasuk pengajian Kiai Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah,” ujar kiai muda yang berulang tahun setiap 6 November tersebut.
Memanfaatkan teknologi dalam melakukan syiar, kata Nun Alex, mengikuti kebiasaan umat. Kini, teknologi komunikasi seperti media sosial sudah lumrah, bahkan menjadi kebutuhan bagi masyarakat.
“Setiap pengajian kami share. Itu mengikuti masyarakat. Selain live yang memiliki durasi yang cukup lama, kami juga membuat cuplikan-cuplikan pengajian yang isinya dapat masuk pada hati masyarakat. Jadi, jika tidak ingin durasi yang lama, bisa memilih cuplikan tersebut. Yang terpenting tersampaikan,” ujarnya.
Melalui Biro Kominfo, Pesantren Genggong terus berusaha memberikan informasi yang bermanfaat kepada umat. Baik disampaikan secara langsung, maupun melalui beragam media sosial. Seperti facebook, Instagram, TikTok, Twitter, Telegram, maupun website. Semuanya diisi dengan syiar keagamaan yang sesuai perkembangan zaman.
“Dalam hal ini kami harus mempunyai rasa kewajiban untuk berdakwah (menyampaikan) walau satu ayat,” ujarnya. Ia juga mengutip hadis Rasulullah; “Sampaikanlah yang bersumber dariku (Rasulullah), walau satu ayat.”
Dalam menjalankan sejumlah amanah yang diembannya di pesantren, ia juga menerapkan teori atau metode dakwah Rasulullah. “Teori ini juga masuk dalam tesis saya. Jika teori dan metode Rasulullah diterapkan di pesantren, ada jaminan akan menenemui keberhasilan,” ujarnya.
Metode dakwah yang dilakukan Rasulullah ini sudah dilakukan selama 23 tahun. Saat berdakwah setelah menjadi Nabi. Yakni, tiga teori dengan tingkat keberhasilan lintas generasi.
Pertama, pengenalan terhadap Allah SWT. Baik pendekatan ibadah maupun melalui sifat-sifat wajib maupun muhal Allah SWT. “Selama ia mengenal Allah, maka akan bisa mengenali jati diri untuk apa dia diciptakan,” ujarnya.
Kedua penyucian jiwa. Ia menyebutkan, saat mengenal Allah SWT, seseorang akan lebih nikmat. Akan merasakan hatinya semakin bersih dan suci. Suci dari kesyirikan, bersih dari sifat hasut, atau bersih dari sifat-sifat yang dapat merusak hati.
Terakhir secara face to face. Atau, mengajarkan supaya dapat membuka Alquran dan sunah. “Di Alquran banyak kabar tentang zaman yang sudah lampau dan zaman sekarang. Sehingga jika melakukan sesuatu saat ini, bisa dapat melalui apa yang menjadi tuntunan Alquran dan sunah. Dari keduanya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Menurutnya, syiar menggunakan media sosial, juga berawal dari hasil pemikiran apa yang perlu ditonjolkan dari pesantren. Banyak objek di pesantren yang menonjol. Kemudian, diambil sebagian untuk disebarkan sebagai ajakan terhadap kebaikan.
“Pengajian kitab kuning merupakan ruh pesantren. Sesuatu yang istiqamah dan berada di pesantren. Mayoritas menonjolkan agamanya dan unsur pencarian ilmunya. Sejumlah hal ini yang kami ambil,” katanya.
Syiar melalui media sosial juga sebagai bentuk syiar jika pesantren tetap eksis. Serta, siap melayani masyarakat dalam berbagai macam keadaan apapun.
“Umat mau ke sini kami layani. Umat tidak ke sini, kami ladeni menggunakan media sosial. Alhamdulillah animo masyarakat sangat tinggi. Saat live pengajian kitab, animo masyarakat sangat tinggi. Bahkan, banyak alumni maupun masyarakat yang bertanya ketika kami tidak live. Ini salah satu tanda antusiasme masyarakat,” katanya. (agus faiz musleh/rud) Editor : Jawanto Arifin