PROBOLINGGO, Radar Bromo-Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) se-Jawa Timur mengikuti Rapat Pimpinan (Rapim) dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) XVIII PHRI Jawa Timur.
Agenda itu digelar selama dua hari di Kawasan Gunung Bromo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Acara itu dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari sebagai perwakilan dari Gubernur Jawa Timur.
Pada hari pertama (16/9) kegiatan diisi dengan rapim Badan Pimpinan Daerah (BPD) PHRI Jawa Timur di Hotel Lava View, gala dinner serta PHRI Award yang dihelat di Manis Ae Hotel Cabin and Resto.
Pada hari kedua (17/9), acara dilanjutkan dengan agenda Rakerda yang dihadiri 32 Badan Pimpinan Cabang (BPC) PHRI seluruh Jawa Timur di Hotel Lava View.
Forum ini membahas arah pengembangan industri perhotelan, restoran, serta ekosistem pariwisata di Jawa Timur.
Ketua BPD PHRI Jawa Timur, Dwi Cahyono mengatakan pembahasan dalam Rakerda XVIII mengacu pada tema “Transformasi Ekosistem Pariwisata untuk Peningkatan Pertumbuhan Hotel dan Restoran.”
Menurutnya, perkembangan pariwisata saat ini berlangsung cukup dinamis. Tidak hanya dipengaruhi kebijakan pemerintah, tetapi juga perkembangan teknologi digital, serta perubahan perilaku konsumen yang semakin cepat.
“Kami mendatangkan seluruh BPC dan sejumlah stakeholder terkait untuk meningkatkan ekosistem pariwisata di Jawa Timur,” kata Dwi.
Dwi menyebut, tingginya kehadiran peserta menjadi salah satu catatan dalam Rakerda tahun ini. Meski kegiatan dilaksanakan di kawasan Bromo yang sebelumnya sempat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hampir seluruh BPC PHRI se-Jawa Timur hadir.
“Hampir semuanya hadir, hanya ada dua BPC yang absen. Tahun ini menjadi rekor peserta terbanyak,” ungkapnya.
Empat Program Jadi Atensi
Rakerda tersebut, lanjut Dwi, telah dipersiapkan sejak sekitar empat bulan sebelumnya. Dari pembahasan yang dilakukan, terdapat sejumlah program dan rekomendasi yang menjadi perhatian PHRI Jawa Timur.
Empat di antaranya yakni pelaksanaan bimbingan teknis dan pelatihan perhotelan bagi anggota, pengembangan aplikasi marketplace PHRI untuk memenuhi kebutuhan anggota, pendampingan terkait perizinan usaha hotel, restoran, dan kafe (horeka), serta rekomendasi dari Badan Pimpinan Pusat (BPP) PHRI mengenai sertifikasi bintang bagi hotel.
Sertifikasi tersebut dinilai penting, khususnya bagi hotel yang membutuhkan kelengkapan administrasi dalam menjalin kerja sama dengan dinas maupun instansi pemerintahan.
Selain penguatan industri, PHRI juga menaruh perhatian terhadap keberlanjutan pariwisata.
Menurut Dwi, pertumbuhan jumlah wisatawan harus diiringi dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan kebudayaan lokal.
“PHRI wajib menjaga keberlanjutan pariwisata. Bukan hanya berbicara kuantitas, tetapi juga kualitas. Banyaknya wisatawan yang datang harus selaras dengan pertanggungjawabannya terhadap alam, kebudayaan lokal, dan sebagainya,” jelasnya.
Berbagai program tersebut diharapkan mampu menjawab tantangan perkembangan industri pariwisata sekaligus mendorong peningkatan tingkat hunian hotel dan restoran di Jawa Timur.
Dwi menargetkan hingga akhir 2026 rata-rata okupansi hotel dan restoran di Jawa Timur dapat mencapai sekitar 60 persen.
Saat ini, tingkat okupansi masih berada di kisaran 40 persen dan pergerakannya masih fluktuatif.
Dongkrak Okupansi Hotel-Restoran
Sementara itu, Ketua PHRI Kabupaten Probolinggo, Rofiq Ali Pribadi mengatakan, pihaknya akan memperluas keanggotaan dengan mengajak lebih banyak pelaku usaha hotel dan restoran bergabung dalam PHRI.
Menurutnya, persyaratan untuk menjadi anggota relatif sederhana. Pelaku usaha cukup menyiapkan Nomor Induk Berusaha (NIB), NPWP, serta data terkait jumlah kamar, kursi, maupun fasilitas usaha yang dimiliki.
“Nantinya juga akan ada pelatihan yang dilakukan secara gratis. Bergabung dengan PHRI juga akan membantu membangun relasi ataupun memperluas jangkauan promosi melalui marketplace atau online,” kata Rofiq.
Menurut Rofiq, keberadaan marketplace PHRI dapat menjadi salah satu sarana untuk memperluas pemasaran produk dan layanan hotel maupun restoran.
Pelaku usaha nantinya dapat mencantumkan informasi mengenai produk, paket yang ditawarkan, hingga perbedaan harga pada hari biasa dan akhir pekan.
“Pemasarannya bisa melalui marketplace tersebut. Nantinya sudah lengkap keterangannya, jenis paket, harga weekend atau weekdays, dan sebagainya,” jelasnya.
Selain melalui platform digital, penguatan jaringan antarpelaku usaha juga menjadi perhatian PHRI Kabupaten Probolinggo. Rofiq mengatakan, pihaknya secara rutin menggelar pertemuan antaranggota sebagai wadah bertukar informasi sekaligus mengevaluasi perkembangan sektor pariwisata.
Pertemuan tersebut biasanya digelar setiap tiga bulan sekali dengan membagi wilayah Kabupaten Probolinggo menjadi kawasan barat, tengah, dan timur.
Lokasi pertemuan pun dilakukan secara bergiliran di tempat usaha anggota.
“Jadi pertemuannya bergiliran ke tempat usaha anggota sambil membahas hal yang perlu kami lakukan ataupun evaluasi terkait pariwisata, hotel, dan restoran sehingga terasa keakrabannya,” terangnya.
Rofiq berharap berbagai upaya tersebut dapat mendorong peningkatan okupansi hotel dan restoran di Kabupaten Probolinggo.
Selain meningkatkan kunjungan, ia berharap wisatawan yang datang tidak hanya melintas, tetapi juga memperpanjang waktu tinggal dengan memanfaatkan berbagai destinasi, akomodasi, serta tempat makan yang tersedia.
Karena itu, informasi mengenai destinasi wisata, hotel, dan restoran di Kabupaten Probolinggo dinilai perlu terus diperkuat agar wisatawan memiliki lebih banyak pilihan selama berada di daerah tersebut.
Rofiq juga menginformasikan bahwa wisata Gunung Bromo telah dibuka kembali. Sebelumnya kawasan ini ditutup akibat kondisi tertentu di kawasan konservasi.
“Wisata Gunung Bromo yang bertaraf internasional sekaligus destinasi penting di Kabupaten Probolinggo telah dibuka kembali. Kami berharap okupansi hotel dan restoran di sekitarnya kembali membaik,” jelasnya. (gus/mie)
Editor : Muhammad Fahmi