Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Literasi Keungan Pelajar Masih Rendah, 164 Ribu Rekening Capai Rp 29 Miliar

Arif Mashudi • Minggu, 21 Juni 2026 | 12:10 WIB
Ilustrasi uang
Ilustrasi uang

 

KANIGARAN, Radar Bromo— Tingkat literasi keuangan di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar, terutama pada kelompok usia pelajar.

Data terbaru menunjukkan, meski jutaan rekening pelajar telah dibuka, pemahaman keuangan di kalangan anak muda masih belum optimal.

Kepala otoritas jasa keuangan (OJK) Malang, Farid Faletehan mengungkapkan literasi keuangan nasional berada di kisaran 66 persen. Namun, kondisi pada kelompok usia 15–17 tahun jauh lebih rendah.

“Literasi keuangan nasional berada di kisaran 66 persen. Namun, pada kelompok usia 15–17 tahun hanya sekitar 51 persen secara nasional,” katanya.

Menurut Farid, kondisi tersebut menunjukkan masih perlunya edukasi keuangan yang lebih masif sejak dini. Terutama di lingkungan pelajar.

Di Kota Probolinggo sendiri, hingga April 2026 tercatat lebih dari 164 ribu rekening pelajar telah dibuka dengan total saldo mencapai Rp 29 miliar.

Capaian ini dinilai sebagai perkembangan yang patut diapresiasi dalam upaya mendorong budaya menabung sejak dini.

Namun di sisi lain, Farid menegaskan bahwa stabilitas sektor keuangan di daerah ini tetap harus dijaga.

Ia menyebut tingkat kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) di Kota Probolinggo tercatat hanya 1,38 persen. Menjadi yang terendah di antara tujuh kabupaten/kota wilayah kerja OJK Malang.

“Ini menunjukkan karakter masyarakat Kota Probolinggo yang baik dalam memenuhi kewajiban keuangan serta menggambarkan iklim usaha yang sehat,” terangnya.

Meski sejumlah indikator terlihat positif, ancaman kejahatan digital masih menjadi perhatian serius. Hingga akhir tahun 2025, tercatat 417 laporan penipuan digital di Kota Probolinggo dengan total kerugian mencapai Rp 3,64 miliar.

Farid mengingatkan bahwa modus penipuan kini semakin berkembang dan sulit dikenali.

Mulai dari penyalahgunaan data pengiriman belanja online, hingga penipuan yang mengatasnamakan instansi resmi. Karena itu, literasi keuangan dan kewaspadaan digital harus berjalan beriringan.

Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin menekankan pentingnya budaya menabung sebagai fondasi pembentukan generasi mandiri yang siap menghadapi masa depan.

Ia menegaskan bahwa penguatan literasi keuangan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, pemerintah kota telah memberikan berbagai dukungan bagi tumbuh kembang anak. Sehingga kebiasaan menabung perlu ditanamkan sejak dini.

“Gerakan Menabung Anak Sekolah ini bukan sekadar program pembukaan rekening, tetapi investasi karakter bagi anak-anak kita. Menabung mengajarkan disiplin, perencanaan, dan tanggung jawab dalam mengelola keuangan sejak usia dini,” katanya. (mas/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#ojk #literasi keuangan