PAITON, Radar Bromo - UMKM Griya Lokal Moringa (Glamor) Desa Pondok Kelor, terus mengembangkan berbagai produk makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Produk-produkmya kini bahkan jadi pilihan sebagai oleh-oleh khas.
Saat ini, UMKM Glamor memiliki sekitar 25 produk dengan bahan dasar daun kelor dan 20 produk nonkelor. Fokus utama usaha tersebut berada pada sektor makanan dan minuman.
Beragam produk dipasarkan melalui gerai UMKM yang berada di samping Kantor Desa Pondok Kelor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.
Pemasaran melalui media sosial juga dilakukukan, seperti TikTok, Instagram, WhatsApp, Facebook, hingga marketplace BelaBeli milik Pemkab Probolinggo.
Dari puluhan produk yang dipasarkan, terdapat beberapa produk best seller yang paling diminati konsumen. Salah satunya Pelka kunyit asam yang dijual dengan harga terjangkau mulai Rp 2.500.
Ada pula kerupuk ikan, stik kelor, keripik pisang atau banana chips, hingga peyek imut yang menjadi salah satu produk favorit pelanggan. Peyek imut varian kacang dan ebi bahkan telah dipasarkan hingga Jakarta.
Produk lain yang juga banyak diminati ialah kacang bawang berbagai kemasan serta soya milk berbahan kedelai asli yang diolah menjadi susu creamy. Minuman tersebut dijual Rp 8 ribu per botol dengan empat varian rasa yakni original, cokelat, taro, melon, dan stroberi.
UMKM Glamor juga menghadirkan cendol creamy gula aren yang berupa perpaduan cendol jelly, susu creamy, aroma pandan, dan manis gula aren. Produk minuman tersebut dijual dengan harga terjangkau.
Untuk kategori cookies, tersedia kue bawang berbagai kemasan mulai harga Rp 30 ribu. Juga nastar klasik dan nastar moringa. Nastar klasik dibanderol mulai Rp 33 ribu hingga Rp 80 ribu.
Sedangkan nastar moringa dijual sekitar Rp 50 ribu. Ada pula cokelat moringa yang dipasarkan dengan berbagai ukuran dan harga mulai Rp 10 ribu.
Selain dijual satuan, produk UMKM Glamor juga menyediakan berbagai paket hampers untuk oleh-oleh atau bingkisan. Baik minuman, juga snack dan cookies. Harganya pun sangat terjangkau. Pelka Kemasan Ramadan varian kunyit asam misalnya, harganya mulai Rp 16 ribu.
“Kalau paket oleh-oleh khas, dengan hanya Rp 100 ribu sudah dapat. Sekitar isi empat jenis snack biasanya,” terang Kepala Desa Pondok Kelor Fredericks Ade Chandra, S.T.
Dengan beragam varian produk dan kemasan, kini UMKM Glamor menjadi salah satu jujukan untuk membeli paket oleh-oleh atau bingkisan. Mulai instansi pemerintah, perusahaan swasta, BUMN, hingga masyarakat umum sudah berkali-kali buyback di tempat ini.
Fredericks mengatakan, harga produk UMKM Glamor sengaja dibuat terjangkau. Sehingga bisa dinikmati semua kalangan.
“Pembelinya bukan hanya warga sekitar tapi juga dari luar daerah. Banyak yang membeli untuk oleh-oleh saat perjalanan ke arah Bali dan wilayah timur,” ujarnya. (hn/*)
Dari Mi hingga Es Krim, Semuanya dari Daun Kelor
Tidak hanya enak di lidah. Banyak produk makanan dan minuman UMKM Griya Lokal Moringa (Glamor) Desa Pondok Kelor yang punya nutrisi tinggi. Sebab, bahan dasarnya menggunakan daun kelor yang dikenal sebagai super food.
Beragam produk berbahan dasar kelor dikembangkan. Mulai dari mi kelor, bakso kelor, es krim kelor, cokelat moringa, peyek kelor, hingga stik kelor.
Kepala Desa Pondok Kelor Fredericks Ade Chandra, S.T. mengatakan, pengembangan produk kelor dilakukan untuk memperkuat identitas desa. Sekaligus meningkatkan nilai ekonomi tanaman yang ditanam warga.
“Bahan bakunya kami ambil dari rumah-rumah warga yang menanam kelor. Jadi semakin banyak warga menanam, semakin besar juga produksi UMKM,” terang suami dari Esti Alfianing Tyas, A.Md.Keb. ini.
“Produk olahan kelor ini bahkan jadi salah satu best seller. Seperti peyek kelor dan stik kelor yang dipasarkan hingga luar daerah melalui pemesanan online,” tuturnya.
Untuk menjaga kualitas produk, UMKM Glamor menggunakan daun kelor muda dan segar sebagai bahan baku utama. “Kalau daun terlalu tua, warna hasil olahannya jadi kekuningan. Karena itu kami pilih daun muda supaya warna produknya tetap hijau alami,” ujar Fredericks.
Selain dipasarkan melalui gerai UMKM, produk-produk olahan kelor juga dipromosikan lewat media sosial dan berbagai event UMKM di luar daerah. Melalui inovasi itu, daun kelor yang sebelumnya hanya dimanfaatkan sebagai sayuran rumahan, kini jadi produk bernilai jual. (hn/*)
Editor : Muhammad Fahmi