Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Paiton Energy-POMI Edukasi Peduli Lingkungan melalui Popok Bekas, Gelar Lomba Melukis Repot di Paiton

Jamaludin Uno • Senin, 27 April 2026 | 15:55 WIB

MELUKIS : Para peserta Lomba Melukis Repot menggunakan media pot bekas dari popok (pempers) di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

MELUKIS : Para peserta Lomba Melukis Repot menggunakan media pot bekas dari popok (pempers) di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

 

PAITON, Radar Bromo – Edukasi peduli lingkungan terus digencarkan di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Kali ini, dalam peringatan Hari Bumi, di desa setempat digelar kegiatan kreatif dan edukatif. Yakni, Lomba Melukis Repot.

Repot memiliki akronim rekarena popok gebey pot atau sisa popok (pampers) dijadikan pot. Sebuah inovasi pengolahan limbah.

Sesuai namanya, kegiatan yang di dukung PT Paiton Energy – PT POMI ini menggunakan media pot dari bahan bekas popok sebagai media lukisnya.

Lomba yang juga menjadi sarana edukasi peduli lingkungan sejak dini ini, melibatkan sekitar 150 siswa TK dan SD. Lomba unik ini digelar Sabtu (25/4) di desa setempat.

Baca Juga: PT Paiton Energy-POMI Terus Lakukan Aksi Nyata, Ikut Memperkuat Masa Depan Indonesia

Kepala Desa Binor, Hj. Hostifawati, menjelaskan inovasi Repot telah berjalan sekitar dua tahun.

MELUKIS : Para peserta Lomba Melukis Repot menggunakan media pot bekas dari popok (pempers) di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.
MELUKIS : Para peserta Lomba Melukis Repot menggunakan media pot bekas dari popok (pempers) di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

 

Terobosan tersebut berangkat dari permasalahan limbah popok sekali pakai yang sulit terurai dan kerap dibuang sembarangan, bahkan ke sungai oleh masyarakat.

“Dulu masyarakat banyak yang membuang popok ke sungai karena dianggap lebih aman. Ada mitos, jika dibuang begitu saja dan kena bakar,  bisa menyebabkan bayi gatal-gatal. Kebiasaan ini tentu berdampak buruk bagi lingkungan, sehingga harus dicarikan solusi,” ujarnya.

Solusi akhirnya diwujudkan melalui sistem pengumpulan popok bekas yang terintegrasi dengan kegiatan posyandu.

Para ibu Balita diminta membawa popok bekas yang telah dicuci dan dikeringkan dalam kegiatan posyandu yang digelar setiap bulan. Setiap popok dihargai Rp 250 oleh bank sampah setempat.

“Popok bekas ini kemudian diolah oleh ibu-ibu PKK menjadi pot yang unik dan bernilai ekonomi. Harganya berkisar Rp 10.000 hingga Rp 15.000, bahkan bisa mencapai Rp 25.000 sampai Rp 30.000 jika sudah dilengkapi tanaman,” katanya.

Sementara itu, HCFC Manager PT POMI, Rochman Hidayat, mengatakan lomba melukis repot merupakan bagian dari kampanye bersama masyarakat, khususnya desa binaan seperti Desa Binor, dalam mengembangkan pengelolaan sampah berbasis inovasi.

“Lomba ini menjadi bagian dari kampanye bersama masyarakat, khususnya desa binaan POMI dan Paiton Energy, yaitu Desa Binor dan kelompok bank sampahnya yang telah sukses mengembangkan inovasi pengelolaan sampah melalui daur ulang limbah popok menjadi pot tanaman,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menghasilkan produk baru yang bermanfaat, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi pelajar serta membuka peluang sebagai program studi tiru maupun wisata minat khusus.

“Harapannya, melalui kampanye ini semakin banyak bank sampah lain di Kabupaten Probolinggo yang terinspirasi. Selain menjadi produk bernilai, ini juga menjadi media edukasi dan bahkan bisa dikembangkan sebagai paket wisata berbasis lingkungan,” jelasnya.

Rochman menambahkan, keterlibatan anak-anak TK dan SD dalam lomba ini memiliki peran penting dalam menanamkan kesadaran pengelolaan sampah sejak dini. Serta menjadi bentuk edukasi awal bagi anak-anak tentang pentingnya pengelolaan sampah.

“Mereka juga dilatih kreativitasnya dengan memanfaatkan hasil daur ulang limbah popok menjadi pot sebagai media lukis,” katanya.

Sementara itu, Kabid Tata Lingkungan DLH Kabupaten Probolinggo, Suryana Nuring Perbawani, turut mengapresiasi inovasi yang dilakukan Desa Binor bersama dukungan pihak perusahaan.“Kami sangat mengapresiasi apa yang sudah diupayakan oleh Desa Binor, serta berterima kasih atas dukungan fasilitasi dari POMI yang selalu men-support kegiatan di bidang pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Ia menilai, pemanfaatan popok bekas menjadi pot merupakan ide kreatif yang patut dicontoh oleh masyarakat luas, mengingat limbah popok termasuk jenis yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan.

“Seperti yang kita ketahui, popok bekas ini sangat sulit diuraikan. Jika dibuang ke lingkungan, bisa mencemari badan air. Jadi ini merupakan salah satu ide yang sangat kreatif untuk menjadikannya pot yang lebih bermanfaat,” jelasnya. (uno)

Editor : Muhammad Fahmi
#popok bekas #paiton energy #pltu #lomba melukis #pomi