Museum Bank Indonesia di kawasan Kota Tua, Jakarta, menyimpan jejak panjang perjalanan ekonomi bangsa. Berdiri megah di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 3 Jakarta Barat, gedung ini dulunya adalah kantor pusat De Javasche Bank (DJB), bank sirkulasi Hindia Belanda. Kini, bangunan dua lantai ini difungsikan sebagai museum yang mengajak pengunjung menelusuri sejarah perbankan dan moneter Indonesia.
JAMALUDIN, Jakarta, Radar Bromo
“Tidak lama lagi, De Javasche Bank akan menutup riwayatnya dan diganti dengan bank baru, Bank Indonesia. Jika kita dapat menilai dan menghargai bank yang lama itu sebagaimana mestinya, maka mungkin Bank Indonesia akan menempuh sejarah yang lebih lama dan lebih jaya lagi daripada De Javasche Bank.”
Itulah kutipan dari Sjafruddin Prawiranegara, presiden terakhir De Javasche Bank sekaligus gubernur pertama Bank Indonesia pada Peringatan 125 Tahun De Javasche Bank, 24 Januari 1953. Kutipan ini bisa dijumpai pengunjung di salah satu sudut Museum Bank Indonesia.
Di samping kutipan bersejarah itu, terpampang pula narasi singkat tentang lahirnya Bank Indonesia. Mulai dari berdirinya DJB pada 1828, nasionalisasi pada 1951, hingga pembubaran resmi DJB pada 1953.
Proses pembubaran dilakukan setelah pemerintah Indonesia membeli saham DJB dengan penawaran 20 persen di atas harga pasar. Sejak 1 Juli 1953, Bank Indonesia berdiri sebagai bank sentral Republik yang berdaulat.
DJB sendiri lahir pada 24 Januari 1828 atas perintah Raja Willem I dari Belanda, tak lama setelah kebangkrutan VOC. Pemerintah kolonial merasa perlu mendirikan bank sirkulasi yang mampu mengatur peredaran uang gulden Hindia Belanda sekaligus menopang perdagangan di wilayah yang dijajah.
Sejak saat itu, selama lebih dari seabad, DJB menjadi tulang punggung sistem keuangan pada masa kolonial. Selain di Jakarta (dulu Batavia), DJB juga membuka cabang di berbagai kota besar Hindia Belanda saat itu. Seperti di Surabaya, Semarang, Medan, dan Makassar.
Momentum besar datang pasca pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949. Pemerintah menilai pentingnya kendali penuh atas bank sirkulasi. Melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1951, mayoritas saham DJB dibeli dari Belanda.
Ini menjadi tonggak awal nasionalisasi. Akhirnya, berdasarkan Undang-Undang Pokok Bank Indonesia Nomor 11 Tahun 1953, DJB resmi berubah menjadi Bank Indonesia.
Beberapa tahun kemudian, sekitar 1962, kantor pusat Bank Indonesia dari bangunan DJB dipindahkan secara bertahap ke gedung baru di Jalan MH. Thamrin, Jakarta. Meski begitu, gedung lama DJB tetap berdiri kokoh di kawasan Kota Tua, menjadi saksi sejarah perjalanan moneter bangsa. Gedung megah DJB beralih fungsi menjadi sebuah museum.
Kini, DJB yang merupakan cikal bakal berdirinya Bank Indonesia itu, masih berdiri kokoh dan terawat. Gedung megah bergaya neoklasik ini berada di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 3, Pinangsia, Jakarta Barat. Selasa (23/9), radarbromo.jawapos.com berkesempatan mengunjungi museum ini.
Museum Bank Indonesia yang dibuka secara resmi pada 15 Desember 2006 itu berada sekitar 150 meter dari Stasiun Jakarta Kota. Kawasan ini masih dikelilingi bangunan kolonial lain. Seperti Museum Fatahillah, Museum Bank Mandiri, Museum Wayang, dan bangunan kuno lainnya. Bangunan yang masih kokoh ini bersama-sama membentuk wajah klasik Kota Tua Jakarta.
Memasuki museum, pengunjung akan disambut oleh tangga utama yang mengesankan. Di atas tangga itu terdapat kaca patri (stained glass) berukuran besar. Motifnya memuat gambar Dewa Hermes, dewa perdagangan dalam mitologi Yunani kuno, serta logo kota-kota penting Hindia Belanda: Soerabaja, Batavia, dan Samarang.
“Kaca patri ini asli peninggalan De Javasche Bank. Selain gambar dewa, di kaca itu juga ada logo-logo kota besar yang merupakan cabang penting dari De Javasche Bank di Hindia Belanda saat itu,” jelas Trie Kanthi Wigati, edukator sekaligus pemandu Museum Bank Indonesia.
Setelah melewati tangga, perjalanan berlanjut ke beberapa ruang pamer. Salah satunya adalah sebuah teater mini tempat diputar video pendek berdurasi sekitar 12 menit. Video ini menjadi pengantar tentang sejarah panjang DJB hingga peralihannya menjadi Bank Indonesia.
Dari tayangan tersebut, pengunjung juga mengetahui bahwa bangunan museum ini awalnya merupakan Binnen Hospital (rumah sakit kota). Rumah sakit itu lantas dialihfungsikan menjadi kantor pusat DJB.
Transformasi besar terjadi pada awal abad ke-20 ketika gedung ini direnovasi secara menyeluruh dengan sentuhan arsitektur Eropa. Sosok di balik rancangan megah itu adalah arsitek ternama Belanda, Eduard Cuypers, yang juga merancang sejumlah bangunan kolonial ikonik di Hindia Belanda.
Kini, setiap ruang di Museum Bank Indonesia bukan hanya menyimpan koleksi benda bersejarah, tetapi juga menghadirkan pengalaman menelusuri perjalanan panjang ekonomi Indonesia. Dari kepingan uang kuno zaman kerajaan, gulden Hindia Belanda, Oeang Republik Indonesia (ORI), hingga rupiah modern, museum ini menghadirkan narasi utuh tentang kedaulatan ekonomi bangsa.
Untuk menelusuri seluruh isi museum dibutuhkan waktu antara 2–3 jam. Mengunjungi museum ini menjadi pengalaman berharga dan terasa begitu membekas. Arsitektur bangunan hingga koleksi yang ada di dalam museum seolah mengajak pengunjung untuk kembali ke masa kolonial.
“Di sini kita bisa melihat sejarah perdagangan rempah, peran De Javasche Bank, hingga perjalanan rupiah yang menjadi simbol kedaulatan bangsa. Saya benar-benar belajar banyak hal baru. Rasanya seperti diajak berjalan dari masa kolonial sampai Indonesia modern dalam satu tempat,” ujar Akbar, seorang pengunjung asal Malang, Jawa Timur.
Usia De Javasche Bank yang mencapai 125 tahun sebelum bertransformasi menjadi Bank Indonesia menjadi saksi panjang perjalanan sejarah. Dari bank kolonial milik Belanda, kini ia menjelma menjadi simbol kemandirian dan kedaulatan ekonomi Indonesia. “Kisah itu bisa kita dapatkan dengan jelas dan lengkap mengunjungi museum ini,” tambah dia.
Museum Bank Indonesia buka untuk pengunjung pada hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 08.00 hingga 15.30 WIB. Pada hari Senin dan libur nasional, museum ini tutup.
Untuk menikmati koleksi dan sejarah di dalamnya, pengunjung tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Tiket masuk hanya Rp 5 ribu untuk umum, sementara pelajar dan mahasiswa dapat masuk gratis dengan menunjukkan kartu pelajar atau kartu tanda mahasiswa.
Di tengah derasnya arus digital dan perubahan zaman, museum ini tetap hadir sebagai penjaga memori kolektif. Tentang bagaimana sebuah bangsa pernah menggenggam kedaulatannya melalui lembaga keuangan, dan bagaimana dari reruntuhan kolonialisme, lahir simbol kebanggaan: Bank Indonesia. (uno)
Editor : Ronald Fernando