BANGIL, Radar Bromo—PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim), raksasa produsen pupuk dan petrokimia, menegaskan komitmennya melampaui sekadar produksi.
Melalui Program Project Agrosolution, PKT berupaya mendongkrak produktivitas petani dan mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Bukti nyata terhampar di lahan milik Budi Sucipto di Tambakan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Selasa (29/4), saat panen raya padi hasil program tersebut digelar.
Atik Dwi Purwandari, Vice President Pengelolaan Pelanggan Pupuk Kaltim, menegaskan bahwa optimalisasi sektor pertanian demi mendukung ketahanan pangan adalah fokus utama perusahaan.
Hal ini diwujudkan melalui Project Agrosolution yang memberikan kemudahan akses dari hulu hingga hilir bagi petani, meliputi permodalan, bibit unggul, pupuk berkualitas, asuransi pertanian, hingga kepastian off-taker.
"Dalam proyek ini, kami melibatkan 177 petani. Sebelumnya, hasil panen rata-rata 7,5 ton per hektar, dan setelah adanya program ini meningkat menjadi 8,5 ton. Keberhasilan ini menjadi langkah kecil kami untuk turut serta mewujudkan swasembada pangan. Kami berharap sinergi ini tidak hanya berlanjut pada komoditas padi, tetapi juga komoditas lain seperti kopi," jelas Atik.
Acara panen raya ini juga diselingi dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan, Perum Bulog, dan PT Pupuk Kalimantan Timur, semakin memperkuat komitmen bersama dalam memajukan sektor pertanian dan mensejahterakan petani. Serta penyerahan bantuan PT. Pupuk Kaltim kepada gabungan kelompok tani.
Budi Sucipto Petani Desa Tambakan yang mengikuti Project Agrosolution mengatakan program itu tidak hanya mempercepat swasembada pangan. Melainkan juga mendukung program pemerintah. Seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih hingga Gerakan Menanam Indonesia (Germina).
"Saya berharap kita semua para petani sejahtera, Indonesia tidak perlu impor beras, bahkan bila perlu kita ekspor," kata Budi.
Pemimpin Cabang Bulog Malang, Nurjuliansyah Rachman, mengungkapkan bahwa Bulog memiliki proyek yang bersentuhan langsung dengan petani, mulai dari akses modal melalui KUR Bank Himbara, pasokan pupuk berkualitas dari Pupuk Kaltim, pendampingan intensif dari akademisi Universitas Brawijaya dari masa tanam hingga panen, hingga kepastian off-taker oleh Bulog dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 6.500 per kilogram gabah.
"Serapan gabah wilayah Malang Raya sudah mencapai 40 persen. Kami akan optimalkan serapan ini hingga musim panen usai," tegas Nurjuliansyah.
Hanung-sapaan Nurjuliansyah meyakinkan bahwa stok beras nasional yang mencapai 3 juta ton, akan menghindarkan Indonesia dari impor beras, sejalan dengan cita-cita swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
"Kami berharap sinergi dengan Pupuk Kaltim terus terjalin. Bulog siap membeli dengan HPP Rp 6.500. Semua pihak mendukung swasembada pangan, dan yang terpenting, petani sejahtera. Swasembada tak akan terwujud apabila petani tidak sejahtera," tandasnya.
Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Rachmat, menyampaikan apresiasi kepada Pupuk Kaltim, para petani, petugas lapangan, dan pemerintah desa atas kontribusi nyata yang membuktikan bahwa di tengah tantangan produksi beras di daerah lain, Pasuruan mampu menunjukkan hasil yang melimpah.
"Capaian ini harus terus kita tingkatkan. Di Bangil sudah memasuki panen raya dan akan segera selesai. Harapan kami, petani segera bertanam kembali. Apalagi gabah pasca panen akan dibeli dengan harga Rp 6.500, ini tentu menjadi semangat baru bagi petani karena harga yang bagus," ujarnya.
Rachmat juga menyoroti kontribusi Pupuk Kaltim dalam mentransformasikan teknologi pertanian kepada petani, sehingga menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi. "Project Agrosolution ini membuat petani bahagia, tersenyum, dan sejahtera," simpulnya. (tom)
Editor : Muhammad Fahmi