Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Harga Cabai Masih Mahal di Probolinggo, Di Petani Saja Sudah Tembus Rp 85 Ribu

Agus Faiz Musleh • Sabtu, 25 November 2023 | 15:00 WIB
TAWAR MENAWAR: Pedagang cabai dan pembeli bertransaksi di Pasar Maron Jumat (24/11) pagi.
TAWAR MENAWAR: Pedagang cabai dan pembeli bertransaksi di Pasar Maron Jumat (24/11) pagi.

KREJENGAN, Radar Bromo – Para petani cabai di akhir November ini cukup mendapat untung besar. Sebab, harganya kini masih mahal.

Di tingkat petani saja sudah tembus Rp 85 ribu perkilogramnya.

Salah seorang petani asal Kecamatan Krejengan, Wasik mengatakan, harga cabai rawit ditingkat petani membuat petani semringah.

“Alhamdulillah harga sekarang bagus. Di tingkat pertani perhari ini (kemarin,red) Rp 85 ribu perkilogram. Kalau di pasar bisa sampai Rp 100 Ribu perkilogramnya,” katanya, Jumat (24/11).

Harga ini sangat jauh dibanding bulan kemarain yang hanya Rp 20 Ribu perkiligramnya.

Peningkatan harga ini diduga terjadi lantaran barang yang saat ini cukup sulit di dapat.

“Kemarau panjang membuat hasil cabai rawit tidak maksimal. Tanamannya sulit berbuah, karena kekurangan air,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, cukup membuat para petani resah. Namun keresahan itu tidak akan berlangsung lama. Sebab, musim hujan sudah mulai datang.

“Pada panen pertama, Alhamdulillah sudah untung. Namun harapannnya setelah ini bisa semakin bagus,” katanya.

“Sebelumnya, tambahan 1,7 hektare sekali panen tak sampai 1 kuintal,” ujarnya.

Sementara itu, untuk cabai hijau saat ini disebutnya harga termbus Rp 65 ribu perkiligramnya.

“Kalau petani yang tanam banyak. Hanya saja hasil panennya tidak maksimal,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo Taufiq Alami, musim kemarau yang berkepanjangan membuat produksi cabai menurun.

“Kemarau tahun ini cukup lama. Jadi, banyak lahan yang tidak bisa ditanami cabai. Akibatnya, pasokan cabai berkurang dan harga naik,” jelasnya.

Dia menjelaskan, permintaan pasar untuk cabai rawit juga meningkat karena banyak orang yang suka makan pedas.

Selain itu, cabai rawit juga memiliki kandungan gizi yang tinggi dan bisa meningkatkan kekebalan tubuh.

“Cabai rawit itu mengandung vitamin C dan antioksidan yang baik untuk kesehatan,” kata Taufiq.

“Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, banyak orang yang ingin meningkatkan imunitas tubuhnya dengan mengonsumsi cabai,” jelasnya. (mu/fun)

Editor : Ronald Fernando
#cabai mahal