SURABAYA, Radar Bromo-PLN Nusantara Power (NP) menggandeng Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya untuk mempersiapkan inovasi rumah tahan gempa.
Uniknya, rumah tersebut akan dibangun dengan memanfaatkan bahan baku bangunan dari limbah debu atau FABA (Fly Ash Bottom Ash). Inovasi rumah tahan gempa itu bernama BIMA (Bangunan Instan Modular Sederhana).
BIMA akan menjadi inovasi yang solutif dan berperan penting dalam mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi pengolahan limbah di lingkungan PLN. Serta memberikan keterampilan kepada masyarakat yang diharapkan dapat menaikkan tingkat ekonomi.
Sementara FABA adalah material sisa dari proses pembakaran batu bara. Secara fisik, FABA berbentuk seperti debu halus yang mirip dengan abu dari gunung berapi.
Perbedaannya terletak pada tingkat kehalusan. Tekstur FABA sedikit lebih halus jika dibandingkan dengan abu vulkanik. Pada 2022 lalu, PLTU Paiton, Kabupaten Probolinggo menghasilkan FABA sebesar 208.368 ton. Sedangkan kebutuhan untuk membuat rumah tahan gempa ini mencapai 4.400 kg FABA.
Sejauh ini, FABA sudah dimanfaatkan. Diantaranya dengan mengolah FABA menjadi paving, batako, pengecoran jalan desa dan sebagainya. Bahkan, PT. PLN Nusantara Power melalui PLTU Pacitan telah membangun rumah layak huni untuk masyarakat sebanyak 3 unit.
Sementara itu, sebagai tahap pertama dalam inovasi rumah tahan gempa berbahan FABA, beberapa waktu lalu telah digelar pelatihan pembuatan bata dari FABA dan struktur bangunan rumah tahan gempa di Paiton. Pelatihan melibatkan masyarakat di sekitar wilayah PLTU Paiton.
Pelatihan dipimpin langsung oleh ketua peneliti, Dr. Eng. Ir. Yuyun Tajunnisa, ST, MT, IPM selaku dosen dan juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Material dan Struktur Bangunan Departemen Teknik Sipil Fakultas Vokasi ITS Surabata. Didampingi Senior Manager PLTU Paiton, Agus Prastyo Utomo dan Manager Business Support PT PLN Nusantara Power Up Paiton, Sukarno.
Inovasi itu merupakan komitmen perusahaan dalam mengelola dan mengolah FABA. Sekaligus sebagai upaya dalam menjaga lingkungan. FABA dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat, UMKM hingga instansi. Karena FABA dikategorikan sebagai limbah yang tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3).
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah mengatakan, PLN NP membuka kesempatan kepada masyarakat yang ingin memanfaatkan FABA menjadi produk bernilai guna tinggi. Diantaranya sebagai campuran dalam industri konstruksi dan infrastruktur.
“PLN NP terbuka kepada masyarakat yang ingin ikut serta memanfaatkan FABA. FABA bukanlah limbah B3, sehingga dapat diolah dan memberikan banyak manfaat, salah satunya melalui kerja sama dengan ITS pembangungan rumah tahan gempa BIMA,” imbuhnya.
Manager Senior Transfer Teknologi Office, Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi ITS Surabaya, Ary Bachtiar KP ST MT PHD menjelaskan, inovasi ini menjadi terobosan cerdas terkait penggunaan debu hasil limbah PLN.
Inovasi ini bukan hanya sekadar solusi lokal, tapi juga memiliki potensi untuk berlanjut ke daerah-daerah lain. BIMA memainkan peran penting dalam mengurangi limbah serta meningkatkan efisiensi pengolahan limbah di lingkungan PLN.
“Melalui pelatihan tersebut, nantinya masyarakat dapat mengembangkannya sendiri. Sehingga membuka peluang dalam meningkatkan perekonomian secara berkelanjutan," ungkap dosen Teknik Mesin ITS Surabaya itu.
Sementara itu, dalam pelatihan tersebut, peserta juga dibekali edukasi mengenai rumah tahan gempa oleh Ir. Faimun MSc PhD, ahli gempa dari Teknik Sipil ITS.
Faimun memaparkan tentang gambaran umum gedung fungsi hunian berupa rumah tahan gempa. Ia menggarisbawahi betapa pentingnya membangun konstruksi yang kuat dan aman dalam menghadapi potensi bencana gempa.
PT PLN (Persero) memastikan tidak akan membuang limbah FABA tetapi akan lebih mengoptimalkan pemanfaatannya. Karena dapat memberikan nilai ekonomi atas limbah tersebut terutama bagi masyarakat.
Pemanfaatan FABA dapat mendorong ekonomi nasional karena dapat memberikan nilai ekonomi dari hasil pemanfaatan limbah tersebut untuk berbagai hal di sektor konstruksi, infrastruktur, pertanian dan lainnya.
FABA yang merupakan fly ash dan bottom ash memiliki perbedaan. Terletak pada ukuran dan karakteristiknya. Walaupun keduanya berasal dari hasil proses pembakaran batu bara, tetapi bottom ash memiliki ukuran yang lebih besar daripada fly ash yang berukuran lebih halus. Sehingga bottom ash disebut sebagai abu yang “terendapkan” dan fly ash disebut sebagai abu terbang.
Pemanfaatan FABA yang paling memungkinkan secara keekonomian adalah untuk bahan konstruksi. Ini yang jadi salah satu pemantik PLN untuk mendorong pemanfaatannya.
Bukan untuk perusahaan, tapi untuk masyarakat. Selain sebagai salah satu strategi mencapai target karbon netral pada tahun 2060, pemanfaatan FABA telah menjadi sumber daya ekonomi sirkuler untuk dioptimalkan bagi kemaslahatan bersama.
Beberapa laboratorium juga telah melakukan uji kimia dan biologi terhadap FABA. Antara lain laboratorium Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian ESDM bersama Laboratorium Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) Universitas Padjadjaran. Beberapa pengujian toxicology pun menunjukkan bahwa abu batu bara (FABA) yang diteliti dapat dikategorikan sebagai limbah. Tetapi bukan B3. (uno/mie)
Editor : Muhammad Fahmi