Selama kurun waktu 2015–2021, laju inflasi di Kota Probolinggo, fluktuatif. Pada 2015, inflasi tahun kalender 2,11 persen; pada 2016 turun menjadi 1,53 persen; pada 2017 naik menjadi 3,18 persen. Pada 2018 turun menjadi 2,18 persen. Kemudian, pada 2019 menjadi 1,99 persen. Pada 2020, di angka 1,86 persen, dan pada 2021 sebesar 1,76 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo Heri Sulistio mengatakan, inflasi Kota Probolinggo berada di atas target pemerintah karena lebih lima persen. Namun, inflasinya paling kecil di antara kota IHK di Jawa Timur.
“Tertinggi Jember. Mencapai 7,39 persen. Ini tugas tim pengendali inflasi daerah agar inflasi bisa di bawah target pemerintah,” ujarnya.
Sepanjang 2022, ada sembilan kali peristiwa kenaikan harga kebutuhan pokok yang menjadi pemicu inflasi. Pada Januari, didorong harga beras karena belum memasuki panen, kenaikan harga minyak goreng hingga kenaikan harga elpiji nonsubsidi.
Pada Maret, didorong oleh kenaikan cabai merah dan cabai rawit, karena pasokan minim akibat tingginya curah hujan. Pada April, kenaikan harga daging ayam ras, daging sapi, dan telur akibat permintaan tinggi pada bulan Ramadan.
Pada Mei, dipicu bawang merah, karena berkurangnya pasokan akibat cuaca buruk. Juni dan Juli, dipicu kenaikan cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah karena cuaca buruk.
Sementara, pada September, kenaikan transportasi akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dan kenaikan beras, karena masuk masa paceklik. Pada Oktober, ada kenaikan biaya perguruan tinggi ketika tahun ajaran baru. Serta, November, ada kenaikan tempe dan tahu, karena kenaikan bahan baku kedelai.
“Inflasi tertinggi sepanjang 2022 terjadi pada April. Saat itu bersamaan dengan momen Ramadan. Masyarakat cenderung lebih konsumtif, sehingga permintaan lebih tinggi dari bulan biasanya,” jelas Heri. (riz/rud) Editor : Ronald Fernando