Kabag Administrasi Perekonomian dan SDA Sekretariat Daerah Kabupaten Probolinggo, Susilo Isnadi membenarkan kenaikan inflasi tersebut. “Rillis penghitungan angka inflasi dilakukan perbulan. Untuk September (akhir) inflasi YOY (Year of year) sebesar 4,23 persen, masih dibawah rata provinsi dan nasional yg mencapai 5 persen," katanya, Rabu (28/9).
Meski begitu, angka inflasi ini di akuinya lebih dari marjin aman bagi inflasi. Dimana angka aman pada inflasi ada di antara 2-4 persen. "Sudah lebih dari marjin aman. Memang seharusnya yang aman itu 3 plus minus 1. Sehingga ada diantara 2-4 persen. Tapi ternyata saat ini lebih dari 4," ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa angka tersebut tidak bisa dikatakan baik dan juga tidak bisa dikatakan buruk. Sebab, masih ada daerah lain yang sangat bagus dan cukup tinggi melebihi ambang batas inflasi.
Ia mengatakan inflasi ini tidak bisa diatur seperti harga pasar yang bisa hanya dikendalikan. "Kalau tinggi, harga jangkauan akan memberatkan konsumen. Sehingga pertumbuhan ekonomi rendah. Namun kalau terlalu rendah tidak baik. Pertumbuhan ekonomi bagi produsen atau penjual bisa rendah. Jadi halus terkendali," ujarnya.
Untuk pemicunya, lanjut Susilo, salah satunya dampak dari kenaikan BBM beberapa waktu lalu. Namun kenaikan BBM tersebut dampaknya tidak begitu signifikan. "Memang inflasi secara nasional menang gencar-gencarnya dilakukan pengendalian. Bahkan presiden turun langsung. Dampak BBM ada, cuma tidak terlalu signifikan,” jelasnya.
Sementara itu, andil inflasi yang cukup tinggi terjadi pada sebelas bahan pokok penting (Bapokting). Karena merupakan kebutuhan primer dengan proporsi pengeluaran rumah tangga, relatif lebih besar dibanding komponen lain.
"Sejauh ini, angka inflasi yang paling banyak disumbang dari Bapokting. Seperti beras terutama yang premium. Mulanya Rp 11 ribu, saat ini Rp 11,500, Juga daging semula Rp 110 ribu perkilonya, saat ini Rp 115 ribu. Jadi memang ada kenaikan, namun tidak signifikan," ujarnya. (mu/fun) Editor : Ronald Fernando