Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Harga Cabai di Pasuruan-Probolinggo Nyaris Setara Daging

Jawanto Arifin • Senin, 6 Juni 2022 | 14:07 WIB
KIAN PEDAS: Pedagang cabai rawit di Pasar Bangil menunjukkan cabai dagangannya. Harga cabai di Pasuruan-Probolinggo meroket hingga nyaris setara harga daging. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
KIAN PEDAS: Pedagang cabai rawit di Pasar Bangil menunjukkan cabai dagangannya. Harga cabai di Pasuruan-Probolinggo meroket hingga nyaris setara harga daging. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
MAYANGAN, Radar Bromo - Harga cabai rawit di Probolinggo dan Pasuruan terus naik. Bahkan, harganya nyaris setara harga daging sapi. Menyentuh angka Rp 95 ribu–Rp 100 ribu per kilogram.

Di Pasar Baru Kota Probolinggo misalnya, harga cabai rawit tembus Rp 95 ribu per kilogram, Minggu (5/6). Sementara harga daging sapi di kisaran Rp 100 ribu–Rp 118 ribu. Cuaca dinilai menjadi penyebab besar melambungnya harga cabai saat ini.

Imam Wahyudi, penjual masakan asal Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, mengatakan, Minggu (5/6) harga cabai tembus Rp 95 ribu per kilogram di Pasar Baru. Dirinya mendapat informasi, cuaca buruk dan seringnya hujan turun saat ini menjadi penyebab naiknya harga cabai.

“Harga cabai naik drastis. Sekarang hampir sama dengan harga daging (sapi),” tuturnya.

Imam pun terpaksa mengurangi pemakaian cabai untuk masakannya. “Untuk buat sambal misalnya, biasanya pakai cabai tiga kilogram dan tomat satu kilogram. Karena harga cabai mahal, komposisinya dibalik. Tomat tiga kilogram dan cabai satu kilogram,” tuturnya.

Ami, 68, salah satu pedagang cabai di Pasar Baru mengaku, kenaikan harga cabai berasal dari distributor. Sementara pedagang menjual berdasarkan harga dari distributor.

“Jadi sebetulnya untung yang diambil pedagang tidak banyak. Tidak lebih dari Rp 5 ribu. Harga naik, ya karena dari distributornya naik. Kabarnya karena sering hujan, tanaman cabai maka banyak yang rusak. Akhirnya panen cabai jadi sedikit. Harga pun naik. Sudah biasa kayak gitu,” tuturnya.



Sementara di Kabupaten Pasuruan, harga cabai rawit rata-rata mencapai Rp 90 ribu per kilogram. Bahkan, bisa lebih. Mendekati Rp 100 ribu per kilogram.

Juwariyah, 60, salah satu pedagang cabai di Pasar Bangil, Kabupaten Pasuruan, mengatakan, harga cabai melonjak sejak tiga hari terakhir. Awalnya Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu per kilogram, kemudian melonjak tajam.

“Sejak Jumat harganya merangkak naik. Sekarang sudah menembus Rp 90 ribu sampai Rp 95 ribu per kilogram," bebernya.

Meski begitu, naiknya harga cabai tak memengaruhi permintaan. Rata-rata ia mampu menjual 20 kg hingga 30 kg cabai rawit setiap harinya.

"Kalau permintaan stabil. Tidak terpengaruh meski harganya naik. Mungkin memang menjadi kebutuhan," sampainya.

Yanti, pedagang cabai yang lain di Pasar Bangil menjelaskan hal serupa. Menurutnya, harga cabai memang menanjak beberapa hari terakhir. Bukan hanya cabai rawit, juga cabai merah atau cabai besar.

Sebelumnya, harga cabai merah Rp 40 per kilogram. Namun sekarang mencapai Rp 65 ribu per kilogram.



"Kalau harga cabai rawit malah lebih tinggi. Hampir setara dengan daging," tandasnya.

Staf Disperindag Kabupaten Pasuruan M. Rifai mengakui, harga cabai mengalami kenaikan beberapa hari terakhir. Dimungkinkan penyebabnya karena faktor cuaca.

"Dimungkinkan banyak pertanian cabai yang rusak. Sehingga ketersediaan cabai berkurang. Dampaknya harganya melonjak," tuturnya mendampingi Kadisperindag Kabupaten Pasuruan Diano V.F. Santoso. (rpd/one/hn) Editor : Jawanto Arifin
#harga cabai mahal