Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Harga Bawang Merah di Probolinggo Naik, Petani Semringah

Jawanto Arifin • Kamis, 19 Mei 2022 | 20:02 WIB
SIAP JUAL: Bawang yang dijual pembeli di Pasar Bawang Dringu. Hampir semua jenis bawang merah yang dijual mengalami kenaikan harga. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
SIAP JUAL: Bawang yang dijual pembeli di Pasar Bawang Dringu. Hampir semua jenis bawang merah yang dijual mengalami kenaikan harga. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
DRINGU, Radar Bromo - Sesuai prediksi, harga bawang merah di Probolinggo bakal naik usai hari raya. Prediksi itu benar karena harga bawang merah kini naik. Bahkan terbilang besar dan membuat para petani bawang merah tersenyum lebar. Kenaikan kali ini disebut-sebut paling tinggi jika dibandingkan selama dua tahun sebelumnya.

Kepala UPT Pasar Bawang Dringu Sutaman mengatakan, harga bawang merah di tempatnya saat ini mengalami peningkatan. Bahkan kenaikannya terbilang cukup tinggi.

"Untuk bawang merah harga paling tungginya saat ini Rp 35 ribu perkilonya. Harga itu ada pada bawang merah super gross, atau jenis kelas A. Paling bagus yang warnanya lebih merah, akarnya sudah di proses, dan yang kecil-kecil dibuang dan menyisakan yang besar-besar," ujarnya, Rabu (18/5).

Ia mengatakan, untuk kebaikan harga ini ada di setiap jenis bawang merah. Rata-rata kenaikannya ada di Rp 4000 - 5000. "Untuk super Gross yang harganya Rp 35 ribu itu jarang di temui saat ini. Tidak sebanyak bawang yang lain," bebernya.

Adanya kenaikan harga yang cukup signifikan ini, diungkap Sutaman, bermula dari sejumlah bibit bawang merah yang tidak laku di akhir tahun lalu. Sehingga, saat ini banyak para petani bawang merah yang gagal tanam.

"Ada yang lahannya siap, tapi bibitnya gak ada, jadi gagal tanam. Penyebabnya pada Desember tahun lalu sampai Januari awal tahun, bibit bawang banyak yang tidak laku. Jadi cari bibit sekarang susah. Banyak yang kempos saat diturunkan untuk ditanam," jelasnya.

Kondisi itu membuat banyak petani bawang merah yang tidak menanam bawang. Sutaman mengatakan, dari tiga kecamatan yang menjadi lumbung bawang merah di Kabupaten Probolinggo, yakni Kecamatan Dringu, Leces dan Tegalsiwalan, tidak banyak petani bawang yang melakukan penanaman.



"Data yang saya miliki hanya 40 persen petani di tiga kecamatan itu yang menanam bawang. Selebihnya beralih ke jagung. Penyebabnya, karena tahun lalu penyakit bawang kan luar biasa, menyebabkan gagal panen. Mungkin dari itu enggan menanam," bebernya.

Dengan adanya gagal panen pada tahun lalu tersebut, saat ini adalah balasan harga yang bagus kepada para petani bawang. "Jadi yang nekat tanam pada awal tahun ini, ya panennya saat ini. Harganya bagus. Balasan dari yang tahun lalu. Tidak hanya itu, harga ini paling bagus sejak 2 tahun belakang. Kalau tahun lalu harganya hanya Rp 30 ribu paling mahal,” ujarnya.

Untu stok bawang merah di pasar, diungkap Sutaman cukup bagus. Perharinya rata-rata 100-120 ton. "Meski stoknya lumayan, pembelinya lebih banyak. Bahkan, tengkulak dari malang kembali Karena tidak dapat bawang. Bawang laris di sini," jelasnya. (mu/fun) Editor : Jawanto Arifin
#bawang merah probolinggo #harga bawang merah