Oleh: Moh. Aris, SP.
(Mahasiswa Magister Agribisnis DPPS Universitas Muhammadiyah Malang)
Menganalisa dampak pinjaman online baik yang legal maupun illegal dengan segala ekses yang dramatic akhir-akhir ini bisa didekati dengan pendekatan filsafat. Akar pendekatan filsafat itu adalah apa yang disebut dengan budaya hedonisme.
Adapun Hedonisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu hedonismeos dengan kata dasar hedone. Kata hedone memiliki arti ‘kesenangan,’ sedangkan hedonismeos diartikan sebuah cara pandang yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kesenangan sebanyak mungkin.
Kesenangan tersebut bisa didapatkan melalui berbagai cara, seperti menikmati hiburan, memiliki harta, kegiatan seksual, dan sebagainya. Apakah mencari kehidupan dunia tersebut salah ? Apakah manusia tidak boleh mencari kesenangan ? Telusur kata berikutnya dari mencari kesenangan dunia itu adalah konsep keseimbangan.
Dunia digital sekarang bisa disebut dengan istilah lessborder, dunia tanpa batas. Orang dengan begitu mudahnya memantau berita apapun, dimanapun dalam waktu manapun di belahan dunia ini hanya dengan segenggam peralatan komunikasi yang untuk saat ini hampir setiap manusia dari sisi lapisan apapun memiliki. Bukan hanya politikus, bisnisman, bahkan petani, ibu rumah tangga, anak-anak sampai lapisan masyarakat dari kasta rendah seperti (maaf) pengemis pun sepertinya mainkan alat komunikasi ini sambil beraksi di perempatan jalan-jalan di kota.
Orang bisa berkeluh kesah, bisa curhat, bisa marah, bisa menghujat sana-sini hanya berbekal ketrampilan jari. Keluh kesah ini pun dengan sangat mudah bisa diakses oleh siapapun jika berada pada media sosial yang sama. Bisa jadi pekerjaan marketing dari perusahaan pinjaman on line ini bekerja untuk menarik konsumen melalui jaringan aktifitas keluh kesah ini yang dalam bahasa puitis ibarat sambung menyambung bagaikan rantai yang tiada ujung.
Kecenderungan orang untuk memenuhi kebutuhan duniawinya tanpa memperhatikan kapasitas materi yang dimiliki, akan melahirkan ide yang kadang-kadang cenderung di luar nalar, semacam halusinasi.
Misalnya, andaikan tiba-tiba ada orang yang mengantarkan uang sekian juta, andaikan tiba-tiba menemukan tas yang berisi segepok uang tunai jutaan rupiah, atau tiba-tiba ketika mengececk kartu ATM ada transferan sekian juta rupiah, dll. Halusinasi itu akan menjadi nyata ketika tiba-tiba ada jejaring marketing dari tim Pinjaman On line yang lewat di media sosial kita.
Jadilah pinjol itu seperti malaikat yang tiba-tiba datang menawarkan solusi kongkrit yaitu uang. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan duniawi segera akan terealisasi dengan datangnya tawaran pinjol. Ketika pikiran masih dipengaruhi halusinasi maka realiatas akal untuk berpikir logis tidak ada tempat.
Secara logika apakah pinjaman online itu menerapkan suku bunga yang tinggi, fee besar, denda tak terbatas, ataupun yang secara tidak sadar kita menanda tangani ketentuan tentang sistim tagihan yang terkesan terror, dll yang merupakan ciri dari pinjol illegal. Sehingga luput dari logika kita untuk melakukan check kepada Otoritas Jasa Keuangan apakah pinjaman on line itu legal ataupun tidak.
Ketika Socrates memunculkan hedonism di tahun 433 SM, diawali pada saat sang filsuf sedang mempertanyakan tujuan hidup manusia. Apa yang dimunculkan Socrates saat ini sebenarnya agak menyimpang dari arti hedonism semula. Hedonisme sekarang sering diartikan sebagai tindakan foya-foya mengejar kehidupan dunia belaka, tanpa memperhatikan ketentraman batin sesungguhnya.
Tindakan memburu kesenangan dunia yang kemudian diikuti dengans sikap tidak pernah merasa cukup akan meluluhlantakkan kehidupan ekonomi siapapun dari golongan manapun baik yang berada mapun yang tidak berada. Ketika tidak bisa mengukur kemampuan materi riil itulah yang kemudian menjadi malapetaka sosial yang menyertai dampak dari pinjaman on line yang illegal. Teror dan mekanisme debt collector macetnya pinjaman on line menjadi bumbu sedap bagi berita-berita di media.
Filusuf lain yang lahir tahun 341 SM dan meninggal di tahun 270 SM yaitu Epikuros memandang bahwa hedonism tidak mengejar maksimalisasi tetapi kenikmatan (secukupnya).
Hedonisme bukan seorang yang serakah tetapi pilih-pilih. Kebebasan dari gangguan adalah tujuan hidup yang membahagiakan. Kenikmatan adalah permulaan dan akhir kehidupan. Konsep yang hampir mirip dengan hedonism versi Epikuros yaitu sebuah ungkapan dalam Bahasa Arab yang BUKAN merupakan Hadits tapi atsar yang dinisbatkan pada sebagian sahabat, yaitu Abdillah bin Amr bin Ash ( Athiyah Shaqr dalam Fatawa al-Azhar) yaitu : “I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.” Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari”.
Konsep ini mengajarkan kepada kita tetang prinsip keseimbangan hidup. Lepas dari arti fundamental baik pinjaman on line maupun regular adalah fenomena biasa dalam sistim kehidupan bermasayarakat. Yang menjadikan sisi wajar dari sebuah pinjaman adalah Ketika kita secara sadar mempu untuk di kemudian hari mengembalikan dengan ukuran yang cermat dan terukur. Dan yang tidak kalah penting adalah kemampuan dari diri kita untuk menyatakan dan memanage lebih cermat dan tepat tentang arti “cukup” Ketika kita dihadapkan pada kondisi dimana kita sedang memburu kehidupan duniawi,
Pinjaman on line merupakan layanan peminjaman uang yang diselenggarakan penyedia jasa keuangan, secara daring atau online. Penyedia itu populer dengan sebutan fintech. Dengan sistim informasi tanpa batas pinjaman on line menjadi bak dewa penolong bagi oarng yang sedang kesulitan finansial.
Kemauan yang muncul untuk memenuhi kebutuhan duniawi sesorang HARUS diimbangi dengan kemampuan mengukur diri secara cermat. Hedonisme bisa dimaknai positif jika mmemperhatikan konsep kesimbangan baik dari konsep Epikuros maupun dari Konsep ungkapan dalam bahasa Arab diatas.
Wujud dari gambaran keseimbangan itu merupakan bagian dari hukum alam. Jika ada penentangan terhadap hukum alam ini maka yang terjadi adalah bencana sosial berupa ketidaktentraman karena terror, efek domino dari pinjaman on line yang macet. Tidak ada salahnya kita mengutip apa yang dikatakan tokoh filsafat berikut : "Hidup ini sebenarnya sederhana, tapi kita berkeras untuk membuatnya rumit." – Confusius. (*) Editor : Muhammad Fahmi