Kisah Rumah HT, Jejak Rumah Keluarga Hartawan di Jalan Utama Pasuruan

Fuad Alyzen • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 12:48 WIB
KUNO: Bangunan rumah Han Tiauw Hing yang berdiri di wilayah Kota Pasuruan. (Budiman for Radar Bromo)
KUNO: Bangunan rumah Han Tiauw Hing yang berdiri di wilayah Kota Pasuruan. (Budiman for Radar Bromo)

JIKA melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Pasuruan, ada satu bangunan yang menyimpan cerita panjang perjalanan kota.

Bangunan di nomor 86 itu dikenal masyarakat sebagai Rumah HT. Usianya hampir seabad.

Di balik bentuk bangunannya, tersimpan kisah keluarga Han, salah satu keluarga Tionghoa peranakan yang pernah memiliki pengaruh besar di Pasuruan.

Rumah tersebut merupakan kediaman Han Tiauw Hing. Ia lahir di Pasuruan pada 1887, putra Han Hoo Tjoan dan Kwee Tjiam Nio.

Han Tiauw Hing. (Budiman for Radar Bromo)

Han Tiauw Hing. (Budiman for Radar Bromo)

BERSEJARAH: Rumah Han Tiauw Hing yang diusulkan menjadi Cagar Budaya. (Budiman for Radar Bromo)
BERSEJARAH: Rumah Han Tiauw Hing yang diusulkan menjadi Cagar Budaya. (Budiman for Radar Bromo)

Han Tiauw Hing tumbuh dalam keluarga hartawan, yang dikenal sebagai tuan tanah sekaligus pengusaha gula. 

Keluarganya memiliki sejumlah properti dan berkaitan dengan pabrik gula Pengkol (de Goede Hoop) dan Pleret.

Han Tiauw Hing memiliki sejumlah saudara, di antaranya Han Tiauw Khing, Han Tiauw Tjiang, dan Han Tiauw An.

Rumah yang dibangunnya berada di antara kediaman keluarganya. Di sebelah barat rumahnya berdiri kediaman sang ayah, Han Hoo Tjoan.

Sementara di sebelah timur terdapat rumah kakaknya, Han Tiauw Khing.

Sekitar 1925, Han Tiauw Hing membangun sendiri rumah kediamannya di Jl. Raya No. 86, yang kini menjadi Jl. Soekarno-Hatta 86.

Salah satu bagian yang paling mencolok adalah gazebo berbentuk bundar, atau lebih tepatnya segi enam, dua lantai di sisi timur halaman. Lantai atas digunakan untuk rekreasi keluarga.

 Sedangkan lantai bawah, konon menjadi tempat menyimpan seperangkat gamelan Jawa.

"Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal. Dari bangunan dan lingkungan sekitarnya, bisa dilihat bagaimana keluarga Han menjadi bagian dari perjalanan Kota Pasuruan. termasuk dalam dunia usaha, sosial, pendidikan, sampai kebudayaan," ujar Pemerhati Sejarah Pasuruan, Ahmad Budiman Suharjono.

Menariknya, desain rumah ini juga diduga memiliki kaitan dengan C. Smits, arsitek yang bekerja pada biro kontraktor Smits, Koper, Hoogerbeets di Malang.

Dugaan tersebut didasarkan pada kemiripan ornamen kayu bagian atas dan bawah atap, dengan sejumlah bangunan yang dirancang C. Smits.

Arsitek tersebut juga diketahui merancang Monumen Bendera di depan Rumah Residen Pasuruan dan sekolah Frateran St. Jozefhuis di Celaket 21 Malang.

Ia juga diduga berkaitan dengan desain dua vila kembar di Lawang, yang kini menjadi kompleks CPM atau Denpom Divif 2 Kostrad.

C. Smits bahkan memiliki pabrik ubin, tegel, dan teraso di Jalan Lowokwaru 23/31 Malang.

 Ornamen bangunan dalam iklan pabrik pada 1924, memperlihatkan karakter yang disebut memiliki kemiripan dengan Rumah HT Pasuruan.

Dari rumah inilah perjalanan Han Tiauw Hing sebagai salah satu tokoh penting Pasuruan, kemudian berkembang.

Bukan hanya sebagai pemilik rumah besar, tetapi juga pengusaha dan tokoh masyarakat.

 

Dari Rumah Tinggal hingga Markas Bus HT

Han Tiauw Hing tidak selamanya berada di lingkaran bisnis gula keluarganya.

Ketika industri gula memasuki masa sulit dan resesi dunia menghantam pada dekade 1930-an, ia justru mengambil jalur berbeda. Ia menekuni bisnis transportasi darat.

Sebelum nama HT dikenal luas, armada bus miliknya masih menggunakan nama Mata Hari.

Perkembangan kendaraan bermotor saat itu, dimanfaatkan Han Tiauw Hing untuk membangun bisnis transportasi sekaligus infrastrukturnya.

Pada 20 Juli 1929, Soerabaijasch Handelsblad memberitakan pengajuan izin kepada Gemeente Pasoeroean.

Han Tiauw Hing, atas nama Standard Oil Company, mengajukan izin mendirikan stasiun pompa bensin di Hoofdstraat, tepat di sebelah barat jam Kota Pasuruan.

Pompa bensin tersebut diperuntukkan bagi armada busnya. Dua tahun kemudian, tepatnya 2 Mei 1931, Han Tiauw Hing kembali membuat gebrakan.

Gedung kantor baru N.V. Autobus Onderneming H-T. di Hoofdstraat resmi dibuka.

Peresmian itu berlangsung meriah. Hadir Wali Kota Pasuruan H.E. Boissevain, pejabat Belanda, tokoh Tionghoa, hingga pemuka pribumi.

Dalam sambutannya, Wali Kota memuji keberanian Han Tiauw Hing membangun gedung baru ketika kondisi ekonomi sedang sulit.

Persaingan perusahaan bus juga menjadi perhatian. Boissevain mengingatkan, agar persaingan antaroperator tidak sampai membahayakan keselamatan lalu lintas.

Namun, ia menyatakan keyakinannya, Han Tiauw Hing dapat menyeimbangkan kepentingan usaha dengan kepentingan umum.

Malam setelah peresmian bahkan berlangsung hingga sekitar pukul 01.00. Para tamu menikmati pertunjukan orkes gesek dan gamelan, disertai hidangan serta minuman.

Menurut Pemerhati Sejarah Pasuruan Ahmad Budiman Suharjono, perjalanan itu memperlihatkan bahwa Han Tiauw Hing tidak hanya meneruskan kekayaan keluarga.

"Ketika bisnis gula menghadapi tekanan, dia justru membaca peluang lain. Transportasi darat menjadi pilihan baru, yang kemudian membuat namanya semakin dikenal," jelas Ahmad.

Nama Han Tiauw Hing kemudian masuk dalam buku Orang-Orang Tionghoa Jang Terkemoeka di Java, Who's Who 1935.

Publikasi tersebut memuat profil tokoh-tokoh Tionghoa terkemuka di Jawa.

Pengaruhnya tidak berhenti di dunia usaha. Pada 13 Oktober 1937, dalam pertemuan di gedung THHK Pasuruan, ia terpilih sebagai ketua perkumpulan baru yang menangani perawatan kaum miskin dari komunitas Tionghoa atau Chineesche armenzorg.

Pertemuan tersebut dipimpin Asisten-Residen, sekaligus pelaksana tugas Wali Kota Pasuruan, dr. C.G.E. de Jong.

Kepengurusan lama dianggap kurang efektif. Han Tiauw Hing kemudian dipercaya memimpin perkumpulan baru.

De Indische Courant menyebutnya sebagai hartawan lokal yang populer di berbagai lapisan masyarakat Tionghoa.

Hampir seluruh peserta pertemuan, bahkan langsung mendaftarkan diri sebagai donatur.

Para ketua perkumpulan Tionghoa di Pasuruan, juga diangkat sebagai komisaris.

Sebelumnya, kiprahnya di THHK (Tiong Hwa Hwee Koan) Pasuruan sudah cukup kuat.

Organisasi tersebut berdiri sekitar 1904. Pada 1925, Han Tiauw Hing menjadi presiden ketiga THHK Pasuruan dan kemudian dipercaya sebagai penasihat.

Di bawah kepemimpinannya, THHK berkembang sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan Tionghoa di Pasuruan.

Puncak kiprahnya di dunia transportasi terjadi pada 1940. Han Tiauw Hing dipercaya menjadi Wakil Ketua Bond van Autobusondernemers Hindia, perkumpulan pengusaha bus di Hindia Belanda yang berpusat di Surabaya.

Ketua perkumpulan tersebut adalah Mr. Liem Sik Tjo, pengacara terkemuka dari Surabaya.

Sementara anggotanya berasal dari sejumlah kota, seperti Pasuruan, Madiun, Semarang, dan Surabaya.

Dengan demikian, nama HT bukan sekadar identitas sebuah rumah. Nama tersebut kemudian melekat pada perjalanan usaha transportasi, yang dirintis Han Tiauw Hing.

Han Tiauw Hing wafat pada 1958 dalam usia 71 tahun. Ia dimakamkan di Wironini, yang kini berada di kawasan Jl. Erlangga, Kota Pasuruan.

Makamnya berdampingan dengan makam orang tuanya, Han Hoo Tjoan dan Kwee Tjiam Nio.

Di dekatnya, juga terdapat makam dua istri pertamanya, Kwee Lian Nio dan Oei Bok Kiem.

Kwee Lian Nio meninggal pada 1911 setelah dikaruniai seorang putra. Istri keduanya adalah Oei Bok Kiem dari Sidoarjo.

Sedangkan istri ketiganya adalah Wilhelmina Rika Siti Syafina Samsudin.

Jejak keluarga tersebut kini tidak hanya tersimpan di makam. Rumah HT menjadi salah satu peninggalan fisik yang masih bertahan.

 

Masuk Kajian Cagar Budaya

Hampir seabad berlalu sejak Han Tiauw Hing mendirikan rumahnya di Jalan Raya Nomor 86. Kini alamat itu dikenal sebagai Jl. Soekarno-Hatta 86, Kota Pasuruan.

Meski zaman berubah, bangunan tersebut masih berdiri. Rumah yang dahulu menjadi kediaman Han Tiauw Hing, sekaligus berada di lingkungan keluarga besar Han, hingga kini masih dihuni oleh keturunannya.

Pemerhati Sejarah Pasuruan Ahmad Budiman Suharjono menyebut keberadaan Rumah HT menjadi penting, karena tidak banyak bangunan tinggalan masa lalu yang masih mempertahankan jejak aslinya.

"Rumah HT masih menjadi salah satu bangunan yang memperlihatkan bagaimana kawasan ini dahulu, menjadi bagian dari kehidupan keluarga Han. Bukan hanya dari sisi arsitektur, tetapi juga sejarah sosial dan ekonomi Kota Pasuruan," ujar Ahmad.

Rumah HT tercatat sebagai salah satu bangunan, yang diajukan dan dikaji Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Pasuruan. Bangunan tersebut menjadi bagian dari objek bersejarah, yang dinilai memiliki arti penting bagi perjalanan Kota Pasuruan.

Kajian itu tidak lepas dari riwayat panjang bangunan. Rumah HT berkaitan dengan sosok Han Tiauw Hing, tokoh Tionghoa peranakan yang pernah menjadi Presiden THHK Pasuruan, pemimpin perkumpulan sosial, pengusaha bus, hingga Wakil Ketua Bond van Autobusondernemers Hindia pada 1940. (zen/one)

 

Mengenai Rumah HT

Profil dan Arsitektur Rumah

·        Lokasi: Jl. Soekarno-Hatta No. 86, Kota Pasuruan.

·        Tahun Berdiri: Dibangun sekitar tahun 1925 oleh Han Tiauw Hing.

·        Status Saat Ini: Masih dihuni keturunannya & sedang dikaji oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).

·        Ciri Khas: Gazebo segi enam 2 lantai (lantai atas untuk rekreasi, lantai bawah untuk simpan gamelan Jawa) dan ornamen kayu khas arsitek C. Smits.

 

Kiprah Han Tiauw Hing (1887–1958)

·        Bisnis Gula ke Transportasi: Beralih dari industri gula keluarga ke bisnis transportasi darat saat resesi 1930-an.

·        Bus HT: Mendirikan perusahaan otobus N.V. Autobus Onderneming H-T (sebelumnya bernama Bus Mata Hari) dan membuka kantor pusat serta pompa bensin pada 1931.

·        Puncak Karier: Menjadi Wakil Ketua Bond van Autobusondernemers Hindia (Asosiasi Pengusaha Bus Hindia Belanda) pada 1940.

·        Sosial dan Budaya: Presiden Ketiga THHK Pasuruan (1925) dan Ketua Perawatan Kaum Miskin Tionghoa (1937).

 

Kilas Balik

1925: Rumah HT dibangun di kawasan elite keluarga Han.

1931: Kantor Bus HT diresmikan meriah oleh Wali Kota H.E. Boissevain.

1935: Masuk buku "Orang-Orang Tionghoa Jang Terkemoeka di Java".

1958: Han Tiauw Hing wafat dan dimakamkan di Wironini (Jl. Erlangga).

2026: Diusulkan menjadi bangunan Cagar Budaya resmi Kota Pasuruan.

Editor : Jawanto Arifin
kota pasuruan rumah kuno heritage sejarah cagar budaya