Menengok Sejarah Gereja Katolik St Antonius Padua Pasuruan, Warisan Kedermawanan Sang Raja Gula Abad

Fahrizal Firmani • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 12:12 WIB
BERSEJARAH: Potret gedung Gereja St. Antonius Padua di wilayah Kota Pasuruan di era kolonial Belanda. (Istimewa)
BERSEJARAH: Potret gedung Gereja St. Antonius Padua di wilayah Kota Pasuruan di era kolonial Belanda. (Istimewa)

BERDIRI di Jalan Balai Kota, Kelurahan Kandangsapi, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Gereja Katolik Santo Antonius Padua (Santo Padova) menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang.

Rumah ibadah yang dibangun sejak era kolonial Belanda pada abad ke-19 ini, tetap berdiri kokoh hingga saat ini, serta konsisten melayani ibadah umat Katolik di Kota Pasuruan setiap pekannya.

Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono, mengungkapkan eksistensi gereja bersejarah ini, tidak dapat dilepaskan dari sosok Alexander Manuel Anthonijs (1832–1879).

KOKOH: Bangunan Gereja St. Antonius Padua Pasuruan yang hingga kini berdiri kokoh seiring perubahan zaman. (Fahrizal Firmani/Radar Bromo)

KOKOH: Bangunan Gereja St. Antonius Padua Pasuruan yang hingga kini berdiri kokoh seiring perubahan zaman. (Fahrizal Firmani/Radar Bromo)

KUNO: Kondisi dalam Gereja St. Antonius Padua yang menjadi tempat jemaat untuk beribadah. (Istimewa)
KUNO: Kondisi dalam Gereja St. Antonius Padua yang menjadi tempat jemaat untuk beribadah. (Istimewa)

LAPANG: Jalan menuju Gereja St. Antonius Padua yang tampak lapang. (Istimewa)
LAPANG: Jalan menuju Gereja St. Antonius Padua yang tampak lapang. (Istimewa)

Ia merupakan seorang pengusaha tebu sukses, sekaligus crazy rich Karesidenan Pasuruan pada zamannya, yang menguasai sejumlah pabrik gula besar.

Seperti PG De Goede Hoop di Pengkol, PG Alkmaar di Purwosari, dan PG Seroenie di Gedangan, Sidoarjo.

Ketika Anthonijs tutup usia pada 26 Agustus 1879, perannya sebagai donatur utama gereja diabadikan secara resmi, melalui surat wasiat.

Berdasarkan laporan surat kabar kolonial De Locomotief edisi 9 September 1879, sang miliarder secara khusus menghibahkan dana fantastis sebesar f 15.000 (15 ribu Gulden), demi mendirikan sebuah gereja Katolik di Pasuruan.

Sebagai bentuk penghormatan, bangunan suci ini diletakkan di bawah perlindungan spiritual Santo Antonius dari Padua, yang merupakan santo pelindung dari trah keluarga besar Anthonijs.

Kendati demikian, proses konstruksi fisik gereja, baru terealisasi 16 tahun pascakematian sang donatur utama.

Menurut Budiman, penundaan yang cukup lama ini, dipicu oleh lambatnya pertumbuhan struktur tata kelola Gereja Katolik di Hindia Belanda kala itu, yang tengah menghadapi krisis akut berupa kelangkaan jumlah rombongan pastor.

"Akibatnya, pembangunan gedung gereja baru di Pasuruan terpaksa tertunda lama. Pihak jemaat lokal harus sabar menunggu antrean, hingga adanya kepastian administrasi dari pusat serta ketersediaan rohaniwan yang siap ditugaskan," urai Budiman.

Setelah penantian panjang, gereja ini akhirnya resmi diresmikan, diberkati, dan ditahbiskan pada 28 Juli 1895 oleh Mgr. Walterus Jacobus Staal, Uskup Kehormatan Mauricastro sekaligus Vikaris Apostolik dan Pastor Batavia.

Upacara sakral penahbisan tersebut, dilaksanakan di sela-sela agenda kunjungan kerja pastoral sang uskup ke wilayah Jawa Timur, tepat tiga hari sebelum dirinya bertolak menuju Maumere via pelabuhan Surabaya pada 31 Juli 1895.

 

Awal Mula Pembangunan Pastoran

Perjalanan kemandirian institusional Gereja Katolik Santo Antonius Padua (Santo Padova) Pasuruan, mencatat momentum penting pada awal dekade 1930-an.

Setelah lebih dari 35 tahun berdiri tanpa adanya imam yang menetap, gereja di Jalan Balai Kota ini akhirnya resmi membentuk Paroki Mandiri, yang dibarengi dengan pembangunan gedung Pastoran (rumah dinas pastor).

Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono, menerangkan cetak biru pendirian pastoran tersebut, dimulai pada akhir tahun 1931.

Berdasarkan arsip surat kabar Belanda De Indische Courant edisi 3 Oktober 1931, proyek arsitektural ini dipercayakan kepada biro perancang ternama, Smits-Koper-Hoogerbeets dari Malang.

Hanya berselang beberapa hari, De Indische Courant edisi 6 Oktober 1931 mengabarkan bahwa setelah izin resmi keluar, struktur bangunan pastoran langsung dirancang membentuk satu kesatuan estetis yang indah, dengan gedung gereja lama.

Momentum ini sekaligus menjadi sinyal kuat, bahwa umat Katolik Pasuruan, Bangil, dan sekitarnya, akan segera memiliki pastor tetap untuk memimpin kebaktian secara teratur.

Memasuki bulan Januari 1932, perkembangan fisik proyek berjalan sangat pesat.

Koran Soerabaijasch Handelsblad edisi 6 Januari 1932 melaporkan, Prefek Apostolik Malang, Mgr. N. van der Pas, turun langsung ke lapangan untuk menginspeksi kemajuan pembangunan. Hasil tinjauan tersebut dinilai sangat memuaskan.

"Bersamaan dengan rampungnya pastoran, pihak otoritas gereja saat itu juga mengumumkan, bahwa bangunan utama gereja akan menjalani renovasi menyeluruh (eene welne restauratie ondergaan), seiring peningkatan status barunya sebagai gereja paroki," urai Budiman.

Fase bersejarah ini mencapai puncaknya pada hari Minggu, 31 Januari 1932 sekitar pukul 08.30. Gereja dilaporkan dipadati oleh jemaat dengan kondisi altar yang dihias penuh bunga, untuk menyambut upacara pelantikan Pastor J.W. Jongmans sebagai pastor tetap pertama di Paroki Pasuruan.

Berdasarkan dokumentasi De Indische Courant (2 Februari 1932), pelantikan yang dipimpin langsung oleh Monseigneur Van der Pas tersebut, menjadi agenda besar yang dihadiri oleh para elite birokrasi kolonial kakap.

Di antaranya Residen Malang Hendrik Kool, Wali Kota Pasuruan H.E. Boissevain, Wali Kota Probolinggo F.E. Meijer, Asisten Residen Pasuruan, hingga sejumlah perwira militer Hindia Belanda.

Ketetapan tersebut secara resmi menandai wilayah kerja Paroki Pasuruan, yang meliputi Kabupaten Pasuruan hingga Bangil, terkecuali wilayah Alkmaar (Purwosari) yang tetap berada di bawah tanggung jawab Pastor Lawang.

Budiman menambahkan, berdasarkan inkripsi prasasti yang terpasang di dinding gereja, Pastor Jongmans merupakan imam kelahiran Leiden, Belanda, yang sebelumnya bertugas di Pastoran Kayutangan, Malang.

Ia menjadi rohaniwan pertama yang menempati rumah dinas pastoran baru tersebut, sebelum akhirnya dipindahtugaskan ke Lawang pada Maret 1934 untuk menggantikan Pastor H.J.A. Dillmann.

Peta kepemimpinan paroki kemudian dilanjutkan oleh Pastor A. van der Linden, O. Carm. Romo dari Ordo Karmel ini, merupakan lulusan filsafat dan teologi di As, Belanda, yang ditahbiskan di Katedral Sint-Jan, ’s-Hertogenbosch oleh Mgr. Diepen.

Sebelum mengabdi selama dua tahun di Pasuruan (1934–1936), ia sempat bertugas di Jember serta Malang, khusus mengurus spiritual militer Katolik.

"Sepanjang masa pemerintahan kolonial Belanda, Paroki Santo Padova total diarsiteki oleh tiga pastor tetap. Pastor ketiga adalah Pastor G.P. van Velzen yang mengemban tugas sejak tahun 1936 hingga masa awal kemerdekaan pada tahun 1947, tepat saat Agresi Militer Belanda I berkecamuk," paparnya.

 

Selamat dari Badai Revolusi

Gereja Katolik Paroki St. Antonius Padua Pasuruan, terbukti memiliki ketangguhan luar biasa.

Rumah ibadah peninggalan abad ke-19 ini, tidak hanya sekadar saksi bisu penataan iman kolonial, melainkan juga penyintas tangguh yang selamat dari taktik bumi hangus, saat perang kemerdekaan berkecamuk.

Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono, menerangkan ketangguhan fisik gereja ini, tergambar jelas dalam laporan koresponden surat kabar Belanda kuno, De Maasbode edisi 6 Agustus 1947 dan Soerabaijasch Handelsblad edisi 26 Juli 1947. Dokumen lawas tersebut mencatat kondisi Pasuruan yang luluh lantak, akibat berkecamuknya Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947.

Saat itu, sejumlah infrastruktur strategis di sekitar kota, mengalami kerusakan parah.

Biara Suster H. Joseph di sisi selatan kota hancur total, bangunan sekolah rusak ringan, dan fasilitas mesin di Pabrik Gula “De Bromo” habis dipreteli.

Namun, takdir baik menaungi kompleks gereja Katolik ini. Bangunan utama dan gedung pastoran dilaporkan tetap berdiri utuh dalam kondisi yang sangat baik, tanpa mengalami kerusakan struktural sedikit pun.

"Selama masa revolusi fisik tersebut, dinamika peribadatan juga tetap terjaga. Pastor G.P. van Velzen tercatat memilih bertahan dan tetap mengemban tugasnya sebagai pastor paroki, untuk mendampingi jemaat di tengah situasi perang," urai Budiman.

Koran Soerabaijasch Handelsblad pada waktu itu, bahkan menangkap sisi humanis lain di tengah ketegangan revolusi.

Di daerah Bangil—yang dikenal sebagai pusat pemukiman Arab—tercatat momen rekonsiliasi unik, di mana pasukan marinir Belanda menggelar pertandingan sepak bola persahabatan (revanche) melawan tim pemuda Arab setempat, menyusul pertandingan sebelumnya yang dimenangkan Belanda dengan skor 3-2.

Berdasarkan kompilasi sumber arsip kolonial periode 1879 hingga 1947, riwayat pembentukan paroki ini berjalan melalui beberapa fase penting.

Pada tahun 1895, Gedung gereja resmi, diresmikan secara formal. Selama 37 tahun pertama (1895–1932), pelayanannya bersifat fluktuatif tanpa imam menetap, di mana jemaat mengandalkan kunjungan pastor dari Surabaya, Malang, atau pasca-1924 diampu dari Probolinggo.

Tahun 1931–1932, Gedung Pastoran (rumah dinas) resmi didirikan di samping gereja oleh biro arsitek Smits-Koper-Hoogerbeets dari Malang, yang dirancang menyatu dengan bangunan utama.

Tepat pada tanggal 13 Juni 1932, Paroki Pasuruan resmi dibentuk secara mandiri, yang mencakup wilayah pelayanan Kabupaten Pasuruan hingga Bangil.

Kini, bangunan cagar budaya yang telah melayani jemaat selama lebih dari 130 tahun ini, terus bersolek mengikuti kebutuhan zaman, tanpa menghilangkan keaslian fasad aslinya.

Beberapa fase pemugaran fisik tercatat pernah dilakukan pada tahun 1993, meliputi peremajaan atap genteng baru, renovasi total gedung pastoran lama, hingga pembangunan gedung perkantoran berlantai dua di sisi belakang pastoran.

Sentuhan interior juga diperbarui, dengan mengganti deretan kursi jemaat lama yang terbuat dari besi dan spons, menjadi kursi kayu jati yang anggun.

Selain itu, pada tahun 1995, sebuah gapura megah selesai dibangun, menghadap langsung ke arah akses utama Jalan Balai Kota.

"Jika di awal berdirinya wilayah kerja Paroki Santo Padova meliputi seluruh Kabupaten Pasuruan hingga Bangil, saat ini peta wilayah pelayanannya telah mengalami penyesuaian geografis. Kendati demikian, fungsinya sebagai episentrum spiritualitas di Kota Pasuruan, tetap tegak tak tergoyahkan," papar dia. (riz/one)

 

TONGGAK KEMANDIRIAN PAROKI PASURUAN

Proyek Gedung Pastoran (1931–1932)

·                    Waktu Tunggu: Dibangun setelah 35 tahun gereja berdiri tanpa imam menetap.

·                    Arsitek: Biro Smits-Koper-Hoogerbeets dari Malang (Izin keluar Oktober 1931).

·                    Konsep Fasad: Dirancang estetis menyatu dengan bangunan gereja lama.

·                    Inspeksi: Diperiksa langsung oleh Prefek Apostolik Malang, Mgr. N. van der Pas (Januari 1932).

Lahirnya Paroki Mandiri

·                    Tanggal Peresmian: 13 Juni 1932.

·                    Cakupan Wilayah Awal: Seluruh Kabupaten Pasuruan dan Bangil (Kecuali Alkmaar Purwosari yang diampu Lawang).

·                    Upacara Pelantikan: Minggu, 31 Januari 1932 pukul 08.30 WIB.

·                    Tamu Elite Kolonial: Residen Malang (Hendrik Kool), Wali Kota Pasuruan (H.E. Boissevain), Wali Kota Probolinggo (F.E. Meijer).

Lini Masa 3 Pastor Tetap Era Kolonial
Pastor I: J.W. Jongmans (1932–1934)

·                    Asal: Leiden, Belanda.

·                    Pindahan dari Pastoran Kayutangan, Malang.

·                    Menjadi imam pertama yang menempati pastoran baru Pasuruan sebelum dipindah ke Lawang.

 

Pastor II: A. van der Linden, O. Carm (1934–1936)

·                    Ordo: Karmel (Ditahbiskan di Katedral Sint-Jan, Belanda).

·                    Rekam Jejak: Mantan rohaniwan militer Katolik di Jember dan Malang.

·                    Bertugas selama 2 tahun sebelum dipindah ke Probolinggo.

 

Pastor III: G.P. van Velzen (1936–1947)

·                    Menjadi pastor ketiga sekaligus terakhir di era kolonial.

·                    Bertahan mendampingi jemaat melewati masa Revolusi Fisik hingga Agresi Militer Belanda I.

Editor : Jawanto Arifin
gereja belanda pasuruan sejarah kolonial