Jejak Sunyi Stasiun Sukorejo Pasuruan, Dulu Mesin Ekonomi, Kini Peron Mati

Muhamad Busthomi • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 11:54 WIB
TETAP KOKOH: Kondisi terkini bangunan utama Stasiun Sukorejo yang terletak di Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, yang masih kokoh. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)
TETAP KOKOH: Kondisi terkini bangunan utama Stasiun Sukorejo yang terletak di Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, yang masih kokoh. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

LEBIH dari seabad lalu, suara lokomotif pertama kali membelah kawasan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.

Sebuah stasiun kecil berdiri, dan dari sana, dunia luar tiba-tiba terasa lebih dekat.

1 November 1878. Jalur Bangil–Sengon resmi beroperasi. Setengah tahun kemudian, Sengon–Lawang menyusul.

Sukorejo berada tepat di tengah denyut perubahan itu. Bukan di ujung, bukan di pusat, tapi di antara.

Di Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, sebuah stasiun kecil berdiri di ketinggian sekitar 239 meter di atas permukaan laut.

URAT NADI TEBU: Rangkaian lokomotif uap saat melintas di kawasan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan sekitar tahun 1920. (Istimewa)

URAT NADI TEBU: Rangkaian lokomotif uap saat melintas di kawasan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan sekitar tahun 1920. (Istimewa)

Staatsspoorwegen, jawatan kereta api negara milik pemerintah kolonial Hindia Belanda, membangunnya sebagai salah satu simpul dalam jalur Kertosono–Bangil, yang menghubungkan pesisir dengan pedalaman Malang.

Bangunannya bergaya indische empire. Tembok tebal, jendela lebar, atap dengan ornamen khas arsitektur kolonial.

Gaya yang sama bisa ditemukan di stasiun-stasiun lain sepanjang jalur yang dibangun Staatsspoorwegen di Jawa Timur.

Pada masa itu, rel bukan sekadar jalan besi untuk kereta. Ia adalah mesin ekonomi. Hasil pertanian dan perkebunan dari pedalaman, bisa dikirim lebih cepat ke pusat perdagangan di pesisir.

Manusia dan barang dari kota bisa bergerak masuk ke daerah, yang sebelumnya hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau menunggang kuda.

Salah satu komoditas terpenting yang mengalir di atas rel itu adalah tebu. Jawa Timur memiliki banyak suikerfabriek, pabrik gula peninggalan kolonial yang menjadi jantung industri perkebunan saat itu. Kereta api menjadi urat nadi pengiriman tebu dari ladang menuju pabrik.

De Locomotief, surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Semarang, bahkan mencatat betapa besarnya pendapatan yang diperoleh Staatsspoorwegen dari pengangkutan tebu.

“De opbrengsten uit het maalrietvervoer, zijn voor de Staatsspoorwegen niet gering,” tulis koran itu pada 28 September 1929.

Pendapatan dari pengangkutan tebu tidaklah kecil. Sukorejo bagian dari denyut itu.

PINTU TERTUTUP: Area pintu masuk ruang tunggu penumpang Stasiun Sukorejo yang tampak lengang dan terkunci rapat. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

PINTU TERTUTUP: Area pintu masuk ruang tunggu penumpang Stasiun Sukorejo yang tampak lengang dan terkunci rapat. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

Stasiunnya memang tidak sebesar Bangil. Tidak seramai Lawang. Tapi dalam sistem jaringan yang menghubungkan puluhan titik sepanjang jalur, setiap simpul punya peran.

Di Sukorejo, stasiun itu bukan hanya tempat kereta berhenti. Tetapi menjadi ruang sosial.

Orang datang menunggu kereta yang belum datang. Pedagang bertemu calon pembeli di sekitar peron.

Barang keluar-masuk mengikuti jadwal keberangkatan. Dan kabar dari daerah lain tiba, bersama para penumpang yang turun membawa cerita.

Bagi masyarakat Sukorejo, keberadaan stasiun memberi sesuatu yang sebelumnya tidak ada: akses.

Akses menuju jaringan transportasi yang lebih luas. Akses untuk bepergian lebih jauh. Akses agar barang bisa dikirim dan diterima.

Di ketinggian 239 meter, di Desa Glagahsari, sebuah bangunan bergaya kolonial itu, menjadi titik di mana Sukorejo bertemu dunia luar, untuk pertama kalinya, lebih dari seabad yang lalu.

 

Dari Pemberhentian jadi Persilangan

Tiga belas tahun lalu, PT Kereta Api Indonesia mengeluarkan kebijakan baru. Stasiun Sukorejo tidak lagi melayani penumpang. Kereta masih melintas, tapi kini hanya butuh jalurnya, bukan stasiunnya.

Suatu waktu di sekitar 2012, seorang pengunjung masih bisa turun dari kereta di Stasiun Sukorejo.

BERSEJARAH: Bangunan menara air kuno (water toren) yang masih tegap berdiri di area sekitar Stasiun Sukorejo (foto kiri). Dan fasilitas corong pengisian air lokomotif (water crane) setinggi dua kali orang dewasa yang berada di pinggir peron stasiun. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

BERSEJARAH: Bangunan menara air kuno (water toren) yang masih tegap berdiri di area sekitar Stasiun Sukorejo (foto kiri). Dan fasilitas corong pengisian air lokomotif (water crane) setinggi dua kali orang dewasa yang berada di pinggir peron stasiun. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

Setahun kemudian, itu tidak lagi bisa dilakukan. Januari 2013, PT KAI menyesuaikan Grafik Perjalanan Kereta Api.

Sejumlah stasiun kecil di lintas Surabaya–Malang ditetapkan offline. Dengan kata lain, tidak lagi melayani naik-turunnya penumpang reguler.

Stasiun Sukorejo, Stasiun Wonokerto, dan Stasiun Sengon masuk dalam daftar itu.

Alasannya efisiensi dan ketepatan waktu. Dengan berhenti di lebih sedikit titik, jadwal kereta bisa lebih terjaga.

Tapi di balik keputusan operasional itu, ada perubahan yang lebih dalam bagi masyarakat sekitar.

Sesungguhnya, Stasiun Sukorejo bukan satu-satunya yang berubah nasib. Jalan raya berkembang.

Kendaraan pribadi semakin mudah dimiliki. Mobilitas masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada rel.

Sebelum kebijakan 2013 pun, stasiun-stasiun kecil sudah mulai kehilangan relevansinya satu per satu.

Sukorejo mengalami hal serupa dengan banyak stasiun kecil lain di Jawa. Bangunannya tetap ada, relnya masih terbentang, kereta masih melintas, tapi penumpang sudah lama berpaling ke jalan raya.

Yang tersisa adalah fungsi operasional. Stasiun digunakan sebagai titik persilangan dan penyusulan antarkereta api.

Bagian dari sistem pengaturan perjalanan, bukan lagi tempat manusia datang dan pergi.

Hubungan antara stasiun dan masyarakat pun ikut bergeser. Dulu manusia datang karena membutuhkan kereta.

Sekarang kereta tetap datang karena membutuhkan jalur. Tapi jejak masa lalu belum hilang seluruhnya.

Di antara bangunan stasiun yang masih berdiri, ada satu benda yang menarik perhatian siapa pun yang peduli pada sejarah perkeretaapian: water crane.

Corong air bekas pengisian ulang lokomotif uap. Tingginya sekitar dua kali orang dewasa.

Pada era kereta uap, fasilitas ini vital. Setiap lokomotif butuh air untuk menghasilkan uap penggerak.

Water crane menjadi tempat pengisian, bagian dari rutinitas operasional yang tidak bisa dilewatkan.

Kini fungsinya sudah lama berhenti. Tapi bentuknya masih berdiri, menjadi penanda penting bahwa di sini pernah ada denyut kehidupan yang besar.

Perhatian terhadap benda itu datang dari komunitas pemerhati sejarah kereta api.

Januari hingga Februari 2023, IRPS Wilayah Surabaya melakukan perbaikan tampilan water crane itu bersama BTP Surabaya dan KAI Daop 8 Surabaya.

Tidak jauh dari stasiun, berdiri water toren, menara air yang dulu mengalirkan air ke corong pengisian melalui pipa besi.

Pipanya kini sudah uzur. Menara itu sekarang dikelilingi rumah-rumah warga yang tumbuh di sekitarnya.

Stasiun Sukorejo masih tercatat dalam data jaringan perkeretaapian. Secara administratif, ia masih ada.

Tapi ada yang berbeda dari lebih dari seabad lalu, ketika suara lokomotif pertama kali membelah kawasan ini dan sebuah stasiun kecil berdiri membuka Sukorejo ke dunia luar.

Dulu orang menunggu di peron karena kereta adalah satu-satunya cara pergi lebih jauh. Sekarang peron itu sepi. Kereta lewat. Tidak berhenti.

 

Petisi Agar Stasiun Dihidupkan Lagi

Sudah lebih dari satu dekade, Stasiun Sukorejo tidak lagi melayani penumpang. Kereta tetap melintas, tapi tidak berhenti. Peron sepi.

Dan warga yang tinggal di sekitarnya pun, lama-lama menyesuaikan diri dengan kenyataan itu.

Nirma Anggraini tidak tinggal diam melihat Stasiun Sukorejo dibiarkan senyap. Ia memulai petisi online.

Targetnya seribu tanda tangan. Sejauh ini sudah 779 orang menyatakan setuju.

Tapi bagi Nirma Anggraini, menyesuaikan diri bukan berarti menerima. Ia memulai kampanye petisi untuk mengembalikan fungsi Stasiun Sukorejo, sebagai titik naik-turun penumpang.

Target awalnya seribu tanda tangan. Sampai sekarang, 779 orang sudah membubuhkan nama mereka.

Alasannya sederhana. Minat masyarakat naik kereta, terutama kalangan pelajar yang sering mengikuti program wisata kereta api, terus meningkat.

Kalau Stasiun Sukorejo kembali aktif, warga tidak perlu jauh-jauh ke stasiun lain untuk naik kereta.

Jarak yang terpangkas. Waktu yang dihemat. Dari hal sesederhana itu, petisi itu lahir.

Sofyan, warga yang tinggal tidak jauh dari stasiun, mendukung penuh kalau stasiun itu kembali dibuka.

Baginya, aktifnya kembali stasiun bukan hanya soal transportasi. Ada dampak ekonomi yang ia bayangkan. Kampung yang bisa ramai lagi, ada aktivitas, ada orang datang dan pergi.

“Sekarang sepi. Mungkin hanya dipakai momong anak kecil untuk melihat kereta lewat,” katanya.

Kalimat itu mungkin terdengar lucu. Tapi di baliknya, ada gambaran nyata tentang bagaimana sebuah infrastruktur yang dulu jadi pusat kehidupan, perlahan kehilangan perannya.

Dan apa yang tersisa hanyalah kereta yang lewat tanpa berhenti, ditonton anak kecil dari pinggir rel.

Aspirasi warga itu rupanya sudah sampai ke telinga pemerintah. Humas BTP Wilayah Jawa Timur Alfaviega Septian Pravangasta mengakui, pihaknya banyak mendengar suara serupa dari masyarakat. Dan ia tidak menutup kemungkinan usulan itu bisa ditindaklanjuti.

“Usulan dan aspirasi dari warga ini, bisa menjadi bahan kajian yang sangat kuat bagi pihak PT Kereta Commuter Indonesia,” ujar Alfaviega.

Tapi keputusan akhir bukan di tangan BTP. Kewenangan teknis operasional kereta lokal ada di KCI.

Anak perusahaan PT KAI yang mengurus manajemen perjalanan, penjadwalan, dan kesiapan armada.

“Urusan kesiapan SDM, pengaturan penjadwalan kereta api, dan aspek operasional lainnya kan semuanya nanti dari mereka. Makanya kajian ini harus matang di tingkat operator," urainya.

Soal kondisi fisik stasiun yang sudah lama tidak melayani penumpang, Viega meminta warga tidak terlalu khawatir.

Standar pelayanan minimal bisa dikejar sambil proses berjalan. Yang lebih mendesak adalah memastikan jadwal dan armada siap terlebih dulu.

“Kalau untuk standar pelayanan minimal di stasiun, itu bisa digarap dan diselesaikan sambil berjalan. Yang paling utama sekarang, adalah mengunci kepastian jadwal dan kesiapan armada keretanya dulu,” sampainya.

Sementara di sekitar stasiun, Sofyan dan warga lainnya masih menunggu. Kereta lewat seperti biasa.

Anak-anak kecil masih diajak ke tepi rel untuk melihat rangkaian itu berlalu. Mungkin suatu hari nanti, kereta itu berhenti. (tom/one)

 

KILAS BALIK DAN ASA STASIUN SUKOREJO

PROFIL STASIUN

·        Lokasi: Desa Glagahsari, Kec. Sukorejo (+239 Mdpl)

·        Arsitektur: Gaya Indische Empire (Kolonial Belanda)

·        Fungsi Kini: Titik persilangan kereta (tidak melayani penumpang)

LINIMASA PERJALANAN

·        1878: Resmi beroperasi jalur Bangil–Sengon (Urat nadi angkutan tebu)

·        2013: PT KAI menetapkan status Offline (Efisiensi lintas Surabaya–Malang)

·        2023: Revitalisasi cagar budaya Water Crane oleh IRPS & KAI Daop 8

·        2026: Warga bergerak menggalang petisi reaktivasi stasiun

REKAM JEJAK SEJARAH

·        Water Crane: Corong pengisian air lokomotif uap kuno yang masih tegak berdiri.

·        Water Toren: Menara air tua penyokong kereta uap yang kini dikelilingi perumahan warga.

SUARA WARGA

·        Inisiator: Nirma Anggraini

·        Target Usulan: Mengembalikan fungsi naik-turun penumpang reguler dan wisata sekolah.

·        Dukungan: 779 Tanda Tangan Terkumpul (Target: 1.000)

·        Sikap BTP Jatim: Menampung aspirasi dan membuka kemungkinan usulan dikaji.

Editor : Jawanto Arifin
gula stasiun kereta api lokomotif Sukorejo