Sistem manajemen penyaluran irigasi perkebunan tebu era kolonial Belanda di wilayah Kabupaten Probolinggo, terbukti telah dirancang dengan sangat matang.
Bukti otentik sejarah keberhasilan tata kelola air tersebut, hingga kini masih berdiri kokoh berupa gedung Kantor Pengamat Air di Dusun Pekalen, Desa Maron Kidul, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo.
Bangunan kuno ini, menjadi saksi bisu kejayaan administrasi pengairan masa lalu, yang terintegrasi demi menyokong industri gula skala besar.
------------------------
Berdasarkan data teknis, gedung pengawas ini resmi didirikan pada tahun 1880.
Angka tahun peresmian tersebut, terpahat jelas pada sebuah prasasti yang melekat di Tembok Penahan Tanah (TPT) gedung sisi timur bertuliskan “Anno 1880”.
Pembangunan kantor administrasi ini, dilakukan pasca rampungnya proyek raksasa Dam Delapan atau Dam Pekalen, yang dibangun lebih awal sekitar tahun 1825.
Korwil Jalan dan SDA Pekalen pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Probolinggo, Agus Budiyono, menjelaskan Dam Pekalen mengandalkan satu pintu utama, untuk membendung hulu Sungai Pekalen.
Air tersebut kemudian dialirkan ke sisi kiri, melalui delapan pintu air pembagi debit menuju lahan tebu.
Pada awal operasionalnya, Dam Pekalen memegang peran vital dengan luas baku sawah mencapai 6.696 hektare.
Aliran air dari hulu ini, menyasar sektor perkebunan tebu yang tersebar luas di lima wilayah kecamatan.
Meliputi Kecamatan Maron, Pajarakan, Banyuanyar, Gending, dan Tegalsiwalan.
“Jangkauan aliran Dam Pekalen ini begitu luas. Sehingga pada zaman itu, dibutuhkan petugas khusus yang mengatur dan mengawasi jalannya irigasi secara ketat. Nah, tempat berkumpulnya para petugas untuk memberikan laporan berkala, ya di kantor pengamat ini,” ujarnya.
Agus menambahkan, pasokan air yang teratur dan terukur dari Dam Pekalen, berhasil mendongkrak kualitas tanaman tebu di wilayah tersebut.
Hasil panen yang melimpah, kemudian dikirim menjadi bahan baku utama, bagi dua raksasa industri gula saat itu.
Yakni Pabrik Gula (PG) Gending dan PG Pajarakan yang dikelola oleh pemerintah kolonial.
Secara fisik, gedung dengan arsitektur khas Belanda ini, memiliki dimensi luas lebar 20 meter dan panjang 10 meter.
Struktur bangunan terdiri dari empat ruangan strategis. Yakni, tiga ruangan untuk urusan administrasi pengairan dan satu aula luas di ujung timur.
Aula tersebut berfungsi sebagai ruang rapat koordinasi rutin. Gedung ini memegang peranan krusial, karena letaknya yang dekat dengan bendungan.
Sehingga, pemantauan debit air bisa dilakukan secara real time dan maksimal.
Di kantor inilah, para petugas lapangan berkumpul dan melaporkan perkembangan debit air sungai, jumlah tanaman, hingga jangkauan distribusi air ke lahan-lahan tebu.
Menariknya, para petugas juru air kala itu, lebih akrab disapa oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Mantri Air.
“Karena tingginya aktivitas para mantri air yang kerap berlalu-lalang dan melakukan pembagian air di kantor pengamat tersebut, warga setempat akhirnya menjuluki kawasan pemukiman di sekitar lokasi dengan nama Dusun Mantrean,” kata Agus.
Memasuki era setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya sekitar tahun 1970, kompleks bersejarah ini, mulai dilengkapi dengan fasilitas pendukung baru.
Pemerintah membangun sebuah rumah dinas operasional, tepat di sisi selatan bangunan kantor utama.
Rumah dinas ini disediakan bagi petugas pengawas, yang memikul tanggung jawab penuh.
Mereka bertugas selama 24 jam untuk memastikan kelancaran suplai irigasi, sekaligus menyelesaikan potensi konflik pembagian air di lapangan.
“Rumah dinas tersebut, berdiri beberapa tahun setelah Indonesia merdeka. Ada petugas khusus yang ditunjuk untuk mengawasi irigasi secara menetap. Sehingga, bangunan itu digunakan sebagai hunian resmi hingga sekarang,” bebernya. (ar/one)
Ubah Fungsi Rumah Dinas Menjadi Kantor
Kondisi infrastruktur bersejarah Kantor Pengamat Air Daerah Irigasi (DI) Pekalen di Dusun Pekalen, Desa Maron Kidul, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggi, kini memprihatinkan.
Akibat kerusakan parah pada bagian atap, seluruh aktivitas administrasi dan pelayanan pengairan, terpaksa diungsikan ke bangunan rumah dinas sejak tahun 2019 lalu.
Langkah evakuasi operasional ini diambil, demi menjamin keselamatan para petugas juru air, dari risiko ambruknya struktur atap bangunan peninggalan kolonial Belanda tersebut.
Korwil Jalan dan SDA Pekalen pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Probolinggo, Agus Budiyono, membenarkan gedung utama peninggalan tahun 1880 itu, sudah tidak lagi digunakan untuk aktivitas perkantoran harian.
Meskipun dinding utama bangunan kuno tersebut masih berdiri sangat kokoh, bagian penutup atapnya tidak lagi aman.
“Bangunan utama kantor, sejatinya masih cukup kuat. Hanya saja, bagian atap kantor lama yang terbuat dari kayu, sudah lapuk dimakan usia. Demi keselamatan petugas, akhirnya aktivitas kantor dialihkan ke rumah dinas yang berada di sisi selatan,” terang Agus.
Menurut pria yang telah mengabdi di DI Pekalen sejak tahun 2004 ini, pemeliharaan bangunan bersejarah tersebut, sebenarnya terus berjalan. Gedung itu bahkan sempat mendapatkan program rehabilitasi total, pada tahun 2012 silam.
Namun, faktor usia material kayu membuat kerusakan kembali terjadi di bagian atap.
Hingga saat ini, keaslian arsitektur kolonial gedung tersebut, masih dijaga ketat. Tanpa adanya pembongkaran maupun modifikasi bentuk.
Sementara, untuk mendukung fungsi baru rumah dinas yang kini merangkap sebagai kantor, pihak dinas telah menambahkan sebuah fasilitas pendopo, di sisi selatan bangunan hunian tersebut.
Agus tidak menampik, ruang kerja darurat yang memanfaatkan rumah dinas ini, sebenarnya jauh dari kata ideal.
Secara tata ruang, bangunan lama peninggalan Belanda, memang dirancang khusus sejak awal, sebagai pusat pengawasan tata air.
Lengkap dengan aula rapat yang representatif untuk koordinasi berkala para mantri air.
“Sementara pada bangunan rumah dinas ini, belum tepat untuk fungsi kantor. Sebab, arsitektur awalnya adalah sebuah hunian keluarga yang mengutamakan kenyamanan domestik, bukan untuk administrasi publik,” kata Agus.
Kendati harus bekerja di tengah keterbatasan fasilitas ruang kantor, Agus menegaskan pelayanan distribusi air ke sektor pertanian dan perkebunan masyarakat, sama sekali tidak terganggu.
Komitmen para petugas pengairan dalam mengawal debit air dari Dam Pekalen, tetap berjalan penuh waktu.
“Bagi kami, tanggung jawab yang paling besar, adalah kepada masyarakat petani. Jika irigasi terganggu, maka lahan pertanian dan perkebunan lintas lima kecamatan, akan langsung terdampak luas. Untuk menjamin irigasi tetap lancar, aktivitas kami memang lebih banyak di lapangan daripada di dalam kantor,” paparnya. (ar/one)
SEKILAS DI PEKALEN
Profil Bangunan
- Nama Gedung: Kantor Pengamat Air Daerah Irigasi (DI) Pekalen
- Lokasi: Desa Maron Kidul, Kecamatan Maron, Probolinggo
- Tahun Berdiri: 1880 (Prasasti Anno 1880)
- Ukuran Fisik: Luas 20 x 10 Meter (4 Ruangan)
Dampak dan Jangkauan Irigasi
- Luas Baku Sawah: 6.696 Hektar
- Cakupan: 5 Kecamatan (Maron, Pajarakan, Banyuanyar, Gending, Tegalsiwalan)
- Penyokong Utama: PG Gending dan PG Pajarakan (Pabrik Gula Era Kolonial)
Garis Waktu
- 1825: Dam Pekalen (Dam Delapan) rampung dibangun.
- 1880: Kantor Pengamat Air didirikan sebagai markas "Mantri Air".
- 1970: Pembangunan Rumah Dinas di sisi selatan kantor.
- 2019: Atap kayu lapuk, seluruh operasional pindah ke Rumah Dinas.