BERADA di kaki Gunung Arjuno-Welirang, kawasan Tretes sejak lama mengukuhkan diri sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di Jawa Timur.
Namun, Tretes di wilayah Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan ini, bukan sekadar tentang lanskap hijau dan panorama alam.
Di balik rimbunnya pepohonan, kawasan ini menyimpan narasi sejarah panjang, mengenai gaya hidup mewah para elite kolonial Hindia Belanda pada masa lampau.
Popularitas Tretes sebagai lokus pelesiran, ternyata sudah moncer sejak awal abad ke-20.
Pada era penjajahan Belanda, wilayah dataran tinggi ini, sengaja diincar sebagai sanatorium atau tempat peristirahatan untuk melepas penat.



Salah satu bukti autentik yang masih berdiri kokoh dan terawat dengan sangat baik hingga hari ini, adalah keberadaan puluhan bangunan bergaya arsitektur Eropa klasik yang dikenal dengan nama Villa Park Tretes.
Jejak-jejak arsitektur kolonial ini, tersebar rapi di Lingkungan Taman Wisata, Kelurahan Pecalukan, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Saat menyusuri Jalan Raung, Jalan Baung, hingga Jalan Semeru, pemandangan fasad bangunan kuno berukuran megah akan langsung menyambut mata.
Masyarakat setempat secara turun-temurun, lebih akrab menyebut kompleks ini dengan sebutan "Taman Wisata".
Sebuah nama lingkungan, yang akhirnya dikenal hingga sekarang karena saking ikoniknya kawasan tersebut.
Hadi Sucipto, 48, warga asli Kelurahan Pecalukan yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gendewa Tretes, menceritakan kompleks hunian terpadu ini, dibangun secara bertahap pada awal tahun 1900-an.
Oleh warga lokal, bangunan-bangunan megah berpilar tinggi tersebut, kerap dijuluki sebagai lodji.
"Karakteristik bangunannya sangat khas dan tidak bisa disamakan dengan bangunan modern. Mulai dari kemiringan atap yang curam, ketebalan dinding, warna cat yang cenderung monoton namun elegan, hingga tata ruang interiornya," jelas Hadi.
Salah satu keunikan yang paling mencuri perhatian, adalah keberadaan cerobong asap (fireplace) vertikal, yang terletak persis di tengah-tengah ruang tamu pada beberapa bangunan villa.
Keberadaan cerobong asap ini, menjadi bukti kuat bahwa arsitektur bangunan, diadopsi langsung dari cetak biru rumah-rumah di belahan bumi utara Eropa yang memiliki empat musim.
"Struktur utama bangunan didominasi oleh kombinasi kayu jati berkualitas tinggi dan batuan alam lokal, pada bagian fondasi bawah. Desain material ini sengaja dipadukan secara fungsional. Batu alam bertugas menyerap hawa panas matahari pada siang hari, kemudian melepaskannya perlahan untuk menjaga kehangatan interior rumah, ketika suhu udara Tretes mulai drop di malam hari," beber Hadi.
Magnet Wisata Keluarga Lintas Provinsi
Kompleks Villa Park ini, dahulu bukanlah properti milik pemerintah kolonial. Melainkan aset investasi, dari sebuah korporasi keluarga kaya raya asal Belanda, yang berbasis di Kota Surabaya. Dinasti bisnis tersebut, dipimpin oleh keluarga bernama Van Vloten.
"Keluarga Van Vloten menetap di Surabaya dan menjalankan gurita bisnis perdagangannya di sana. Karena Surabaya berhawa sangat panas, mereka mendirikan kompleks Villa Park di Tretes ini, sebagai tempat pelarian akhir pekan," kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gendewa Tretes, Hadi Sucipto.
Menariknya, keluarga Van Vloten sejak awal, tidak memonopoli kawasan ini untuk pribadi.
Mereka sudah menerapkan konsep bisnis akomodasi modern, dengan menyewakan villa-villa tersebut kepada publik.
Khususnya bagi kalangan elite atau ekspatriat Eropa yang tinggal di Surabaya.
Hebatnya lagi, pemasaran villa ini pada zaman dulu, sudah sangat professional. Melalui pasang iklan secara berkala di berbagai surat kabar berbahasa Belanda.
Roda sejarah terus berputar, hingga Indonesia merebut kemerdekaannya. Pasca nasionalisasi aset-aset kolonial, kepemilikan puluhan villa eks Villa Park ini mulai terbagi menjadi dua skema pengelolaan.
Sebagian bangunan, diambil alih dan dikelola resmi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai mess karyawan atau hotel.
Sementara sebagian lainnya, jatuh ke tangan perorangan atau swasta dan dirawat secara mandiri hingga saat ini.
Meskipun usia bangunan-bangunan ini rata-rata sudah melampaui satu abad, magnet magis dari Villa Park Tretes tidak pernah pudar.
Fungsi awalnya, sebagai tempat peristirahatan komersial tetap dipertahankan, oleh para pemilik dan pengelolanya saat ini.
Hal ini, menjadikannya pilar utama yang mendukung Tretes sebagai destinasi wisata keluarga yang mandiri.
Purdianto, 53, salah seorang penjaga villa di Kelurahan Pecalukan, Kecamatan Prigen, menuturkan bahwa tingkat hunian (okupansi) villa kuno ini, selalu melonjak tajam saat akhir pekan (weekend) atau musim libur panjang sekolah.
"Kalau hari kerja biasa memang cenderung sepi. Tapi kalau sudah masuk hari Sabtu-Minggu atau libur nasional, hampir semua villa di sini terisi penuh. Penyewanya mayoritas adalah rombongan keluarga besar," kata Purdianto.
Menariknya, pangsa pasar villa bersejarah ini, tidak hanya terbatas pada wisatawan lokal Jawa Timur saja.
Daya tarik arsitektur Eropa klasik ini, sukses memikat pelancong dari berbagai kota besar di Indonesia.
"Paling banyak yang datang menginap, memang rombongan dari Surabaya. Tapi tidak jarang juga, kami menerima tamu keluarga dari Jakarta, Bandung, hingga Semarang yang sengaja memesan jauh-jauh hari. Rata-rata mereka menginap sekitar satu sampai dua malam, untuk merasakan sensasi hidup di rumah zaman dulu," imbuhnya.
Dari segi fungsionalitas, villa-villa era kolonial ini memang memiliki kapasitas yang sangat lapang.
Di dalam satu unit bangunan, terdapat teras depan yang luas untuk bersantai, ruang tamu utama yang megah, dua hingga empat kamar tidur berukuran besar, kamar mandi, serta area dapur.
Keunggulan utama lainnya, terletak pada kepemilikan lahan atau halaman terbuka hijau yang sangat luas di sekeliling bangunan.
Tempat tersebut, kerap dimanfaatkan para tamu untuk area parkir kendaraan roda empat, sekaligus tempat bermain anak-anak yang aman.
Komitmen Merawat Keaslian Lodji Tretes
Merawat bangunan cagar budaya yang sudah berusia ratusan tahun, tentu bukan perkara mudah dan murah.
Perubahan zaman, memaksa beberapa bagian bangunan mengalami restorasi, demi kenyamanan para tamu modern. Namun para pengelola sepakat untuk tidak merusak struktur esensial aslinya.
Indra, 53, warga Pecalukan, Kecamatan Prigen, yang juga berkecimpung dalam pengelolaan villa, menegaskan bahwa pemeliharaan berkala, wajib dilakukan. Mengingat faktor usia material bangunan.
Bagian-bagian yang rentan seperti pelapis atap (genteng), plafon tripleks, atau lapisan cat dinding luar, kerap diganti secara berkala akibat pengaruh cuaca ekstrem pegunungan.
"Perawatan pasti ada, karena beberapa bagian kayu atau atap mulai lapuk dimakan usia. Namun, kami menjaga batasan yang ketat. Untuk struktur tembok utama ketebalannya tidak boleh diubah. Lantainya pun wajib mempertahankan ubin tegel semen kuno bermotif polos, kami tidak menggantinya dengan keramik modern agar ruh sejarahnya tetap hidup," tegas Indra.
Sentuhan originalitas tersebut, juga dapat dirasakan langsung begitu masuk ke area dalam rumah.
Desain pintu kayu jati setinggi tiga meter, jendela krepyak ganda khas arsitektur Indische Empire, hingga tata letak ruang makan dan dapur, masih dipertahankan persis seperti saat keluarga Van Vloten pertama kali membangunnya.
Melalui komitmen kuat dari warga setempat, pokdarwis, dan para pemilik properti, Villa Park Tretes tidak sekadar menjelma sebagai tumpukan batu bata tua yang usang.
Kawasan setempat, menjadi museum hidup yang terus bernapas. Menawarkan romansa petualangan melintasi lorong waktu, bagi siapa saja yang ingin mencicipi kemewahan berlibur gaya Eropa di tanah Pasuruan. (zal/one)
MERAWAT RUH SEJARAH VILLA PARK TRETES
PROFIL SINGKAT
· Lokasi: Lingkungan Taman Wisata, Kelurahan Pecalukan, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
· Sebaran: Jalan Raung, Jalan Baung, dan Jalan Semeru.
· Waktu Berdiri: Awal abad ke-20 (sekitar tahun 1900-an).
· Fungsi Awal: Sanatorium (tempat peristirahatan) elite kolonial.
· Fungsi Sekarang: Wisata heritage, penginapan keluarga, dan cagar budaya.
DATA HISTORIS
· Era Belanda: Didirikan dan dimiliki oleh korporasi keluarga kaya raya asal Surabaya, Keluarga Van Vloten.
· Strategi Pemasaran Kuno: Sudah dikomersialkan sejak zaman penjajahan melalui iklan di berbagai surat kabar berbahasa Belanda.
· Pasca-Kemerdekaan (Nasionalisasi): Kepemilikan terbagi menjadi dua skema pengelolaan:
· Dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai mess/hotel.
· Dimiliki dan dirawat secara mandiri oleh perorangan/swasta.
ANATOMI DAN CIRI KHAS BANGUNAN
· Sebutan Lokal: Dijuluki warga setempat sebagai bangunan Lodji.
· Atap: Memiliki sudut kemiringan yang sangat curam khas arsitektur Eropa.
· Cerobong Asap (Fireplace): Terletak vertikal di tengah ruang tamu (adopsi rumah 4 musim).
· Pintu dan Jendela: Desain pintu kayu jati setinggi 3 meter dengan jendela krepyak ganda (Indische Empire).
· Fondasi dan Tembok: Dinding tebal dengan kombinasi batuan alam lokal di bagian bawah untuk menyerap panas siang hari dan menjaga kehangatan malam hari.
· Lantai: Wajib mempertahankan ubin tegel semen kuno bermotif polos (anti-keramik modern).
DATA AMENITAS DAN PENGUNJUNG
· Fasilitas Vila: Teras luas, ruang tamu megah, 2–4 kamar tidur lapang, dapur original, dan halaman terbuka hijau luas (area bermain & parkir).
· Waktu Okupansi Tertinggi: Akhir pekan (weekend) dan musim libur panjang sekolah.
Asal Wisatawan:
· Mayoritas: Surabaya (Jawa Timur).
· Lintas Provinsi: Jakarta, Bandung, dan Semarang.
Editor : Jawanto Arifin