Jejak Clemens Tehui di Kota Probolinggo: Bukan Sekadar Panti, tapi Rumah Pendidikan dan Kebudayaan

Inneke Agustin • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:21 WIB

 

SEJARAH: R. K. Normaalschool di Jalan Bromo Malang yang pindah ke Clemens Tehuis di Probolinggo tahun 1931. Sumber foto: Majalah Carmelrozen, 1931. Inset, Mgr. Clemens van der Pas, Prefek Apostolik Malang pertama. (13 Juni 1885-16 Desember 1933). (Achmad Budiman for Radar Bromo)
SEJARAH: R. K. Normaalschool di Jalan Bromo Malang yang pindah ke Clemens Tehuis di Probolinggo tahun 1931. Sumber foto: Majalah Carmelrozen, 1931. Inset, Mgr. Clemens van der Pas, Prefek Apostolik Malang pertama. (13 Juni 1885-16 Desember 1933). (Achmad Budiman for Radar Bromo)

Setelah melewati perjuangan panjang untuk berdiri, Clemens Tehui (bangunan yang menyimpan kisah panjang tentang pendidikan dan kemanusiaan di Kota Probolinggo) tidak berhenti sebagai tempat berlindung bagi anak-anak terlantar.

Kompleks di Klentengstraat, Probolinggo, itu berkembang menjadi pusat pendidikan terpadu.

Di dalamnya, anak-anak asrama, calon guru, para frater, dan kegiatan pendidikan bertemu dalam satu lingkungan.

Pegiat sejarah, Achmad Budiman mengatakan bahwa Clemens Tehuis pada akhirnya, bukan sekadar rumah bagi mereka yang kehilangan tempat berpulang. Ia menjadi tempat menempa masa depan.

Kompleks tersebut memiliki beberapa fungsi utama. Pertama adalah Jongens-Tehuis, atau panti asuhan bagi anak laki-laki terlantar.

Lebih dari 60 anak asrama atau pupillen tinggal penuh waktu di sana. Mereka berasal dari keluarga yang benar-benar tidak mampu dan membutuhkan tempat tinggal sekaligus pendidikan.

Baca Juga: Kisah Clemens Tehuis, dari Rumah Hantu Jadi Pusat Pendidikan Kota Probolinggo di Era Kolonial

Kemudian terdapat sekitar 30 calon guru atau normalis. Mereka tinggal di kompleks yang sama, sambil menjalani pendidikan keguruan.

Sekolah Normal Katolik atau R.K. Normaalschool yang sebelumnya berada di Malang, juga dipindahkan ke Probolinggo.

Sekolah tersebut menjadi tempat menyiapkan guru-guru yang kelak mengajar di berbagai sekolah misi di Jawa Timur.

“Ada pula Fraterhuis, rumah para frater yang mengelola seluruh kompleks. Mereka tidak hanya menjadi pengasuh anak-anak, tetapi juga menjalankan kegiatan pendidikan dan kehidupan sehari-hari di Clemens Tehuis,” katanya.

Berbagai fasilitas disediakan untuk menunjang aktivitas tersebut. Kapel, ruang makan, kamar tidur, ruang rekreasi, kamar mandi, ruang kelas, hingga lapangan sepak bola menjadi bagian dari kompleks. Namun, ada satu hal yang menarik dari pendidikan di Clemens Tehuis.

Budiman mengatakan, para siswa tidak hanya dididik melalui buku dan ruang kelas.

Mereka juga tetap bersentuhan dengan kebudayaan Jawa. Pada September 1934, hanya beberapa minggu setelah peresmian Clemens Tehuis, para siswa R.K. Normaalschool mementaskan kisah “Daud dan Goliat”, dalam bentuk wayang wong.

Pementasan itu berlangsung di gedung Mons Carmeli, Jalan Bromo, Malang, dalam rangka perayaan misi ke-400.

Pertunjukan dipimpin R.M. Soerjo Bonoroesid, seorang guru pribumi di sekolah tersebut.

“Bagi Clemens Tehuis, kebudayaan bukan sesuatu yang harus dijauhkan dari pendidikan. Sebaliknya, budaya Jawa menjadi bagian dari proses pendidikan dan inkulturasi. Dengan cara itu, para siswa tetap belajar dalam lingkungan yang dekat dengan akar budayanya,” ujarnya.

Clemens Tehuis pun berkembang sebagai ruang yang mempertemukan tiga hal: pengasuhan, pendidikan, dan kebudayaan.

Namun, perkembangan lembaga tersebut akhirnya membutuhkan ruang yang lebih memadai.

Bangunan di Klentengstraat yang pada awalnya disulap dari “rumah hantu” menjadi kompleks pendidikan, ternyata bukan tempat terakhir Clemens Tehuis.

Pada 15 April 1936, surat kabar De Indische Courant memberitakan bahwa pemerintah menyetujui peminjaman bangunan bekas MOSVIA di Grote Postweg, kini Jalan Raya Pos, Probolinggo, kepada Clemens Tehuis.

Budiman menjelaskan, MOSVIA merupakan singkatan dari Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Bestuursambtenaren.

Sebelumnya, lembaga tersebut dikenal sebagai OSVIA, sekolah pendidikan menengah bagi calon pegawai pemerintahan bumiputra pada masa Hindia Belanda.

Bangunan tersebut sudah tidak digunakan pemerintah. Kemudian, bangunan itu dipinjamkan secara cuma-cuma kepada Clemens Tehuis.

“Setelah menjalani renovasi, Clemens Tehuis direncanakan menempati kompleks baru tersebut sekitar awal Juli 1936. Perpindahan itu menjadi babak baru perjalanan lembaga yang awalnya lahir dari krisis,” katanya.

Jika di Klentengstraat Clemens Tehuis dibangun dengan semangat bertahan hidup, di lokasi baru lembaga tersebut memperoleh ruang yang lebih layak untuk mengembangkan kegiatan pendidikan.

Perjalanannya menunjukkan bahwa Clemens Tehuis tidak lahir dari keadaan yang mudah.

Ia berawal dari cita-cita seorang tokoh, sempat dihentikan krisis ekonomi, kehilangan sang penggagas, lalu dibangun kembali dari sebuah rumah yang dianggap menyeramkan.

Tetapi setelah berdiri, fungsinya berkembang jauh lebih luas. Anak-anak terlantar memperoleh rumah.

Calon guru memperoleh pendidikan. Para frater memiliki tempat untuk mengabdi.

Kebudayaan Jawa mendapat ruang dalam proses pendidikan. Clemens Tehuis pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar bangunan.

Ia adalah jejak sebuah zaman ketika pendidikan dibangun dengan keterbatasan, tetapi juga dengan keyakinan bahwa masa depan tetap layak diperjuangkan.

Dan ketika bangunan itu akhirnya berpindah dari Klentengstraat ke Grote Postweg, yang ikut berpindah bukan hanya meja, bangku, dan perlengkapan sekolah.

Yang ikut dibawa adalah cita-cita yang sejak awal menjadi alasan Clemens Tehuis didirikan: menyediakan rumah, pendidikan, dan harapan bagi mereka yang membutuhkannya. (gus/one)

Editor : Muhammad Fahmi
clemens tehuis klentengstraat Kota Probolinggo pendidikan