Kisah Clemens Tehuis, dari Rumah Hantu Jadi Pusat Pendidikan Kota Probolinggo di Era Kolonial

Inneke Agustin • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:49 WIB
DULU: Foto yang diambil saat peresmian “Clemens Tehuis” di Klentengstraat Probolinggo tahun 1934. (Achmad Budiman for Radar Bromo)
DULU: Foto yang diambil saat peresmian “Clemens Tehuis” di Klentengstraat Probolinggo tahun 1934. (Achmad Budiman for Radar Bromo)

DI sudut pertemuan Klentengstraat (kini Jalan W.R. Supratman) dan Schoolstraat (kini Jalan Imam Bonjol) Kota Probolinggo, pernah berdiri sebuah bangunan yang menyimpan kisah panjang tentang pendidikan dan kemanusiaan. Namanya Clemens Tehuis, atau Rumah Clemens.

Lembaga itu lahir bukan dari masa kemakmuran. Melainkan dari sebuah krisis ekonomi yang mengguncang dunia.

Di tengah Depresi Besar atau Malaise, ketika pabrik gula tutup dan ribuan buruh kehilangan pekerjaan, sejumlah pastor dan frater, justru berusaha membuka jalan bagi anak-anak yang kehilangan masa depan.

Pegiat sejarah, Achmad Budiman menuturkan gagasan tersebut bermula, dari Mgr. Clemens van der Pas, Prefek Apostolik Malang pertama sejak 1927. Ia memiliki impian mendirikan panti asuhan bagi anak-anak terlantar.

Rencana itu sempat berjalan mulus. Pemerintah Hindia Belanda bahkan menyetujui subsidi sebesar f 200.000, untuk pembangunan panti asuhan bagi 250 anak laki-laki. Kongregasi juga telah membeli lahan sekitar 10 hektare di Probolinggo.

Baca Juga: Sosok Tan Kong Sing di Balik Sejarah Rumah Singa Pasuruan: dari Rumah Elite hingga Villa Kebon Agung

Namun, keadaan berubah drastis, setelah keruntuhan Wall Street pada 1929. Krisis ekonomi menjalar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Hindia Belanda.

SEJARAH: R. K. Normaalschool di Jalan Bromo Malang yang pindah ke Clemens Tehuis di Probolinggo tahun 1931. Sumber foto: Majalah Carmelrozen, 1931. Inset, Mgr. Clemens van der Pas, Prefek Apostolik Malang pertama. (13 Juni 1885-16 Desember 1933). (Achmad Budiman for Radar Bromo)

SEJARAH: R. K. Normaalschool di Jalan Bromo Malang yang pindah ke Clemens Tehuis di Probolinggo tahun 1931. Sumber foto: Majalah Carmelrozen, 1931. Inset, Mgr. Clemens van der Pas, Prefek Apostolik Malang pertama. (13 Juni 1885-16 Desember 1933). (Achmad Budiman for Radar Bromo)

SEKARANG: Lokasi yang dulunya ditempati oleh Clemens Tehuis di Probolinggo. (Inneke Agustin/Radar Bromo)
SEKARANG: Lokasi yang dulunya ditempati oleh Clemens Tehuis di Probolinggo. (Inneke Agustin/Radar Bromo)

Probolinggo yang ketika itu berkembang sebagai kota pelabuhan dan pusat industri gula, ikut terpukul.

Sejumlah pabrik gula ditutup. Buruh kehilangan pekerjaan. Kehidupan masyarakat semakin berat.

Di tengah situasi tersebut, subsidi yang sebelumnya dijanjikan pemerintah dicabut.

“Rencana megah untuk membangun panti besar bagi 250 anak seolah sirna. Namun, para frater dan pastor tidak menyerah. Mereka mencoba mencari jalan lain,” ujar Budiman.

Harapan kemudian dialihkan ke sebuah rumah milik kongregasi di Oro-Oro Dowo, Malang.

Bangunan dengan lahan hampir setengah hektare itu, sebelumnya dibeli sebagai cadangan untuk rencana pengembangan. Rumah tersebut kemudian dibuka bagi anak-anak terlantar.

Awalnya 20 anak ditampung. Jumlah itu perlahan bertambah menjadi 36 anak, batas maksimal yang mampu ditampung rumah sederhana tersebut. Namun, perjuangan belum selesai.

Pada 16 Desember 1933, Mgr. Clemens van der Pas meninggal dunia secara mendadak.

Sosok yang menjadi penggagas utama rencana panti asuhan itu pergi, ketika cita-citanya belum terwujud.

Sebelum meninggal, ia berpesan agar rencana pendirian panti asuhan di Probolinggo tetap dilanjutkan.

Pesan tersebut kemudian diteruskan para frater dan pastor. Setelah melalui berbagai negosiasi, pemerintah Hindia Belanda kembali memberikan subsidi.

Namun, jumlahnya hanya sekitar 10 persen dari subsidi awal. Kecil, tetapi cukup untuk membuka kembali jalan yang hampir tertutup.

Tanggung jawab itu kemudian diberikan kepada Frater Emmanuel, direktur kongregasi frater di Malang. Masalah berikutnya adalah waktu.

Clemens Tehuis harus siap digunakan pada awal tahun ajaran, 1 Agustus 1934. Waktu yang tersedia hanya sekitar 17 hari.

Sebuah bangunan di Klentengstraat Probolinggo telah disewa oleh Pastoor Henckens.

Rumah besar bergaya Hindia itu, pernah dimiliki seorang Tionghoa kaya bernama Tan Liong Tjan dan sebelumnya dihuni keluarga Larsen.

Namun, bangunan tersebut telah kosong sekitar delapan hingga sepuluh tahun. Warga menyebutnya sebagai “rumah hantu”.

Selokan sedalam sekitar satu meter mengelilingi bangunan. Lumpur menumpuk. Tikus dan hama bersarang di berbagai sudut.

Halamannya telah berubah menjadi belantara, sehingga harus dibuka dengan parang.

Dinding berlubang. Pintu hilang. Jendela tanpa kaca, bahkan beberapa tidak lagi memiliki kusen.

Tidak ada kemewahan untuk memulai sebuah lembaga pendidikan. Yang ada, hanyalah bangunan tua dan waktu yang terus berjalan.

Bangunan lain di kompleks itu pun, masih ditempati penyewa. Ada pabrik kecap, toko roti milik Sien Brie, dan sekolah Tionghoa Kwa Kihauw Hok Lauw yang menampung sekitar 100 murid. Semuanya harus dikosongkan dalam waktu 14 hari.

“Pada 1 Agustus, gedung harus siap ditempati. Waktu sangat singkat, pekerjaannya luar biasa berat,” tutur Budiman.

Para frater dan pekerja pun bergerak. Frater Augustinus dan Laurentius bekerja dari pagi hingga malam.

Tukang kayu, tukang ledeng, tukang listrik, hingga para kuli dikerahkan dari berbagai kampung di Probolinggo.

Sekitar 80 orang bekerja setiap hari. Jumlahnya terkadang lebih dari 100 orang.

Di luar itu, masih ada pekerja di bengkel yang membuat komponen baru, karena sebagian perlengkapan lama tidak dapat diselamatkan.

Wali Kota Probolinggo Meijer turut membantu dengan menyediakan tenaga pekerja kota.

Ketika semangat para pekerja mulai mengendur, sang wali kota bahkan datang sendiri ke lokasi.

Kehadirannya disebut mampu membuat para pekerja kembali bersemangat. Dalam kesibukan itu, sebuah kisah kecil ikut tercatat. Topi dinas terbaik milik sang wali kota, akhirnya tercebur ke dalam sumur.

Kisah tersebut terdengar ringan, tetapi menggambarkan betapa kerasnya pekerjaan yang dilakukan untuk menghidupkan kembali bangunan tersebut.

Sementara itu, dari Malang, inventaris Sekolah Normal Katolik atau R.K. Normaalschool di Bromostraat turut dipindahkan ke Probolinggo.

Meja, bangku, lemari, tempat tidur, serta perlengkapan pendidikan diangkut menggunakan tiga truk besar, yang bolak-balik menempuh perjalanan sekitar 100 kilometer.

Sedikit demi sedikit, rumah yang sebelumnya disebut “rumah hantu” berubah menjadi tempat tinggal dan belajar. Pada 5 Agustus 1934, seluruh kompleks akhirnya siap.

Kapel telah tertata. Ruang makan, kamar tidur, ruang rekreasi, kamar mandi, dan kelas telah dapat digunakan.

Halaman yang luas bahkan cukup untuk bermain sepak bola. Upacara pemberkatan dan peresmian pun digelar.

Pastoor Henckens memimpin pemberkatan. Hadir Wali Kota Meijer, Kontrolir Kabupaten, Bupati, Patih, Wedana, Asisten Wedana, serta masyarakat dari Probolinggo, Malang, Pasuruan hingga Jember. Pada hari itu, kompleks tersebut diberi nama Clemens Tehuis.

Nama itu dipilih untuk mengenang Mgr. Clemens van der Pas, sosok yang memperjuangkan keberadaan panti asuhan tersebut hingga akhir hayatnya.

“Panti asuhan selalu menjadi salah satu keinginan terkuat Mgr. Clemens van der Pas. Ia telah berjuang untuk itu sampai akhir hayatnya,” kata Budiman. (gus/one)

 

 

Editor : Jawanto Arifin
clemens tehuis kolonial pendidikan panti asuhan hindia belanda