Kisah Rumah Singa, Jejak Dinasti Tan Kong Sing dari Pecinan Pasuruan

Fuad Alyzen • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 14:14 WIB
BERTAHAN: Bangunan Rumah Singa yang bertahan hingga sekarang. Bahkan, bangunan tersebut sudah menjadi cagar budaya. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
BERTAHAN: Bangunan Rumah Singa yang bertahan hingga sekarang. Bahkan, bangunan tersebut sudah menjadi cagar budaya. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

DI tengah padatnya kawasan Pecinan Kota Pasuruan, berdiri sebuah bangunan tua dengan dua patung singa yang menjadi penanda paling mudah dikenali.

Masyarakat mengenalnya sebagai Rumah Singa. Namun, di balik kemegahan bangunan cagar budaya itu, tersimpan kisah panjang keluarga Tan, salah satu dinasti Tionghoa Peranakan terkaya di Pasuruan pada akhir abad ke-19.

Pemerhati Sejarah Pasuruan Ahmad Budiman Suharjono menjelaskan, pemilik paling dikenal dari rumah tersebut, adalah Tan Kong Sing atau Tan Kong Seng.

Ia merupakan pejabat kolonial dengan jabatan Luitenant der Chinezen atau Letnan Tionghoa, sekaligus saudagar kaya yang memiliki sejumlah aset bergengsi di Pasuruan.

REKAM JEJAK: Foto dokumentasi lawas Letnan Tionghoa Tan Kong Sing (Tan Kong Shin) bersama sang istri, Tjoa Tjhiép Nio, dilengkapi foto kecil para keturunannya yang menjadi perawat estafet sejarah Rumah Singa Pasuruan. (Budiman for Radar Bromo)

REKAM JEJAK: Foto dokumentasi lawas Letnan Tionghoa Tan Kong Sing (Tan Kong Shin) bersama sang istri, Tjoa Tjhiép Nio, dilengkapi foto kecil para keturunannya yang menjadi perawat estafet sejarah Rumah Singa Pasuruan. (Budiman for Radar Bromo)

RAWAT MEMORI: Potret transformasi interior Rumah Singa. Gambar kiri menunjukkan kemegahan ruang dalam pada tahun 2014, sementara gambar kanan memperlihatkan sudut tampak samping bangunan pada era 1970-an. (Budiman for Radar Bromo)
RAWAT MEMORI: Potret transformasi interior Rumah Singa. Gambar kiri menunjukkan kemegahan ruang dalam pada tahun 2014, sementara gambar kanan memperlihatkan sudut tampak samping bangunan pada era 1970-an. (Budiman for Radar Bromo)

FASE AWAL: Potret dokumentasi autentik fasad atau tampak depan Rumah Singa di kawasan Pecinan Pasuruan yang diabadikan sekitar tahun 1860, sesaat setelah bangunan mengalami renovasi besar-besaran. (Budiman for Radar Bromo)
FASE AWAL: Potret dokumentasi autentik fasad atau tampak depan Rumah Singa di kawasan Pecinan Pasuruan yang diabadikan sekitar tahun 1860, sesaat setelah bangunan mengalami renovasi besar-besaran. (Budiman for Radar Bromo)

DINASTI ELITE: Foto bersama keluarga besar Letnan Tan Kong Sing berlatar halaman depan Rumah Singa Pasuruan pada medio 1860-an, merekam masa kejayaan salah satu keluarga konglomerat Tionghoa Peranakan. (Budiman for Radar Bromo)
DINASTI ELITE: Foto bersama keluarga besar Letnan Tan Kong Sing berlatar halaman depan Rumah Singa Pasuruan pada medio 1860-an, merekam masa kejayaan salah satu keluarga konglomerat Tionghoa Peranakan. (Budiman for Radar Bromo)

MITRA SEJAJAR: Potret utuh Letnan Tan Kong Sing bersama istrinya, Tjoa Tjhiép Nio. Semasa hidupnya, sang istri dikenal luas sebagai filantropis besar yang menyumbang dana operasional rumah sakit dan Pasar Terang. (Budiman for Radar Bromo)
MITRA SEJAJAR: Potret utuh Letnan Tan Kong Sing bersama istrinya, Tjoa Tjhiép Nio. Semasa hidupnya, sang istri dikenal luas sebagai filantropis besar yang menyumbang dana operasional rumah sakit dan Pasar Terang. (Budiman for Radar Bromo)

SAKSI BISU: Foto dokumentasi Tan Kong Sing semasa hidup yang hingga kini masih terbingkai rapi dan dipertahankan di dalam ruang utama Rumah Singa di Jalan Hasanuddin, Kota Pasuruan. (Budiman for Radar Bromo)
SAKSI BISU: Foto dokumentasi Tan Kong Sing semasa hidup yang hingga kini masih terbingkai rapi dan dipertahankan di dalam ruang utama Rumah Singa di Jalan Hasanuddin, Kota Pasuruan. (Budiman for Radar Bromo)

Meski demikian, Budiman menegaskan kepemilikan Rumah Singa sebenarnya telah dimulai jauh sebelum Tan Kong Sing.

"Bangunan itu merupakan warisan keluarga Tan. Berdasarkan dokumen keluarga, generasi pertama adalah Tan Ing Aan, yang diperkirakan membeli rumah sekitar tahun 1820-an. Kemudian diwariskan kepada Tan King Soen, baru selanjutnya kepada Tan Kong Sing," ujarnya.

Menurut Budiman, hingga kini belum ditemukan bukti bahwa Rumah Singa pernah dimiliki orang Belanda.

Justru lokasinya yang berada di kawasan Pecinan, menjadi petunjuk kuat bahwa rumah tersebut sejak awal dibangun atau dimiliki keluarga Tionghoa.

Tan King Soen sendiri merupakan putra Tan Ing Aan. Dalam koleksi keluarga, masih tersimpan lukisan dirinya mengenakan pakaian pejabat sipil Dinasti Qing lengkap dengan atribut kebesaran.

Lukisan itu memperlihatkan, bahwa leluhur keluarga Tan berasal dari kalangan pejabat atau bangsawan di Tiongkok sebelum menetap di Hindia Belanda.

Memasuki generasi berikutnya, Tan Kong Sing menikah dengan Tjoa Tjhiép Nio, putri Tjoa Sien Hie yang menjabat Luitenant titulair der Chinezen Pasuruan. Pernikahan tersebut mempertemukan dua keluarga elite Tionghoa.

Keluarga Tjoa sendiri dikenal sebagai pemilik Pabrik Gula Tjandi di Sidoarjo. Dari perkawinan itu lahir dua putri, yakni Tan Hing Nio dan Tan Kian Nio.

Tan Hing Nio kemudian menikah dengan Kwee Khoen Ling, putra Kapitein der Chinezen Pasuruan Kwee Sik Poo.

Sementara Tan Kian Nio menikah dengan Kwee Yan Khoo dan menetap di Gedung Wolu.

"Perkawinan itu membuat keluarga Tan berbesan dengan keluarga Kwee. Dua keluarga konglomerat besar di Pasuruan akhirnya terhubung," terang Budiman.

Tan Kong Sing sendiri diangkat sebagai Luitenant der Chinezen pada 6 Maret 1893.

Jabatan tersebut berada satu tingkat di bawah Kapitein der Chinezen yang saat itu dipegang Kwee Sik Poo.

Dalam arsip kolonial, Budiman menyebut tidak pernah ditemukan dokumen yang menyatakan Tan Kong Sing menjabat Kapitein.

"Selama ini banyak yang menyebut beliau Kapitein. Padahal dokumen resmi hanya mencatat beliau sebagai Luitenant.

Bahkan dalam obituarinya tahun 1903, disebut sebagai oud-luitenant atau mantan letnan, karena sudah mengundurkan diri beberapa bulan sebelum wafat," jelasnya.

Tan Kong Sing resmi mengundurkan diri pada 17 Maret 1903 atas permintaan sendiri dan meninggal dunia pada 26 November 1903.

Menolak Lenyap Tergerus Zaman

Rumah Singa masih berdiri megah, sebagai bangunan cagar budaya Kota Pasuruan.

Namun, nasib berbeda justru dialami villa dan kompleks makam keluarga Tan Kong Sing di Kebon Agung.

Pemerhati Sejarah Pasuruan Ahmad Budiman Suharjono mengatakan, setelah Tan Kong Sing meninggal pada 1903, seluruh harta keluarga diwariskan kepada putrinya, Tan Hing Nio.

Melalui pernikahannya dengan Kwee Khoen Ling, Rumah Singa akhirnya dikelola keluarga Kwee.

Pada 1937 keluarga Kwee resmi menempati Rumah Singa, setelah menjual rumah mereka di Jalan Soekarno-Hatta kepada Muhammad bin Thalib yang kemudian mengubahnya menjadi Hotel Daroessalam.

"Sejak saat itu masyarakat lebih mengenal Rumah Singa, sebagai milik keluarga Kwee. Padahal akar kepemilikannya tetap berasal dari keluarga Tan," katanya.

Kini bangunan tersebut dimiliki Alan Douglas Rudianto Wardana Zecha yang merupakan keturunan langsung keluarga Tan-Kwee.

Rumah Singa juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya Kota Pasuruan dan menjadi salah satu tujuan wisata sejarah.

Berbeda dengan Rumah Singa, kompleks Kebon Agung sudah berubah total.

Bekas villa diduga kini menjadi kawasan UPT Puskesmas Kebonagung, sementara lahan di sekitarnya telah berkembang menjadi kawasan perkantoran, pasar serta permukiman.

Kompleks pemakaman keluarga Tan yang dahulu berada di lokasi tersebut pun sudah tidak lagi terlihat.

Dalam dokumen keluarga, sebenarnya masih terdapat foto batu nisan Tan Kong Sing dan istrinya, Tjoa Tjhiép Nio, yang dipotret pada 2015 dalam kondisi utuh. Namun kini keberadaannya tidak lagi ditemukan.

"Tidak ada arsip yang secara eksplisit menyebut makam Tan Kong Sing dibongkar. Yang ada hanya dokumen penataan makam kawasan Sangar tahun 2008. Karena itu hilangnya makam Tan Kong Sing masih menjadi misteri," terang Budiman.

Sosok Tjoa Tjhiép Nio sendiri juga meninggalkan jejak penting dalam sejarah Pasuruan.

Setelah menjadi janda, ia dikenal sebagai filantropis dengan menyumbangkan 5.500 gulden untuk pembangunan ruang operasi rumah sakit pada 1921.

Ia juga mengelola Pasar Terang, memiliki sedikitnya 52 bidang tanah di Pasuruan, mewarisi banyak rumah di Surabaya, hingga beberapa kali bersengketa hukum dengan pemerintah kota terkait pengelolaan pasar. Pada 1938 Tjoa Tjhiép Nio meninggal dunia pada usia 74 tahun.

"Tan Kong Sing bukan hanya seorang saudagar kaya. Ia adalah representasi elite Tionghoa Peranakan di Pasuruan yang meninggalkan warisan sejarah, arsitektur dan budaya. Rumah Singa menjadi saksi bisu kejayaan itu, sementara keberadaan makamnya justru masih menyisakan tanda tanya hingga sekarang," bebernya. (zen/one)

 

RUMAH SINGA PASURUAN

·                    Lokasi: Jalan Hasanuddin, Kawasan Pecinan Kota Pasuruan.

·                    Status: Bangunan Cagar Budaya & Destinasi Wisata Heritage.

·                    Pemilik Saat Ini: Alan Douglas Rudianto Wardana Zecha (Cicit keturunan Tan-Kwee).

 

KRONOLOGI KEPEMILIKAN

·                    1820-an: Dibeli oleh Tan Ing Aan (Generasi I).

·                    Pertengahan Abad 19: Diwariskan ke Tan King Soen (Generasi II).

·                    1860: Direnovasi total oleh Letnan Tan Kong Sing (Generasi III) menggunakan material impor Italia.

·                    1937: Ditempati Tan Hing Nio dan Kwee Khoen Ling (Generasi IV). Dua patung singa ikonik mulai dipindahkan ke rumah ini.

 

AKULTURASI 3 BUDAYA

·                    Eropa: Kolom Ionik Yunani-Romawi, denah Indische Empire, kaca Venesia, lukisan Renaisans.

·                    Tionghoa: Atap ekor burung walet (Fujian), altar leluhur, ukiran naga, furnitur Dinasti Qing.

·                    Jawa: Koleksi seperangkat gamelan pusaka.

 

DATA ANGKA

·                    1860: Tahun renovasi besar Rumah Singa.

·                    1903: Tahun wafatnya Letnan Tan Kong Sing.

·                    5.500 Gulden: Sumbangan istri Letnan (Tjoa Tjhiép Nio) untuk ruang operasi RS pada 1921.

·                    52 Bidang: Jumlah aset tanah Tjoa Tjhiép Nio di Pasuruan.

Editor : Jawanto Arifin
rumah singa Letnan Tan Kong Sing sejarah tionghoa