Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Sejarah SDN Sapikerep 1, dari Gudang Kopi hingga Menjelma Sekolah Rakyat di Era Kolonial

Inneke Agustin • Minggu, 21 Juni 2026 | 09:39 WIB
PENINGGALAN KOLONIAL: Pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi, Edi Martono saat berada di SDN Sapikerep 1, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura. (Siswo Winard for Radar Bromo)
PENINGGALAN KOLONIAL: Pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi, Edi Martono saat berada di SDN Sapikerep 1, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura. (Siswo Winard for Radar Bromo)

DI lereng pegunungan Tengger yang sejuk, berdiri sebuah bangunan sekolah tua yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat belajar mengajar.

Bangunan itu adalah SD Negeri Sapikerep 1, yang berada di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Sekilas, bangunan tersebut tampak berbeda dibanding sekolah-sekolah modern pada umumnya.

Dindingnya masih mempertahankan bentuk asli, berupa anyaman bambu yang dilapisi tir.

Tiang-tiang dan rangka bangunan menggunakan kayu jati berukuran besar yang masih kokoh, menopang bangunan hingga kini.

Bahkan, sebagian sambungan konstruksi masih menggunakan pasak bambu, yang saling menyunduk tanpa bantuan paku besi.

SEJARAH: Ketua BPD Desa Sapikerep, Siswo Winardi yang juga dikenal sebagai sejarawan Tengger di lokasi situs kuno, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. (Siswo Winard for Radar Bromo)

SEJARAH: Ketua BPD Desa Sapikerep, Siswo Winardi yang juga dikenal sebagai sejarawan Tengger di lokasi situs kuno, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. (Siswo Winard for Radar Bromo)

Berdasarkan data Kemendikdasmen, sekolah ini berdiri di atas lahan seluas sekitar 1.196 meter persegi.

Keaslian bangunan menjadi daya tarik tersendiri, karena tidak banyak mengalami perubahan sejak pertama kali digunakan, pada masa kolonial Belanda.

Itulah mengapa, sekolah ini juga merupakan bagian dari cagar budaya di Sukapura.

Ketua BPD Desa Sapikerep, Siswo Winardi yang juga dikenal sebagai sejarawan Tengger mengungkapkan, dirinya pernah terlibat dalam renovasi bangunan sekolah sekitar tahun 2010.

Saat proses perbaikan atap berlangsung, ditemukan tulisan angka tahun 1819 pada genting tua sekolah.

Temuan tersebut memunculkan dugaan, bahwa bangunan itu telah berdiri jauh sebelum digunakan sebagai sekolah.

“Ketika renovasi, kami menemukan tulisan tahun 1819 pada genting bangunan. Kemungkinan bangunan ini memang sudah ada sejak masa itu,” ujarnya.

Menurut Siswo, bangunan tersebut pada awalnya, bukanlah sekolah. Pada masa kolonial, bangunan itu digunakan sebagai gudang penyimpanan kopi hasil perkebunan, yang berkembang di kawasan Sukapura.

Letak geografis Sukapura yang berada di dataran tinggi, menjadikannya wilayah ideal untuk budi daya kopi.

Sejak masa penjajahan hingga sekarang, kopi tetap menjadi salah satu komoditas yang tumbuh di kawasan Tengger, baik jenis Arabika maupun kopi lokal yang dikenal masyarakat sebagai kopi Nangka.

“Dulunya ini gudang kopi. Seiring waktu, kemudian dialihfungsikan menjadi sekolah rakyat,” katanya.

Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat SDN Sapikerep 1, mulai beroperasi sebagai sekolah pada tahun 1910.

Pada masa itu, sekolah rakyat bagi pribumi, dikenal dengan nama Volkschool atau Sekolah Desa yang mulai dikembangkan pemerintah Hindia Belanda, sejak 1907 sebagai bagian dari kebijakan Politik Etis.

Meski disebut sebagai upaya pemerataan pendidikan, akses pendidikan yang diberikan kepada masyarakat pribumi saat itu, masih sangat terbatas.

Materi yang diajarkan hanya mencakup membaca, menulis, dan berhitung dalam bahasa Melayu.

Serta sedikit pengetahuan geografi dan sejarah, yang disesuaikan dengan kepentingan pemerintah kolonial.

Namun demikian, keberadaan Volkschool menjadi tonggak awal lahirnya pendidikan formal bagi masyarakat pribumi di wilayah pedesaan.

“Dulu hanya ada kelas satu sampai kelas empat. Bahkan menurut cerita orang-orang tua, lulusan kelas empat sudah bisa menjadi guru di sekolah ini,” ujar Siswo.

Kini SDN Sapikerep 1 telah berkembang menjadi sekolah dasar, dengan enam tingkat kelas.

Ruang-ruang belajar yang digunakan saat ini, masih merupakan bangunan peninggalan era Belanda.

Pada tahun 2024, sekolah ini resmi digabung dengan SD Negeri Sapikerep 2, sebagai bagian dari kebijakan penataan sekolah.

Menariknya, bangunan tua tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan.

Saat masyarakat Tengger menggelar upacara adat Karo, ruang-ruang sekolah juga digunakan sebagai tempat berkumpul, berselamatan, hingga menjalankan ritual adat.

“Ada kegiatan pepujan dan tandak yang digelar di sini ketika Karo berlangsung,” jelasnya.

Keberadaan SDN Sapikerep 1, menjadikannya bukan sekadar sekolah tua, melainkan ruang hidup yang menyimpan jejak perjalanan pendidikan dan budaya masyarakat Tengger selama lebih dari satu abad.

 

Ada Peradaban Masa Kerajaan

Sejarah panjang Desa Sapikerep, ternyata tidak hanya tersimpan pada bangunan sekolah peninggalan Belanda.

Di balik hamparan ladang dan permukiman masyarakat Tengger, desa ini menyimpan jejak peradaban yang diduga telah ada sejak masa kerajaan kuno di Jawa Timur.

Salah satu penemuan penting, terjadi pada Februari 2021. Saat warga melakukan penggalian tanah untuk kebutuhan aset Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), mereka menemukan sebuah bongkahan batu andesit, yang tertanam di dalam tanah.

Batu tersebut berukuran sekitar setengah meter, dengan lebar sekitar 20 sentimeter.

Setelah dilakukan pengamatan awal, muncul dugaan bahwa benda tersebut merupakan bagian dari situs kuno, yang berkaitan dengan ritual kremasi atau pembakaran jenazah.

“Bentuknya menyerupai tempat kremasi atau pembakaran mayat pada masa lalu,” ujar Ketua BPD Desa Sapikerep, Siswo Winardi

Temuan tersebut kemudian menarik perhatian para arkeolog. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto, turut melakukan ekskavasi untuk meneliti lebih lanjut keberadaan situs tersebut.

Menurut Siswo, terdapat dugaan kuat, bahwa situs itu berasal dari masa Kerajaan Singasari yang berdiri pada abad ke-13.

Jika benar, maka peninggalan tersebut telah terpendam selama lebih dari 800 tahun.

Ia menduga, kawasan tersebut dahulu merupakan pusat pemerintahan Kadipaten Tengger pada masa Kerajaan Singasari.

Seiring berjalannya waktu, situs tersebut kemungkinan tertutup material vulkanik akibat erupsi Gunung Bromo, yang terjadi berulang kali selama ratusan tahun.

Penemuan situs tahun 2021 semakin memperkuat indikasi, bahwa kawasan Sapikerep memiliki nilai historis yang tinggi.

Sebab sebelumnya, pada tahun 2010, juga ditemukan delapan lempeng prasasti kuno di wilayah yang sama.

Prasasti tersebut memuat angka tahun 851 Saka, yang jika dikonversi ke kalender Masehi menunjukkan masa pemerintahan Mpu Sindok.

Isi prasasti berkaitan dengan pembangunan Sri Rameswarapura, sebuah bangunan yang didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Wisnuwardhana pada masa Kertanegara.

Tak hanya prasasti, sejumlah benda pusaka dan artefak lain juga ditemukan di sekitar lokasi.

Sebagian koleksi telah diamankan dan disimpan di Museum Mpu Tantular, untuk kepentingan pelestarian dan penelitian.

“Sedangkan lokasi situsnya, sekarang dirawat oleh pemerintah desa dan diberi cungkup pelindung,” jelas Siswo.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa Sapikerep, bukan sekadar desa di lereng Bromo.

Kawasan ini merupakan ruang sejarah yang menyimpan jejak panjang perjalanan peradaban, mulai dari era kerajaan kuno, masa kolonial Belanda hingga kehidupan masyarakat Tengger yang masih mempertahankan tradisi leluhur sampai sekarang. (gus/one)

 

Sejarah SDN Sapikerep 1 Probolinggo

Era Kolonial

·                    Arsitektur Kuno: Dinding anyaman bambu berlapis tir, tiang kayu jati raksasa, dan konstruksi tanpa paku (menggunakan pasak bambu).

·                    Genting 1819: Saat renovasi, ditemukan genting bertuliskan tahun 1819, diduga kuat bangunan asli merupakan bekas Gudang Kopi era Belanda.

·                    Sekolah Rakyat (1910): Dialihfungsikan menjadi Volkschool (Sekolah Desa) dampak Kebijakan Politik Etis Hindia Belanda.

·                    Fungsi Budaya: Selain tempat belajar, gedung sekolah aktif dipakai ritual adat Karo warga Tengger.

 

Situs Purba Sapikerep

·                    Situs Kremasi: Februari 2021, warga menemukan batu andesit kuno yang diduga kuat tempat pembakaran jenazah era Kerajaan Singasari (Abad ke-13).

·                    Sempat Terkubur: Situs sejarah ini sempat terpendam ratusan tahun akibat tertutup material vulkanik erupsi Gunung Bromo.

·                    Prasasti Mpu Sindok: Pada 2010, ditemukan 8 lempeng prasasti berangka tahun 851 Saka (Era Mataram Kuno) terkait penghormatan Raja Wisnuwardhana.

·                    Pelestarian: Artefak berharga kini diamankan di Museum Mpu Tantular, dan lokasi situs dirawat penuh oleh Pemdes Sapikerep.

Editor : Jawanto Arifin
#belanda #Sekolah Rakyat #sejarah #sekolah