Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menelusuri Sejarah Jalan Gunung Tunggangan, dari Jalur Kuda Zaman Belanda Kini Jadi Jalur Utama Pasuruan–Malang

Rizal Syatori • Minggu, 31 Mei 2026 | 08:58 WIB
SETAPAK: Jalan Gunung Tunggangan di era Kolonial Belanda. Jalan tersebut, dulunya merupakan jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan menaiki kuda. (Istimewa)
SETAPAK: Jalan Gunung Tunggangan di era Kolonial Belanda. Jalan tersebut, dulunya merupakan jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan menaiki kuda. (Istimewa)

BERADA di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Tunggangan di Desa Tlogosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menyimpan kisah sejarah yang unik.

Kawasan perbukitan asri yang dikelilingi hutan pinus milik Perhutani ini, menjadi saksi bisu transformasi jalur transportasi dari masa ke masa.

Di kawasan ini, terdapat sebuah jalur legendaris, yang dikenal masyarakat dengan nama Jalan Gunung Tunggangan.

Setiap harinya, jalan ini ramai dilalui berbagai kendaraan. Mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, pikap, hingga truk yang melintas dari arah Pasuruan menuju Kabupaten Malang (Kecamatan Jabung) maupun sebaliknya.

Kepala Desa Tlogosari, Prayitno, mengungkapkan, jalur ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Karena sudah eksis sejak era kolonial.

STRATEGIS: Jalan Gunung Tunggangan di Desa Tlogosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan ini, menjadi urat nadi penghubung strategis menuju Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. (Rizal Syatori/Radar Bromo)

STRATEGIS: Jalan Gunung Tunggangan di Desa Tlogosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan ini, menjadi urat nadi penghubung strategis menuju Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. (Rizal Syatori/Radar Bromo)

JALUR EKONOMI: Keberadaan Jalan Gunung Tunggangan menjadi jalur penting untuk penunjang wisata dan ekonomi masyarakat. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
JALUR EKONOMI: Keberadaan Jalan Gunung Tunggangan menjadi jalur penting untuk penunjang wisata dan ekonomi masyarakat. (Rizal Syatori/Radar Bromo)

"Jalan Gunung Tunggangan ini dari dulu, atau sejak zaman penjajahan Belanda, memang sudah ada. Ini adalah jalur vital, yang menghubungkan langsung dua wilayah. Yaitu Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang," ujar Prayitno.

Asal-usul nama Tunggangan sendiri, ternyata erat kaitannya dengan kondisi jalur tersebut di masa lampau.

Dahulu kala, medan di area ini, sangat ekstrem. Dan hanya berupa jalan setapak, yang membelah hutan.

Karena kontur tanah yang curam, jalur tersebut tidak bisa dilalui dengan berjalan kaki biasa. Melainkan harus menunggangi kuda.

"Disebut gunung dan jalan Tunggangan, karena dulunya berupa jalan setapak yang hanya bisa dilewati dengan naik kuda. Dari aktivitas menunggang kuda itulah, nama Tunggangan melekat sampai sekarang," jelasnya.

Seiring berjalannya waktu pascakemerdekaan, modernisasi mulai menyentuh jalur bersejarah ini.

Pada era 1970-an, melalui program ABRI Masuk Desa (AMD), jalan setapak yang awalnya tanah, mulai diperlebar dan diubah menjadi jalan makadam (susunan batu).

Sejak saat itulah, kendaraan roda dua dan roda empat, mulai bisa melintas secara bertahap.

Memasuki dekade 1980-an, pemerintah mulai melakukan pengaspalan. Kini, wajah Jalan Gunung Tunggangan telah berubah total menjadi jalur yang mulus, modern, dan aman bagi para pengendara.

"Sekarang, kondisinya sudah jauh lebih baik. Selain jalannya sudah beraspal halus, fasilitas penunjang seperti lampu penerangan jalan (PJU) dan guardrail (pagar pembatas jalan), juga sudah terpasang demi keselamatan pengendara," beber Prayitno.

 

Jadi Nadi Perekonomian dan Wisata

Membentang di atas perbukitan ekstrem dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), Jalan Gunung Tunggangan kini memegang peranan krusial.

Jalur yang memecah pegunungan di Desa Tlogosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan ini, menjadi urat nadi penghubung strategis menuju Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

Bukan sekadar jalur alternatif, jalan tembus tersebut, memangkas waktu tempuh secara signifikan.

Karena pengendara, tidak perlu lagi memutar jauh via Kecamatan Purwodadi.

Keberadaan jalur ini, otomatis menghemat waktu perjalanan, biaya operasional, hingga konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bagi mobilitas masyarakat antar-kabupaten.

Kepala Desa Tlogosari, Prayitno, menegaskan betapa vitalnya kontribusi jalan ini terhadap perputaran roda ekonomi dan sektor pariwisata di kedua wilayah.

"Jalan ini adalah akses utama, yang sangat penting bagi sektor pertanian dan perkebunan warga. Selain itu, juga jalur pariwisata strategis. Wisatawan dari Malang yang ingin menuju Gunung Bromo via Kecamatan Tutur dan Tosari, rata-rata memilih lewat sini," terang Prayitno.

Namun, di balik perannya yang strategis, para pengguna jalan dituntut untuk ekstra waspada.

Kontur geografi wilayah Pasuruan yang berbukit, membuat jalur ini memiliki karakteristik medan yang sangat menantang.

Pada salah satu titik di Desa Tlogosari, terdapat tanjakan ekstrem berbentuk leter "S" dengan tikungan tajam sepanjang 200 meter.

"Tanjakannya sangat ekstrem, dengan elevasi kecuraman mencapai 70 hingga 75 meter. Karena medan yang berat ini, kecelakaan lalu lintas tunggal cukup sering terjadi, terutama menimpa kendaraan besar seperti truk dan pikap bermuatan," ungkap Setiawan, seorang pemuda setempat.

Masalah kendaraan mogok atau tidak kuat menanjak, menjadi pemandangan yang hampir ditemukan setiap hari.

Beruntung, kepedulian sosial warga setempat sangat tinggi. Sejumlah pemuda desa yang tergabung dalam kelompok Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas (Supeltas), bersiaga dari pagi hingga malam, di titik rawan tersebut.

"Jika ada kendaraan yang tidak kuat menanjak, tim Supeltas di lokasi langsung bergerak cepat mengganjal roda dan membantu mendorongnya. Bahkan jika diperlukan, kami bergotong-royong menarik kendaraan tersebut, dengan bantuan armada lain hingga berhasil mencapai puncak," tambah Setiawan.

Menyadari besarnya volume kendaraan dan pentingnya fungsi Jalan Gunung Tunggangan, pemerintah desa bersama warga dan pengguna jalan, menaruh harapan besar kepada pemerintah daerah.

Mereka berharap, adanya peningkatan sarana dan prasarana penunjang keselamatan jalan yang lebih memadai, baik di wilayah yang masuk otoritas Kabupaten Pasuruan maupun Kabupaten Malang. (zal/one)

Editor : Jawanto Arifin
#Kolonial Belanda #jalan #sejarah #wisata #Tutur