BERDIRI kokoh di Desa Brabe, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, Dam Pekalen bukan sekadar bangunan pembendung air biasa.
Bangunan tersebut merupakan saksi bisu kejayaan industri gula di Kabupaten Probolinggo pada masa kolonial Belanda.
Hingga kini, bangunan yang didirikan sekitar tahun 1825 ini, tetap menjadi pilar utama sistem pengairan di wilayah setempat.
Sejarah mencatat, pembangunan Dam Pekalen bermula dari ambisi pemerintah kolonial, untuk mengoptimalkan potensi perkebunan tebu sebagai komoditas ekspor utama.
Proyek besar ini direncanakan secara mendetail, di mana ketersediaan air menjadi kunci utama kualitas tebu yang dihasilkan.
Mantan Juru Pengairan Dam Pekalen, Satro, 64, menceritakan, bendungan ini dirancang dengan satu pintu utama, yang membendung hulu Sungai Pekalen.



Air kemudian dialirkan ke sisi kiri dam, yang dilengkapi delapan pintu air pembagi untuk mengatur debit air menuju lahan-lahan perkebunan.
“Pembangunan Dam Pekalen, memang tidak lepas dari strategi Belanda dalam menggenjot produksi gula nasional kala itu,” jelas Satro.
Pada masa awal operasionalnya, dam yang juga dinamai Dam Wolu atau Dam Delapan ini, memiliki luas baku sawah mencapai 6.696 hektare.
Jangkauan irigasinya sangat luas. Mencakup lima kecamatan sekaligus. Yakni Maron, Pajarakan, Banyuanyar, Gending, dan Tegalsiwalan. Sistem pengairan yang terintegrasi ini, menjadi “nyawa” bagi pasokan bahan baku di dua pabrik gula besar, PG Gending dan PG Pajarakan.
Keberhasilan kolonial dalam memetakan jaringan irigasi dari hulu hingga hilir, terbukti sangat efektif.
Dari saluran utama ini, air didistribusikan kembali ke dam-dam pembagi yang lebih kecil.
Hingga menyentuh pelosok desa dan memastikan pemerataan pengairan untuk kebun-kebun rakyat maupun milik perusahaan.
“Irigasi dari hulu saat itu, memang sudah diperhitungkan dengan sangat matang. Tak heran, jika Probolinggo kemudian dikenal memiliki hasil produksi gula yang sangat menjanjikan pada masanya,” tambah Satro.
Hingga saat ini, Dam Pekalen tetap menjadi bukti otentik, betapa pentingnya peran Kecamatan Maron sebagai pusat kendali air.
Keberadaannya tidak hanya mewariskan infrastruktur fisik. Tetapi juga, sistem tata kelola air yang masih menjadi tulang punggung bagi sektor pertanian di Kabupaten Probolinggo.
Bertahan di Tengah Modernisasi
Di balik struktur orisinalnya yang kokoh sejak zaman kolonial, Dam Pekalen di Desa Brabe, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, kini tengah bertransformasi.
Bukan lagi sekadar peninggalan sejarah, bendungan ikonik ini terus bersolek dengan teknologi modern, demi menjawab tantangan pengairan yang kian kompleks di era industri dan pemukiman saat ini.
Petugas Operasional Bendungan, Ahmad Shiddiq, 38, mengungkapkan meski konstruksi utama tetap dipertahankan keasliannya, sejumlah pembaruan krusial telah dilakukan.
Salah satu perubahan paling mencolok, terlihat pada delapan pintu air pembagi, yang kini telah dipagari dan diberi atap pelindung. Tujuannya, mencegah kerusakan akibat cuaca maupun tangan jahil.
Tak hanya fisik, sistem operasional pun kini lebih efisien. "Dari delapan pintu air, lima di antaranya sudah menggunakan tenaga listrik untuk percepatan buka-tutup. Sementara tiga lainnya, tetap dioperasikan secara manual," jelas Shiddiq.
Selain itu, pemasangan kisi-kisi besi (screen) pada bendungan utama, menjadi pertahanan baru.
Untuk menyaring material sampah dan batang pohon yang terbawa banjir bandang dari hulu Sungai Pekalen.
Pembaruan teknologi ini, menjadi sangat vital mengingat fungsi Dam Pekalen kini jauh lebih luas.
Jika dahulu hanya difokuskan untuk perkebunan tebu kolonial, kini airnya menjadi urat nadi bagi areal pertanian masyarakat umum di lima kecamatan. Mulai dari Maron, Pajarakan, Banyuanyar, Gending, dan Tegalsiwalan.
Namun, di balik modernisasi tersebut, tantangan besar membayangi. Berdasarkan data tahun 2026, luas baku sawah yang dialiri Dam Pekalen terus menyusut menjadi 6.449 hektare.
Pesatnya pembangunan kaplingan, perumahan, hingga proyek strategis nasional, seperti jalan tol menjadi penyebab utama hilangnya lahan-lahan produktif tersebut.
"Wilayah irigasinya masih sama. Namun, luasan lahannya berkurang karena alih fungsi," tambah Shiddiq yang telah mengabdi di sana sejak 2013.
Keberadaan Dam Pekalen saat ini, menjadi simbol ketahanan infrastruktur. Di satu sisi, bangunan tersebut harus terus dimodernisasi. Supaya, tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Namun di sisi lain, bangunan ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga lahan pertanian yang tersisa.
Agar distribusi air tetap memiliki makna, bagi kedaulatan pangan di Kabupaten Probolinggo. (ar/one)
Editor : Jawanto Arifin