Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perang Kemerdekaan Titik Balik Suram Jalur Trem Uap di Probolinggo: Tinggal Kenangan, Akhir Perjalanan Stasiun Jati

Inneke Agustin • Minggu, 26 April 2026 | 09:19 WIB

 

LAWAS: Foto udara sejumlah kereta api di Station Djati milik Staatsspoorwegen (SS) dan Station Djati milik Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM) pada masa kolonial
LAWAS: Foto udara sejumlah kereta api di Station Djati milik Staatsspoorwegen (SS) dan Station Djati milik Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM) pada masa kolonial

 

PROBOLINGGO, Radar Bromo-Perang kemerdekaan menjadi titik balik suram bagi keberlangsungan jalur trem uap milik Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM) di wilayah Probolinggo.

Sejumlah lintas yang sebelumnya aktif menghubungkan kawasan industri dan pelabuhan, perlahan mangkrak.

Bahkan, sebagian rel terpaksa dicabut akibat kerusakan dan kondisi keamanan yang belum stabil pada masa itu.

Berdasarkan catatan Pantja Raja edisi 15 Juni 1946, upaya pemulihan sempat dilakukan dengan membangun kembali jalur kereta api pada segmen Sebaung–Kraksaan.

Namun, tidak semua lintas bernasib sama. Jalur Probolinggo–Gending Baru, misalnya, belum juga tersentuh pembangunan hingga pertengahan dekade 1950-an.

Akibatnya, operasional kereta api di jalur tersebut praktis terhenti dan tidak dapat berjalan normal hingga memasuki era 1960-an.

Memasuki dekade berikutnya, geliat transportasi berbasis rel di kawasan ini semakin meredup.

 

Data dalam Statistik Kotamadya Probolinggo 1980 mencatat bahwa sejak 1978 tidak ada lagi kereta api penumpang yang diberangkatkan dari Stasiun Jati.

Salah satu penyebab utamanya adalah jarak stasiun yang terlalu dekat dengan Stasiun Probolinggo, sehingga dinilai tidak lagi efisien untuk operasional.

Hal ini diperkuat oleh kesaksian Seno Hariyanto, 68 mantan pegawai PT Kereta Api Indonesia (KAI), yang tinggal di sekitar bangunan bekas Stasiun Jati.

Ia menuturkan bahwa sejak 1976, stasiun tersebut sudah tidak lagi beroperasi karena minimnya jumlah penumpang.

“Penumpang yang naik dari sini bisa dihitung dengan jari. Kadang ada, kadang tidak sama sekali. Jadi kereta juga sering tidak berhenti, langsung melanjutkan perjalanan,” ujarnya.

Menurut Seno, selain penumpang, Stasiun Jati dahulu juga melayani aktivitas bongkar muat barang.

Beberapa komoditas yang pernah diangkut antara lain hasil palawija, barang pecah belah seperti kendi dan cobek, hingga pupuk urea yang kemudian disimpan di gudang sekitar stasiun.

Namun, seiring waktu, masyarakat mulai beralih ke moda transportasi lain seperti bus dan oplet yang dianggap lebih praktis.

Kendaraan tersebut dinilai mampu menjangkau lokasi tujuan secara langsung tanpa harus bergantung pada titik stasiun.

“Kalau kereta api tidak bisa berhenti sembarangan. Harus di stasiun. Sementara bus atau oplet bisa langsung dekat ke tujuan, jadi lebih dipilih masyarakat,” jelasnya.

Kini, jejak kejayaan Stasiun Jati nyaris tak terlihat. Bangunan stasiun telah beralih fungsi menjadi rumah tinggal, sementara sebagian rel lama terkubur di bawah permukiman warga.

Perlahan, keberadaannya hanya tersisa dalam ingatan dan cerita para saksi hidup.

Seno juga mengenang bagaimana operasional kereta api pada masa itu masih sangat sederhana.

Komunikasi antarstasiun dilakukan menggunakan sandi Morse, sehingga setiap petugas diwajibkan memahami dan menghafalnya.

Sementara itu, lokomotif yang digunakan masih berbahan bakar uap, dengan sumber energi dari batu bara, kayu, atau arang.

“Kereta dulu jalannya pelan. Dari Probolinggo ke Leces saja bisa berjam-jam. Kalau bahan bakarnya habis, harus berhenti untuk diganti dulu. Biasanya sebelum habis, lajunya sudah melambat,” kenangnya. (gus/one)

Editor : Muhammad Fahmi
#uap #pbsm #stasiun jati #trem #probolinggo